Langsung ke konten utama

Untukmu Bidadari


Untukmu Bidadari



Malam ini aku tatap bulan bersinar indah
Merasakan sentuhan lembut nocturno malam
Sepoi membelai tiap pori kulit ini
Cahaya temaram menuai nyaman walau berselimut gelap nan mencekam
Tetap saja aku tatap wajahmu lewat pantulan cahaya bulan

Wahai bidadari di ujung kesunyian

Izinkan aku menggapaimu
Membelai rambutmu
Mengusap setiap peluh dan air ata diwajahmu
Mengecup keningmu dengan kehangatan
Dari hati..

Wahai bidadari yang sedih berteman sendiri

Tetaplah langit malam ini,
Telah aku sulap langit itu
Hingga muncul bulan yang memantulkan cahayamu
Merona memancarkan wajahmu
Dan lihatlah, bintang-bintang berkedip menyapamu
Binatang bersama bernyanyi inginkan bahagia di hatimu
Mereka semua bersamaku ingin senyummu

Lalu saat esok fajar datang mengganti malam
Aku akan sampaikan pada ayam di ujung desa ini
Untuk datang padamu
Mengucapkan selamat pagi padamu
Atau bahkan membangunkanmu, membuatmu terjaga dari mimpi burukmu
Kemudian,
Mentari pagi akan membelai wajahmu
Dengan hangat dan lembutnya cahaya sucinya
Menyadarkanmu bahwa ini dunia,
Nyata dan harus kau nikmati.

aku adalah aku
bukan pungguk yang hanya bisa menatapmu
aku adalah jawara
yang akan datang membawa panahku,
menyelamatkanmu
dari kelamnya nafsu dunia
membawamu pergi jauh
menapaki jalur yang terjal
untukmu menuju nirwana

jangan menangis bidadariku

dedaunan, rumput dan jejak kaki kehidupan
tak akan rela bila hanya luka yang kau cerna
tersenyumlah,
denganmu mereka akan hidup sebagai keindahan
denganmu mereka akan jaya dengan kehidupan

saksikan aku bidadariku,
detik ini,
aku ucapkan janji padamu

aku mencintaimu
tersenyumlah bidadariku

Postingan populer dari blog ini

(cerpen) maafkan aku yang pergi meninggalkanmu

oleh Jaka Tarub pada 29 November 2010 jam 18:40 reQuest dari Aziza Little Maganda Masih pagi sekali, udara masih sejuk kabut guung telomoyo an merbabu masih melekat menyusup setiap sudut kota salatiga, kota kecil nan alami, indah nan menyegarkan, matahari belum tampak, hanya saja sinar indahnya membuat kokok ayam terbangun subuh tadi, perlahan kabut mulai berganti menjadi embun yang menetes tiap daun tiap dahan juga rumput rumput dipinggiran jalan.. segar sekali langkah kaki pasti menyusuri jalan tentara pelajar penuh ksemangat untuk mencari cahaya masa depan, langkah kaki ang tak kunjung lelah, keringat masih tetap berselimut diantara baju usangnya, padahal waktu masih menunjukan pukul 06.00 tapi langkah kaki tak akan berhenti, semangat.. -- suasana kampus masih sepi, masjidpun sepi hanya beberapa satpam yang berpakaian apa adanya dan beberapa tukang kebun membersihkan sampah disekitar halaman, kampus mungil nan indah.. kampus yang menjajnjikan masa depan cerah, kampus y...

puisi (fitnah itu)

fitnah itu Aku memang bukan orang baik, Tapi tak seburuk itu kamu memperlakukanku Aku ini buaya Tapi aku ini tetap punya hati untuk mengukur kasih sayang Aku ini makhluq Allah Tapi bukan penyembah makhluk yang lain Andai aku salah Katakan padaku Jangan kau katakan pada orang yang tak tau menahu tetap saja perkataan itu tak baik untukku Coba ceritakan Dengan pelan dan penuh kebenaran Bukan tangisan yang seharusnya kau keluarkan Mraung raung, Sudahlah, aku sudah cukup untuk menerima semua ini, buatku semua Apa aku harus diam? Sabar dan hanya sabar? Atau aku harus berteriak mencoba meembenarkan Naifkah aku bila ku berkata benar Bodohkah aku bila aku tetap tersenyum? Huh. Aku kira aku akan melakukanya Berbuat yang benar Melakukan yang benar pula Agar aku tak disalahkan lagi, Menjadi kambing hitam dari semua kebohonganmu,

cerpen islami (ustadz muda itu..)

                ustadz muda itu...            Udara malam semilir menyapu dan menyapa mushola Al-Hidayah, mushola kecil dipinggiran kota Ungaran yang sudah 2 tahun lalu berdiri. Lampunya redup tapi cahaya alami dimushola itu seakan tak ada habisnya menerangi jalanan didepanya, bukan karena lampunya tetapi karena Allah yang selalu menerangi setiap baitN ya.             Mungkin inilah cahaya yang selalu Allah jajikan untuk setiap tempat dimana ada orang-orang yang mau bersujud kepadaNya.             Langit begitu cerahnya menyajikan jutaan bintang sebagai wujud keagungaNya, pelan suara syair Ilahi senada mengalun lirih dari seorang muda, sendiri.. beberapa saat keamudian dia beranjak, “Allah....huakbar Allah....huakbar..” suaranya melengking keras dengan speaker ...