”Pokoknya kamu harus menikah dengan Anik” kata Ibu setiap aku pulang kerja
”bu, tapi aku tidak suka dia...” bantahku
”suka atau tidak bukan kamu yang nentuin”
”tapi bu, aku tidak cinta dia sama sekali”
”cinta itu bisa datang nantinya”
”........”
Selesai, ya itu jawaban terakhir dari Ibu setiap aku melangsungkan protes terhadap kebijakan beliau yang melanggar hak asasiku. Tapi bagaimanapun beliau Ibuku yang harus aku ta;ati dan patuhi.
Pulang ke rumah adalah suatu hal yang paling aku benci, apalagi setiap ada si Anik, anak gadis dari keluarga sahabat Ayah dan Ibuku. Kata Ibu aku sudah dijodohkan sejak aku belum dIbuat, apa maksudnya? Kata Ayah ”dulu waktu kami sahabatan kami pernah berjanji akan menjodohkan anak kami” huft... hidupku ternyata sudah dipatok oleh Orang Tuaku sejak aku belum dIbuat. Sebenarnya si Anik tidak begitu jelek, mungkin kalau dinilai sekitar 90 lah atau gampangnya dia di atas rata-rata gadis biasanya. Tapi sayang aku tidak bisa jatuh cinta ketika melihatnya.
Hari ini aku pulang dari kantor dengan kondisi yang terpaksa, terpaksa karena aku harus menemui keluarga Anik untuk kesekian kalinya dan apabila aku menolak aku tidak akan mendapatkan doa dari Ibu. Siapa yang tidak takut bila tidak mendapatkan doa Orang Tua. Secara, ridho Tuhan adalah ridho Ortu juga, kalau aku menolak mungkin Tuhan tidak akan memberikan kebahagiaan kepadaku. Sampai di rumah, keluarga Anik sudah menungguku, tanpa basi-basi aku langsung duduk diantara kedua keluarga sedikit melempar senyum kepada keluarga Anik, tapi tidak ke Anik. Muak aku melihat wajahnya. Kenapa hari gini masih mau dijodohin, andai Anik menolak mungkin tidak terlalu seperti ini kejadiannya.
Pembicaraan dua keluarga yang membosankan, sebenarnya malah mirip reuni semasa muda dulu. Sedikit memberanikan diri memotong pembicaraan, aku meminta izin untuk menuju taman. Orang Tuaku mengizinkan dan menyuruh Anik untuk ikut bersamaku, waktu aku ingin mengajukan keberatan kedua mata Ibuku langsung melotot, akhirnya pasrah juga aku .
Di taman samping rumah aku duduk diantara bebatuan kolam, sambil melempar batu untuk mengusik istirahat si ikan.
”duh kasihan ikannya, tidak salah kena imbas” suara seorang gadis dibelakangku
”iya, ikan ini milikku dan aku berhak untuk melakuan apapun” kataku setengah marah saat aku tau Anik yang mengikutiku.
”hmm.. begitukah?”
”maksudmu?”
”aku tahu, kamu pasti mengira aku menyutujui semua ini, sehingga nada bicaramu dan tatapan matamu padaku sinis sekali” kata Anik tepat sasaran
”jadi?”
”iya, aku juga tidak menyetujuinya”
”tapi kenapa kamu selalu tersenyum dan patuh kepada Orang Tuamu?” tanyaku yang belum mengerti dengan jawaban Anik
Dia duduk di sisi kolam ikan yang lain, melempari ikan dengan potongan roti yang dibawanya dari dalam rumah, lalu mendesah panjang
”mungkin sama seperti ikan ini...”
”......” aku diam menunggu kejelasan darinya
”mungkin apabila aku melawan aku akan mati kekeringan tanpa air, tanpa makan dari orang yang memilikiku”
”iya, kamu benar An..”
”yups, sama seperti katamu, terserah aku mau nglakuin apa sama ikan milikku” lanjutnya
Kami berdua dalam kebisuan, meratapi kesamaan nasib yang kami alami, tapi Anik ternyata lebih dewasa bisa menikmati dan ihlas dengan semua ini, sedangkan aku menyikapi semua ini dengan sikap kekanak kanakan.
