Langsung ke konten utama

cerpen islami (ustadz muda itu..)


 ustadz muda itu...

           Udara malam semilir menyapu dan menyapa mushola Al-Hidayah, mushola kecil dipinggiran kota Ungaran yang sudah 2 tahun lalu berdiri. Lampunya redup tapi cahaya alami dimushola itu seakan tak ada habisnya menerangi jalanan didepanya, bukan karena lampunya tetapi karena Allah yang selalu menerangi setiap baitNya.
            Mungkin inilah cahaya yang selalu Allah jajikan untuk setiap tempat dimana ada orang-orang yang mau bersujud kepadaNya.
            Langit begitu cerahnya menyajikan jutaan bintang sebagai wujud keagungaNya, pelan suara syair Ilahi senada mengalun lirih dari seorang muda, sendiri.. beberapa saat keamudian dia beranjak,
“Allah....huakbar Allah....huakbar..”
suaranya melengking keras dengan speaker yang tak begitu jernih, tapi suaranya mampu menggetarkan keheningan malam itu. Setelah iqomah, hanya ada beberapa orang yang berjajar dibelakangnya, sholat isyak didirikan sebagai bukti ada ketakwaan dihati mereka yang sholat.
            Berbeda situasi, suasana ramai melengking menjerit, berjoget, berdisko, mabuk, dan lainya terdengar dan terlihat jelas di ujung desa itu, sebuah rumah yang selalu ramai tiap malamnya oleh anak-anak muda yang selalu melampiaskan nafsu duniawi mereka.
            "Asslamu'alaikum mas Ahmad"
sapa seorang yang bersaamaan keluar dari mushola kepada Ustadz yang suara adzannya tadi dicatat oleh jutaan malaikatNya.
"Waalaikummussalam, Bagaimana pak Wahid?"
tanya mas Ahmad kepada salah satu jamaahnya tadi
"kalau boleh, Saya mau ngobrol sebentar mas"
dengan senyum lembutnya mas Ahmad mengangguk
"silahkan pak, bagaimana kalau kita bicara diserambi mushola saja."
"oh iya boleh ha ha, iya dari pada sambil berdiri"
" ha ha ha"
tawa keduanya ringan. Kemuadian keduanya terlibat pembicaraan santai tapi serius, terlihat mas Ahmad banyak menganggukan kepala menandakan ada hal yang baru dimengerti. Setelah beberapa waktu kemudian mereka berdua kembali kekediamanya, sambil berpelukan layaknya saudara sesama muslim, pelan dan lirih ada sesuatu yang keluar dari mulut pak Wahid.
"yang sabar ya mas."
           
