Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2011

Janji Sang Mentari Senja (Parangtritis)

"tempat ini yang mempertemukan kita" "iya, apa karena itu kamu ingin kita bertemu untuk yang terakhir kali di tempat ini?" "mungkin..... maafkan aku ya.." "tak ada yang perlu dimaafkan, kita punya jala yang berbeda bukan?" "iya..." ombak-ombak besar pantai laut selatan begitu menggebu ingin mencapai darata lebih jauh, saling berlomba bersama ombak kecil lain, dan terkadang sang ombak kecil harus mengalah menmbiarkan sang besar menacapai lebih dulu. angin sepoi pun menyapu wajahku, juga kerudungnya yang menghias cantik di kepalanya. setapak demi setapak aku lalui bersamanya, berjalan pelan, mungkin untuk yang terahir kali hal ini kami lakukan. sesekali sisa-sisa deburan ombak menyapa kaki kami berdua dan menghapus bekas tapak kaki mungil kami. hilang seperti sedia kala, kembali menjadi susunan pasir baru,seperti kisah kami. "semoga kamu bahagia dengan dia" ucapku lirih, berharap dia tak mendengarnya. ...

.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . tak pernah berujung walaupun itu sebuah titik

(Naluriku Mati Di Hadapanmu)

(Naluriku Mati Di Hadapanmu) Bak danau terbentang luas nan megah Menyisir cahaya temaram di tengah malam Memantulkan kilauan bintang Ah, bukankah danau tetap saja begitu? Seperti biasa yang tiada dusta pada mata yang menatapnya Bak bunga mekar nan merekah Menebar harum pada setiap sisi kehidupan Memberi indah dalam pekat Namun, bukankah seperti itu wujudnya? Seperti musim lalu, tak ada cerca pada kecantikannya Bak tebaran bintang dan terangnya cahaya bulan Memberi cahaya saat gelap datang Membuka setapak yang harusnya tak tampak Menorehkan warna pada hitamnya kehidupan Tetap sama, tak ada yang berbeda.. Lalu kenapa? Bukahkah seperti itu kenyataanya Ah, memang naluriku mati di hadapnya.. Jaka tarub at’ 07 Sept ‘11

Buah Ketawadlu'an [sepenggal kisah cinta pesantren]

"neng... ini pesanan neng lia" "oh apaan tuh?" "sate ayam neng, " "kamu ini lupa apa memang tidak mendengar kang?" "maaf neng.. tap.." "aalah... ngomong kang kalau tidak tau, kan tadi saya bilang belikan sate kambing" "ma.." "ya sudah lah kang.. ..bikin bete aja"  ahmad meninggalkan neng aulia, putri kiyai dimana ahmad nyantri sekarang. walaupun dibentak beberapa kalipun ahmad tetap sabar. mungkin karena ini adalah salah satu bentuk rasa ta'dzim ahmad kepada guru dan keluarganya. **** malam hari di serambi aula. "kamu kenapa murung mad?" tanya fahru yang selesai shalat malam melihat temannya melamun sedih "ehh. oh.. nggak apa-apa dar.." jawab ahmad gugup, kaget. ternyata lamunannya menarik perhatian gaidar, panggilan akrab fahru. "hahaha.. kamu ini aneh mad, sudah kelihatan di wajah murungmu kok masih saja ngelak, " tawa fahru, melihat kegugupan ahmad...

