Langsung ke konten utama

cerpen (Alun-Alun Kidul)



Aku Kurang Beruntung (Alun-Alun Kidul)
Malam mulai larut, udara dikota jogjapun mulai dingin, walaupun masih banyak kendaraan berlalu lalang tetapi kabut kaliurang mulai turun menggantikan asap kendaraan yang sejak dari pagi tadi memenuhi jalanan kota jogja, dilangit hanya ada satu bintang yang bersinar, itupun redup, dan bulan hanya terlihat seperti bayang bayang tertutup awan, mendung sudah meruahnya menjadi malam yang senyap dan sedikit pekat, aku masih duduk sendiri dipinggiran alun alun kidul, beberapa pengamen dan pengemis datang silih berganti, memaksaku untuk menyisihkan sdikit rizqi yang ada disakuku walaupun jujur, akupun miris untuk mengeluarkan sedikit uangku, tapi tak apalah, yang jelas aku lillah karena Tuhanku, para pedagang yang berjajar dipinggiran alun alun, mulai ramai dengan kopi panasnya..
Pandanganku masih kosong dengan dua pohon besaer ditengah alun alun ini, dari tadi aku pandangi bebepa orang berjalan sambil menutup matanya dengan selembar kain, berjalan dengan berusaha melewati antara kedua pohon beringin yang umurnya sekitar 100 tahunan itu, aku tidak tau sebenarnya apa yang mereka lakukan itu, bukankah itu seperti permainan anak kecil yang mencari temannya dalam permainan petak umpet? Tapi mereka orang orang dewasa bahkan ada yang sudah setengah baya, mataku sampai tak bisa berkedip setiap ada yang berusaha melewati dan kemudian harus melenceng jauh dari tengah pohon itu, ada yang tertawa, ada yang kembali mengulangnya hingga akhirya pulang karena tak berhasil melewati tengah pohon tersebut, tetapi ada juga yang tertawa kegirangan karena berhasil melewati tengah pohon itu, masih belum faham dengan semua itu, kemudian aku beranikan untuk bertanya pada orang yang menyewakan penutup mata tersebut, dengan senyum yang renyah bapak bappak itu menjelaskan
“sampean punya hajat apa?”
Aku terdiam dan membatin dalam hatiku bahwa bukan hanya hajat tetapi kemelut yang mendalam dihatiku..
“coba sampean mencobanya, mitosnya yang bisa melewatinya akan terkabul apa yang menjadi niat dan ihtiarnya”
Aku tersenyum dan masih berfikir apakah semua ini benar? Apakah ini bisa menyeleseikan gundah gulana hatiku? Apakah ini bisa mengembalikan belahan jiwaku yang sudah pergi?
Setahun yang lalu.. dikota yang sama..
“maafkan aku rul aku tak bisa menjadi kekasihmu lagi”
“kenapa?”
“ada yang lain yang mengisi hatiku?”
“tolong jelaskan padaku.. apa yang kurang dari aku”
“tak ada rul..tak ada..”
“lalu? Apa aku jarang menemuimu disini? Apa karana jarak yang membatasi semua ini?”
“….bukan…”
Aku terdiam saat aulia bidadari yang menjadi separuh jiwaku itu melangkah pergi,meninggalkan aku, bukan hanya raganya tapi cintanya yang telah membuat aku benar benar kesepian.. langkahnya pelan kemudian berlari, aku tau dia tak menangis.. aku tau dia bahagia karena meninggalkanku, sesaat kemudian dia berlalu melaju dengan mobil mewah yang dari tadi menunggunya…
“ya, aku bukan orang kaya.. itu alasanmu..”