Sampai dirumah, mas Ahmad tidak langsung tidur, diambilnya wudlu yang baru, dibasuhnya wajah dan anggota wudlunya seakan mengisyaratkan ingin membuang sejuta beban yang baru ia dapatkan. Setelah melaksanakan dua sholat sunnah wudlu, ia berdzikir, bertasbih dan bermunajat kepada Allah.
"Ya Allah... inikah ujian hambaMu yang rendah ini? hingga fitnah sekejam itupun tertuju kepada aku... AstagfAhmadlahal'adzim."
hening... mas Ahmad pun tertidur seiring tahlil yang ia munajatkan kepada Allah...
            Paginya puluhan orang berdatangan kerumah mas Ahmad, mereka membakar dan merusak segala yang ada dalam rumah tersebut, mas Ahmad belum kembali dari mushola, kemudian beberapa orang mengabari mas Ahmad, yang masih berdzikir sendiri.
"Assalamu''alaikum... "
salam seseorang dari luar mushola.
"Wa'alaikummussalam..silahkan pak.. ada apa ko tidak biasanya pagi-pagi sudah kesini?
tanya mas Ahmad dengan diiringi senyum khasnya.
"maaf mas, sebaiknya anda kembali kerumah segera, para warga mengamuk" dengan nada terbata-bata orang tadi memberitahukan yang sebenarnya, tapi mas Ahmad tidak menunjukkan sikap takut atau bahkan kaget
"terimakasih pak.. mungkin lebih baik saya disini, biarkan warga melampiaskan emosi dulu, biar rumah saya yang menjadi korban"
"tapi mas... mereka.."
"mereka menuduh saya berzina kan pak?
"i..i.iya mas.."
" biarkan saya disini semua sudah saya serahkan sama Allah.. trimakasih atas informasinya pak.."
"sama-sama mas.." orang itu berlalu sambil berguman kenapa dan kenapa.
Satu bulan berlalu rumah kecil tempat mas Ahmad tinggal sendiri sudah hangus, tinggal beberapa puing kayu yang setengah terbakar orang-orang menjadi kalang kabut karena setelah beberapa saat setelah kejadian itu mas Ahmad tak pernah muncul.. kemana gerangan?
            Dua tahun lalu.. ketika pembangunan mushola sedang marak-maraknya.. seakan semua orang mnunjukkan semangat untuk beribadah kepada Tuhan semesta dalam waktu singkat mushola yang diberi nama mushola Al-Hidayah itu berdiri dengan sempurna tanpa kurang suatu apapun..
Sehari dua hari semangat meraka untuk beribadah tetap semngat tapi beberapa minggu selanjutnya hanya terlihat beberapa orang tua dan anak kecil
yang masih tetap berada dimushola itu, sepi dan senyap... kemudian saat semua orang semakin hilang semangatnya muncul pendatang baru yang konon datang dari kota pati sebelah timur kota kudus.. seorang pemuda yang masih lajang yang mengaku pindah karena ingin menyeleseikan skripsinya..
wajah kalem kulit sawo matang santun dan tawadlu' membeli rumah yang tak jauh dari mushola tersebut, ajaib sekejab mushola itu kembali ramai. Karena ternyata mas Ahmad, begitulah warga memanggil pemuda itu, adalah seorang santri juga lulusan pondok di daetah pati juga..
kedatangan pemuda tersebut ternyata mampu menghipnotis para warga untuk menuntup ilmu agama, hingga dengan inisiatif wargq terbentuklah majelis taklim  yang dibuka sejak setelah asyar sampai jam sembilan malam bahkan bapak-bapak yang ingin berdiskusi malah sampai tengah malam..
anak-anak TPQ setelah asyar nanti ba'da maghrib para remaja dan setelah isyak bapak dan ibu-ibu..
            subhanallah.. Islam didaerah itu maju pesat,. segala hal yang dilakukan seakan akan bernafaskan Islam.. dan mas Ahmad.. bagaikan malaikat yang
tiba-tiba diutus tuhan untuk menyadarkan orang orang didaerah itu..
sempurna sekali apa yang ia lakukan...
            tapi mas Ahmad tetaplah seorang manusia biasa tak luput dari yang namanya masalah.. pada suatu ketika mas Ahmad menaruh hati kepada seorang gadis yang ikut dalam bimbimngan majelis taklim yang ia pimpin, namanya Lina dia adalah seorang anak dari pak lurah desa tersebut, hingga tiba saatnya mans Ahmad bermaksud untuk menyuntingnya, ustadz muda itu datang sendiri dan menyatakan maksud baiknya kepada Lina dan pak lurah. Tapi cinta memang tak bisa dipaksakan, Lina menolak dengan alasan bahwa dia sudah mempunyai tambatan hati yang lain. Sedih memang apa yang mas Ahmad rasakan tapi bagaimanapun juga mas Ahmad tetap tegar menghadapinya, walaupun sering terlihat menyendiri dan melamun.
            Beberap saat kemudian tersiar kabar bahwa Lina hamil.. dan yang paling mengejutkan mas Ahmad adalah sasaran dari fitnah tersebut. Secara terang-terangan Lina menyatakan yang menghamilinya adalah mas Ahmad. Masyaallah.. benarkah itu?
                                                            ****   
Setelah semua membaik dan mas Ahmadpun tak pernah kedengaran kabarnya, tersiar kabar tentang apa yang sebenarnya tterjadi, warga menyesal.. pasalnya ternyata yang menghagmili Lina bukanlah mas Ahmad tetapi teman sekampusnya yang sering hura hura dipojok desa tersebut.. banyak warga yang kecewa setelah itu, tapi apa daya mereka.. nasi telah menjadi bubur.. mas Ahmad sudah tidak ada.. kemana gerangan sosok ustad muda itu?
            Sebulan berlalu masyarakat kecewa atas kejadian yang menimpa mereka, mushola yang dulu pernah ramai, kini sepi dari pengunjung, tak ada lagi terdengar adzan, tak ada lagi orang yang berjejual mengikuti pengajian, pada suatu subuh.. saat mata sulit untuk dibuka, saat dingin mentyelimuti msyarakat desa itu,, tiba-tiba terdengar adzan yang tak lain itu adalah suara dari mas Ahmad yang datang lagi.. setelah adzan itu berkumandang tak terdengar lagi pujian atau iqomah..
Paginya semua orang berbondong-bondong mendatangi mushola itu.. tapi ternyata mas Ahmad tak ada disana.. mushola sudah bersih pintu terbuka tapi tetap saja kosong, orang orang terkaget atas hal itu, karena mas Ahmad tak ada... dimana gerangan? Apakah mas Ahmad memang sesosok malaikat yang benar diutus untuk memperingatkan masyarakat didesa itu? Supaya  mereka sadar atas kedzoliman yang mereka perbuat?
Wallahu’a’lam.. yang jelas masyarakat didesa itu kini banyak yang bertaubat, subhanallah....