cinta = tai kucing rasa coklat

kalau cinta sudah melekat, tai kucingpun jadi terasa coklat . itu status yang aku tulis tengah malam tadi, sekedar ingin tau respon dari pesbukersaja, namun sayang tak ada yang merespon. tapi bukan berarti tak ada komentar sama sekali, ada salah satu akun fb yang memberi komentar 'menakutkan bgt'. apakah seperti itu keberadaan cinta itu? yuk, sedikit berpetualang dengan kalimat CINTA... kali ini sedikit aku akan mengurai kalimat 'cinta' dari berbagai sudut pandang. menurut beberapa ahli percintaan (semua manusia) cinta itu sesuatu yang universal, relatif dan komplek. kok bisa? cinta itu sebuah perwujudan dari rasa kasih sayang yang tulus terhadap sesuatu, baik itu manusia, barang atau bahkan sesuatu yang tak nampak. lalu apa perwujudan dari cinta itu sendiri? apakah kedamaian, keihlasan, kesetiaan, atau kesabaran? yang jelas keberadaan cinta akan selalu menimbulkan kebaikan. sesuatu yang 'kadang' kita sebut cinta namun menimbulkan kemadzar...

aku tak ingin menikmati lebaran kali ini

saat hati memberikan rasa percaya saat jiwa menutup cela yang telah bermasa-masa mencoba bangkit dari luka berusaha takjub akan cinta dan setia tapi.. saat semua yang kulakukan hanya untukmu semata ternyata kebohongan yang kau hadiahkan dusta dan peghianatan. detik ini, 86400 detik saat takbir akan berkumandang aku merasakannya luka dan luka perih yang sangat menyakitkan menit ini, 1440 menit sebelum maaf menyucikan hati aku rasakan kekecewaan darimu gadis yang sangat aku percaya hari ini, sehari sebelum hati ini terbuka karena dosa aku ikrarkan.. aku tak akan memaafkanmu. . . selamanya

wahai gadis suci

wahai engkau yang memiliki hati untukku diamlah dan  renungkan sejenak saat hatimu jatuh bersimpuh ketika merasakan kelembutanku ketika jiwamu tunduk menaruh hati padaku sadarkan hatimu bahwa aku tak pantas buatmu redakan gemuruh hatimu karena jiwamu terlalu lemah untukku karena nanti, bila hatimu luluh di pelukanku kekecewaan pasti menghantuimu.... bila nanti sampai saatnya kaupun akan sadar betapapun kau kuat hadapi hidupmu tetap saja kau tak akan kuat menghadapinya maafkan aku... biarkan aku hidup dengan cinta yang rapuh ini sendiri...

ini hanya fatamorgana belaka

laksana padang duri menyelimuti gurun kehidupan tiap langkah yang ku jalani menimbulkan luka hingga membuat sungai darah sepertinya berat sekali ingin melewatiya lalu menggapai tepian gurun ini kemudian menikmati indahnya perjuangan tapi sepertinya itu tak mungkin gurun ini terlalu luas dan ganas untuk aku lewati duri-duri itu terlalu tajam untuk aku tempuh dengan kakiku selangkah saja aku injakkan kakiku sakit dan perih aku rasakan ah mungkin ini hanya hayalanku yang menganggap hidup ini terlalu sulit untuk dilalui ini hanya fatamorgana belaka

a tribute to my dad

entah berapa kilo kakimu melangkah menghabiskan jengkalan tanah di setiap penjuru mengukir ratusan sejarah dalam kehidupan mencetak rekor keabadian dalam jiwa raga saat peluh datang kau biarkan mengalir membasahi dahi, dagu bahkan bajumu kau tak menyekanya namun kau katakan pada setiap tetes itu 'bantu aku menjadi saksi kelak' kini... semua itu akan aku jadikan prasasti dalam hidupku menjadi semangat untuk perjuanganku meraih segala yang menjadi inginku terimakasih ayah...