Hari ini aku datang lagi ingin mengobati beban rindu ini yang mendalam dan meraja selama setahu ini..
“andai kau masih ada disini disampingku pasti semua yang aku miliki sekarang pasti sangat berarti..”
Batinku sambil aku pandangi mobil yang aku parkirkan dipinggiran jalan..
“mas.. mas..”
Suara bapak penyewa penutup mata ini menyadarkanku dari lamunan panjang..
“mas kok melamun, ayolah coba.. siapa tau apa yang mas inginkan cepat terkabul”
“iya pak terimakasih.. nanti saja saya coba..”
Sesaat sebelum aku berlalu ada seorang gadis yang terlihat berdiri ditempat dimana orang orang memulai untuk melewati pohon keberuntungan itu.. aku perhatikan dengan seksama gadis itu tetap saja berdiri sambil memegang penutup mata beberapa kali dia menutup mata dan menengadahkan kedua tangannya..seakan ada yang ingin ia capai dengan melewati pohon tersebut, juga ragu apakah dia bisa? Tetap saja aku pandangi.. gadis cantik itu berdiri dengan tubuh tingginya, tak menghiraukan banyaknya orang disekitarnya,
Udara semakin dingin mendung yang dari tadi menggumpal dilangit seakan tak tahan menahan semua yang dibawanya.. rintik hujan tengah malam itu mulai turun, tapi gadis itu masih berdiri.. orang orang sudah mulai berlari bergegas pulang takut hujan akan menahanya dialun alun selatan kota jogja ini..selang beberapa menit gadis itu menutup matanya dan berjalan pelan, hujan membasahi pundak dan kepalaku, bukan hanya aku tetapi gadis itu juga mulai basah, aku tak beranjak dan masih menatap laju jalan gerak bidadari itu.. palan palan gadis itu mulai melenceng dari jalur yang dilewatinya… jauh jauh dan tak bisa melewati tengah tengah beringin tua tersebut. Ketika mulai sadar saat membuka penutup mata gadis itu menagis dan terduduk, diamenangis meraung berteriak keras sekali.. aku tau diakecewa denga kanyataanya bahwa dia tak bisa melewati artinya apa yang tadi menjadi doanya tak akan terkabul..
Dia masih terduduk, hujan makin deras..aku sudah basah begitu juga dia.. aku berjalan pelan menuju kearah gadis itu, aku tak tega melihatnya menangis tengah malam diguyur hujan sederas ini..
Disampingnya aku diam, ingin aku mengajaknya berteduh, tangisnya masih belum kelar, aku biarkan dia menangis dengan harapan air matanya mengurangi beban jiwa yang dia rasakan..
Sayu sayup aku mendengar desahnya dalam derasnya hujan..
“Tuhan, apa dia bukan jodohku? Apa dia memang benar benar sudah pergi dariku untuk selamanya, Tuhan kenapa ini tak adil, aku mencintainya tuhan.. “
Kemudian aku sadar, bahwa yang dirasakan gadis ini sama dengan apa yang aku alami.. agdis ini ingin mendapatkan cintanya lagi denga cara melewati pohon pengabulan doa ini..air mataku ikut mengalir beriringan dengan tangisan mendung dilangit sana..aku betul betulmerasakan apa yang dirasakan gadis cantik ini..
Kemudian aku beranikan diri untuk berbicara
“cinta itu suatu hal yang rumit, tak bisa ditebak, dan selalu menjafdi rahasia..”
Dia menatapku tajam dan kemudian berdiri..
“siapa kamu? Apa kamu malaikat yang dikirim tuhan untuk mencabut nyawaku, ayo lakukan bunuh aku!! Bunuh aku!! Cabut nyawaku aku sudah tak tahan hidup”
Gadis itu berteriak memakiku.. meukulku berkali kali kemudian kupeluk tubuhnya beriringan dengan air mata yang tercampur dengan derasnya hujan, aku tak peduli siapa dia dan darimana, yang kutahu adalah dia sama denganku, nasib yang aku alami sama dengan dia, aku dulu memang menangis, aku sakit hatiku remuk, setahun yang lalu aku adalah orang kehilangan segalanya, dan sekarang aku tak akan membiarkan gadis ini menangis aku tak akan biarkan luka dalam hatinya menganga seperti aku dulu..
“hai, kamu benar aku adalah malaikat yang dikirim tuhan untukmu, tapi bukan untuk mencabut nyawamu, melainkan untuk bercerita padamu dan menuntunmu untuk melewati dua pohon besar itu,”
Dia masih menangis.. tesedu, dia terus menangis dalam pelukanku, isaknya membuat aku trenyuh,
“ssstt.. udah nggeh, coba kamu kedua pohon itu, pohon itu begitu dekat, tapi apa pernah mereka berpelukan? Bagaimana rasanya bila itu kita?”
Aku memapahnya untuk duduk dipinggiran alun alun disebuah tempat mirip gapuro, pelan aku berjalan, udara makin dingin ditambah hujan yang tak kunjung reda..kemudian dia duduk beralasakan lantai akupun duduk disebelahnya..
“kamu siapa? Kenapa kamu peduli dengan aku?”
Tanyanya sesaat setelah perlhan hilang isak dan tangisnya
“kamu adalah aku yang dulu”
“maksudmu?”
“sudahlah, sekarang dengarkan baik baik… ” akumenghela nafas panjang
“apa yang kamu lakukan tadi?”
tanyaku padanya..
“aku.. aku…”
“kamu ingin supaya kamu bisa mendapatkan cintamu lagi kan? dengan cara kamu mencoba melewati pohon keberuntungan itu”
“I iya.. kok kamu tau”
“aku sebenarnya ingin melakukanya, tapi setelah aku pikir pikir, mana mungkin takkdir tuhan ditentukan dengan hal yang sederhana seperti itu.. kalau menurutku pohon itu hanya berupa sugesti, yang bisa melewati akan semangat untuk mendapatkan apa yang diinginkanya, sedangkan yang gagal, akan putus asa dan tak meneruskan apa yang menjadi niatnya, ahirnya selamanya dia tak akan mendapatkan apa yang diinginkanya”
dia terdiam perlahan dia mengangguk..
“lalu apa yang harus aku lakukan?”
“kalau kamu ingin mendapatkan cintamu lagi, selalulah berusaha jangan melakukan hal yang tidak perlu seperti ini”
“Bantu aku..”
“ayo bangun, aku akan Bantu kamu melewati pohon itu, dan biarkan sugesti itu membuatmu lebih bersemangat”
aku tuntun dia berdiri didepan ohon itu, memasangkan penutup mata dan erlahan aku tuntun dia untuk melewati tengah pohon itu..
sesampainya disewbrang aku buka pentu matanya, senyum yang begitu indah muncu; dari bibir mungilnya.. seindah langit yang cerah karena mendung dan hujan seakan ikut berlalu menjauh dari atas alun alun kramat kota jogja ini..
seiring senyumnya seiring candanya, dan aku akan selalu berusaha untuk melupakanya, menggantinya dengan harapan baru yang begitu indah dihadapanku..
aku akan berusaha…