Jaka tarub J (khoirul walid)

Postingan populer dari blog ini

(cerpen) maafkan aku yang pergi meninggalkanmu

oleh Jaka Tarub pada 29 November 2010 jam 18:40 reQuest dari Aziza Little Maganda Masih pagi sekali, udara masih sejuk kabut guung telomoyo an merbabu masih melekat menyusup setiap sudut kota salatiga, kota kecil nan alami, indah nan menyegarkan, matahari belum tampak, hanya saja sinar indahnya membuat kokok ayam terbangun subuh tadi, perlahan kabut mulai berganti menjadi embun yang menetes tiap daun tiap dahan juga rumput rumput dipinggiran jalan.. segar sekali langkah kaki pasti menyusuri jalan tentara pelajar penuh ksemangat untuk mencari cahaya masa depan, langkah kaki ang tak kunjung lelah, keringat masih tetap berselimut diantara baju usangnya, padahal waktu masih menunjukan pukul 06.00 tapi langkah kaki tak akan berhenti, semangat.. -- suasana kampus masih sepi, masjidpun sepi hanya beberapa satpam yang berpakaian apa adanya dan beberapa tukang kebun membersihkan sampah disekitar halaman, kampus mungil nan indah.. kampus yang menjajnjikan masa depan cerah, kampus y...

puisi (fitnah itu)

fitnah itu Aku memang bukan orang baik, Tapi tak seburuk itu kamu memperlakukanku Aku ini buaya Tapi aku ini tetap punya hati untuk mengukur kasih sayang Aku ini makhluq Allah Tapi bukan penyembah makhluk yang lain Andai aku salah Katakan padaku Jangan kau katakan pada orang yang tak tau menahu tetap saja perkataan itu tak baik untukku Coba ceritakan Dengan pelan dan penuh kebenaran Bukan tangisan yang seharusnya kau keluarkan Mraung raung, Sudahlah, aku sudah cukup untuk menerima semua ini, buatku semua Apa aku harus diam? Sabar dan hanya sabar? Atau aku harus berteriak mencoba meembenarkan Naifkah aku bila ku berkata benar Bodohkah aku bila aku tetap tersenyum? Huh. Aku kira aku akan melakukanya Berbuat yang benar Melakukan yang benar pula Agar aku tak disalahkan lagi, Menjadi kambing hitam dari semua kebohonganmu,