rumah kolong jembatan

"bunda kenapa rumah di bawah jembatan?" tanya si kecil kepada ibunya "adek, tau artinya apa jembatan di atas kita ini?" "tidak bunda" "jembatan itu menandakan ikatan persahabatan" "maksudnya?" "tidak mungkin dua tempat yang terpisah ini bersatu tanpa adanya jembatan ini" "berarti kita tali persahabatan ya bunda.." "satu lagi yang adek harus tau, dimanapun rumah kita, itu adalah surga kita"             "iya bunda, rumaku surgaku" sang ibu tersenyum manis, mengusap pipi gadis kecilnya kemudian menciumnya lama sekali *** ingatannya masih kuat, tiga puluh tahun silam ketika pipinya dicium manja oleh seorang yang sangat ia cintai. mengikat sejuta kenangan manis yang tak akan ia lupakan selamanya. matanya masih kuat menatap ruang ruang sempit dibawah jembatan, melihat anak-anak yang bermain dengan perahu yang dibuat dengan bekas botol air mineral yang sudah usang, dikaitkan dengan seutas tali semba...

aku temukan air matamu siang ini

ketika kusapa engkau dalam kemelut hatimu menyapa sejenak hatimu yang layu tanpaku menatap wajahmu dalam-dalam mencari satu ucap dari bibir manismu aku diam manahan gejolak rindu yang mencaciku lalu kau mendekat dan memelukku kau menangis... aku masih menahannya tapi, saat erat pelukanmu di tubuhku akupun tak kuasa aku... menangis... bahagiaku dan bahagiamu menyatu luapan rindu yang lama tertahan pecah saat bibirku mengecup keningmu aku mencintaimu sayang...

aku tak menemukanmu di sampingku saat aku terjaga

tadi malam kau temani aku dengan dongeng manismu kau usap keningku dengan lembut bahkan kau kecup seraya ungkapkan kata sayang kau berjanji akan menemaniku sampai pagi datang tapi pagi ini, kau tak ada kau ingkari janjimu.. tapi, benarkah tadi malam itu kamu? atau hanya penggalan mimpi yang menghadirkan kamu? sebab aku yang terlalu merindukanmu entahlah, tapi pagi ini, aku merasa sepi biasa berlalu dengan ketukan pintu di luar kamarku suara langkah sepatumu, bahkan belaian manja membangunkan aku.. aku benar2 merindukanmu... dan saat matahari mencapai se-galah aku baru sadar, engkau memang telah pergi meninggalkanku.. mungkin untuk selamanya.. [maafkan aku yang selalu merindukanmu]

entahlah, sakit ini tak bisa aku gambarkan

menelusup dalam relung jiwa teradalam meneggelamkan kehangatan dari dasar kalbu terkungkung kaku tak berdaya beku.. hati telah lama mati karena dia yang telah pergi kadang ingin kembali mencari hangat di beberapa hati namun semua itu luka luka karena dia karena penghianatan yang tiada kira dia yang buat hatku mati beku dia yang buat hatiku sakit pedih ................... entahlah, sakit ini sulit aku gambarkan

Jack The Playboy

“wahai bidadariku maukah kau mengarungi samudra bersamaku?” “gombal banget sih” “ini bukan gombalan bidadariku, ini adalah kejujuran hati” “tapi….” “aku akan buktikan cintaku padamu saat ini juga” “apa yang akan kau lakukan” “loncat dari gedung lantai 4 agar kau percaya kepadaku” “jangan!! Aku percaya dan aku mau menjadi kekasihmu” “terimakasih sayangku” “tapi, bukankah kamu playboy? Aku takut menjadi korbanmu” “bukankah setiap orang bisa berubah” “…” Jaka, begitu dia dipanggil di kampus, pria dengan wajah pas-pasan, tinggi yang tidak terlalu bahkan penampilan yang alakadarnya. Namun, setiap langkahnya, kemana dia berjalan selalu ada seorang gadis di sebelahnya dengan bergelanyut di lengan kanan atau kirinya. Siapa sangka cowok SC (sok cool) dan SK (sok keren) ini menyandang predikat playboy tersukses sekampus bahkan namanya juga melejit dikampus tetangga, di SMA bahkan SMP sekitar kota salatiga. Sebenarnya tak ada yang istimewa dengan jaka, fis...