Postingan populer dari blog ini

(cerpen) maafkan aku yang pergi meninggalkanmu

oleh Jaka Tarub pada 29 November 2010 jam 18:40 reQuest dari Aziza Little Maganda Masih pagi sekali, udara masih sejuk kabut guung telomoyo an merbabu masih melekat menyusup setiap sudut kota salatiga, kota kecil nan alami, indah nan menyegarkan, matahari belum tampak, hanya saja sinar indahnya membuat kokok ayam terbangun subuh tadi, perlahan kabut mulai berganti menjadi embun yang menetes tiap daun tiap dahan juga rumput rumput dipinggiran jalan.. segar sekali langkah kaki pasti menyusuri jalan tentara pelajar penuh ksemangat untuk mencari cahaya masa depan, langkah kaki ang tak kunjung lelah, keringat masih tetap berselimut diantara baju usangnya, padahal waktu masih menunjukan pukul 06.00 tapi langkah kaki tak akan berhenti, semangat.. -- suasana kampus masih sepi, masjidpun sepi hanya beberapa satpam yang berpakaian apa adanya dan beberapa tukang kebun membersihkan sampah disekitar halaman, kampus mungil nan indah.. kampus yang menjajnjikan masa depan cerah, kampus y...

puisi (fitnah itu)

fitnah itu Aku memang bukan orang baik, Tapi tak seburuk itu kamu memperlakukanku Aku ini buaya Tapi aku ini tetap punya hati untuk mengukur kasih sayang Aku ini makhluq Allah Tapi bukan penyembah makhluk yang lain Andai aku salah Katakan padaku Jangan kau katakan pada orang yang tak tau menahu tetap saja perkataan itu tak baik untukku Coba ceritakan Dengan pelan dan penuh kebenaran Bukan tangisan yang seharusnya kau keluarkan Mraung raung, Sudahlah, aku sudah cukup untuk menerima semua ini, buatku semua Apa aku harus diam? Sabar dan hanya sabar? Atau aku harus berteriak mencoba meembenarkan Naifkah aku bila ku berkata benar Bodohkah aku bila aku tetap tersenyum? Huh. Aku kira aku akan melakukanya Berbuat yang benar Melakukan yang benar pula Agar aku tak disalahkan lagi, Menjadi kambing hitam dari semua kebohonganmu,

cerpen islami (ustadz muda itu..)

                ustadz muda itu...            Udara malam semilir menyapu dan menyapa mushola Al-Hidayah, mushola kecil dipinggiran kota Ungaran yang sudah 2 tahun lalu berdiri. Lampunya redup tapi cahaya alami dimushola itu seakan tak ada habisnya menerangi jalanan didepanya, bukan karena lampunya tetapi karena Allah yang selalu menerangi setiap baitN ya.             Mungkin inilah cahaya yang selalu Allah jajikan untuk setiap tempat dimana ada orang-orang yang mau bersujud kepadaNya.             Langit begitu cerahnya menyajikan jutaan bintang sebagai wujud keagungaNya, pelan suara syair Ilahi senada mengalun lirih dari seorang muda, sendiri.. beberapa saat keamudian dia beranjak, “Allah....huakbar Allah....huakbar..” suaranya melengking keras dengan speaker ...