SEPUCUK SURAT INI MASIH AKU SIMPAN

  Karangjati 26 oktober 2006 Kepadamu yang jauh disana PARISTIN Ibarat air tak akan selalu bersama sungai, ibarat daun tak akan selamanya di dahannya. Tapi suatu saat ketika rasa rindu makin menggebu, air akan melewati laut menjadi gumpalan mendung dan bertemu sungai melalui hujan, daun akan mengakar dan tumbuh kembali menjadi daun kecil yang selalu menemani pohonnya, Apa kabar sayang..Bagaimana perjalanmu kali ini? Pasti sangat melelahkan.. namanya juga trans pulau, jawa dan Sumatra tentunya, Sayang……… ketika kamu baca surat tulisan ini, pasti kamu sedang dalam tengah  perjalanan, kalau aku boleh tebak, saat ini mungkin masih di tengah laut, lautnya pasti luas, hmmm.. tapi taukah engkau, bahwa luasnya laut itu tak seberapa luas bila dibandingkan cintaku padamu, aku kangen kamu sayang…. Duh kok aku jadi nangis, hmmm.. biar air mata ini menjadi penghapus sesak dada yang sejak kamu tinggalkan menyesakkanku. Jangan kamu tanya aku sedih at...

Ramadhan kali ini aku menemukan jejakmu

Ramadhan kali ini.. setelah lama dia menghilang, akhirnya kutemukan juga... masih tetap sama.. bukan hatinya tapi hatiku hati yang pernah kuat, hati yang pernah mantab, hati yang pernah menjadi raja Dalam jiwanya.... setelah lama dia tak kutemukan kini dia datang, hanya saja... Tuhan memberikan situasi yang berbeda.. tak sama seperti 5 tahun yang lalu. tapi dia tetap cantik, seperti saat wajah itu ku kecup dalam remangnya Ramadan 5 tahun lalu.. tetap indah tepan cantik tetap harum...... tapi kenapa Ramadhan?? Ramadhan dulu, aku dapatka dia.. Ramadhan dulu pula kau kehilangan dia.. dan ramadhan hari ini... aku menemukan jejaknya.... kenapa harus Ramadhan???

kau memang anjing

katakan saja kau ini bajingan daripada kau tutupi dengan kesopanan katakan saja kau ini anjing daripada kau pakai topeng domba  kemarin kau pakai hatiku untuk menutupi lukamu kau sandarkan resahmu di pundak kuatku namun kini, kau cabik-cabik hatiku kemudian kau remukkan pundakku ah kau memang anjing atau bahkan serigala betina yang telah puas menerkamku dengan kasih sayang dan ketulusan dulu aku menyeka lukamu  saat kau terkapar, saat pula kau tertatih aku berikan segenggam hati padamu padahal itu hati yang tersisa punyaku dulu saja kau katakan akan menjaga hatiku tapi kini kau campakkan begitu saja semuanya bodohnya aku tak membuka topengmu ahh.. kau emang anjing bertopeng!!

aku benar-benar kesepian

aku benar-benar kesepian, menengadah sendiri di tengah kegelapan meratap pelan antara wajah wajah kelam sepi aku rasakan di tengah keramaian bukan diri yang tak ada kawan namun hati yang gersang ikut menyerang benar benar sunyi, dimana dia yang biasa menemani yang kadang berbagi dimana dia yang selalu menjadi kawan hati yang kadang ikut bernyanyi dalam sepi aku benar-benar kesepian

Bangkit..!!!!

Ahirnya aku temukan juga kesendirian yang mencekam ini, Kesendirian yang menghantui segenap isi hati ini, Dulu... Ya dulu, tapi tidak sekarang. Saat ini kesendirian sangat menyenangkan, Menapaki jalur terjal kehidupan Mencampur keringat berbalut dengan lelah, Hanya untuk satu tujuan. Kesuksesan. Aku tak peduli dengan rasa ini, Aku tak peduli dengan cinta, sayang bahkan pengorbanan. Aku adalah diriku Sendiri yang menjadi mimpi berbaur dengan ihtiyar. Aku adalah Aku bukan dia bukan pula orang Yang selalu meratab dalam kondisi yang berbeda.             Kemarin ada dia, Ada mereka dan ada semuanya, Kini aku tak butuh. Yang aku butuhkan Adalah aku dan semangatku. Aku akun hancurkan sepi ini menjadi jaya yang dulu pernah tertunda. Aku akan bungkam senyap yang menakutiku, Aku ganti dengan keberanianku menerjang badai. Sejenak merenung, Menyusun asa yang koyak dimasa lalu, Menata serpihan rencana masa lalu Yang remuk karena kebodohank...

apa salahku?

aku diam.. kau bilang aku tak perhatian aku perhatian.. kau bilang aku banyak bicara aku tersenyum.. kau bilang aku meledekmu aku cemberut.. kau bilang aku tak suka aku layani.. kau bilang aku memanjakan aku acuh.. kau bilang aku tak mengerti apa salahku.. sampai kau meninggalkanku? apa karna aku ini bukan dia?

Jodoh Di tangani Ibu

”Pokoknya kamu harus menikah dengan Anik” kata Ibu setiap aku pulang kerja ”bu, tapi aku tidak suka dia...” bantahku ”suka atau tidak bukan kamu yang nentuin” ”tapi bu, aku tidak cinta dia sama sekali” ”cinta itu bisa datang nantinya” ”........” Selesai, ya itu jawaban terakhir dari Ibu setiap aku melangsungkan protes terhadap kebijakan beliau yang melanggar hak asasiku. Tapi bagaimanapun beliau Ibuku yang harus aku ta;ati dan patuhi. Pulang ke rumah adalah suatu hal yang paling aku benci, apalagi setiap ada si Anik, anak gadis dari keluarga sahabat Ayah dan Ibuku. Kata Ibu aku sudah dijodohkan sejak aku belum dIbuat, apa maksudnya? Kata Ayah ”dulu waktu kami sahabatan kami pernah berjanji akan menjodohkan anak kami” huft... hidupku ternyata sudah dipatok oleh Orang Tuaku sejak aku belum dIbuat. Sebenarnya si Anik tidak begitu jelek, mungkin kalau dinilai sekitar 90 lah atau gampangnya dia di atas rata-rata gadis biasanya. Tapi sayang aku tidak bisa jatuh cinta...
Dibalik cendana itu aku melihatmu sendiri dalam sepi hanya keheningan yg menemani ku lihat auramu yg kosong hingga kerasnya bunyi tak mampu menyadarkanmu bahkan makhluk kecil itu tak berani mengganggumu ada apa dg makhluk Tuhan ini? Resahkah dia? gelisahkah dia? galaukah dia? Knpa sepatah kata pun tak mau keluar dari mulut manisnya? Oh Tuhan... Hanya Kau yg tau isi hatinya berikan dia walau hanya setitik air yg mampu menenangkan jiwanya hingga aura itu kembali cerah secerah mentari yg selalu menyinari alam ini...

biarkan bait ini menemanimu

aku tuliskan kata demi kata menyusun menjadi kalimat kemudian menyatu, berbait-bait... untukmu wahai bidadari menemani kesendirianmu menuangkan bisik dalam senyap lalu saat engkau sedang galau kata-kata ini akan menari di matamu mengajak hatimu bernyanyi lalu terlupa sekejab dan... hilanglah luka itu ini mungkin tak berarti sekilas hanya sederhana  namun indah bila dicerna ingatkah engkau saat mimpi buruk menghantuimu memenjarakan lelapmu memasung nyenyak yang menjadi hakmu saat itulah.... kalimat ini akan datang padamu melelapkan hatimu memulaskan ruhmu dengan susunan yang indah tentunya damailah engkau bidadari izinkan kalimat-kalimat ini menemanimu [untukmu yang selalu ada di hatiku]