Langsung ke konten utama

puisi (fitnah itu)




fitnah itu

Aku memang bukan orang baik,
Tapi tak seburuk itu kamu memperlakukanku
Aku ini buaya
Tapi aku ini tetap punya hati untuk mengukur kasih sayang
Aku ini makhluq Allah
Tapi bukan penyembah makhluk yang lain
Andai aku salah
Katakan padaku
Jangan kau katakan pada orang yang tak tau menahu
tetap saja perkataan itu tak baik untukku
Coba ceritakan
Dengan pelan dan penuh kebenaran
Bukan tangisan yang seharusnya kau keluarkan
Mraung raung,
Sudahlah, aku sudah cukup untuk menerima semua ini, buatku semua
Apa aku harus diam?
Sabar dan hanya sabar?
Atau aku harus berteriak mencoba meembenarkan
Naifkah aku bila ku berkata benar
Bodohkah aku bila aku tetap tersenyum?
Huh.
Aku kira aku akan melakukanya
Berbuat yang benar
Melakukan yang benar pula
Agar aku tak disalahkan lagi,
Menjadi kambing hitam dari semua kebohonganmu,

Postingan populer dari blog ini

(cerpen) maafkan aku yang pergi meninggalkanmu

oleh Jaka Tarub pada 29 November 2010 jam 18:40 reQuest dari Aziza Little Maganda Masih pagi sekali, udara masih sejuk kabut guung telomoyo an merbabu masih melekat menyusup setiap sudut kota salatiga, kota kecil nan alami, indah nan menyegarkan, matahari belum tampak, hanya saja sinar indahnya membuat kokok ayam terbangun subuh tadi, perlahan kabut mulai berganti menjadi embun yang menetes tiap daun tiap dahan juga rumput rumput dipinggiran jalan.. segar sekali langkah kaki pasti menyusuri jalan tentara pelajar penuh ksemangat untuk mencari cahaya masa depan, langkah kaki ang tak kunjung lelah, keringat masih tetap berselimut diantara baju usangnya, padahal waktu masih menunjukan pukul 06.00 tapi langkah kaki tak akan berhenti, semangat.. -- suasana kampus masih sepi, masjidpun sepi hanya beberapa satpam yang berpakaian apa adanya dan beberapa tukang kebun membersihkan sampah disekitar halaman, kampus mungil nan indah.. kampus yang menjajnjikan masa depan cerah, kampus y...

cerpen islami (ustadz muda itu..)

                ustadz muda itu...            Udara malam semilir menyapu dan menyapa mushola Al-Hidayah, mushola kecil dipinggiran kota Ungaran yang sudah 2 tahun lalu berdiri. Lampunya redup tapi cahaya alami dimushola itu seakan tak ada habisnya menerangi jalanan didepanya, bukan karena lampunya tetapi karena Allah yang selalu menerangi setiap baitN ya.             Mungkin inilah cahaya yang selalu Allah jajikan untuk setiap tempat dimana ada orang-orang yang mau bersujud kepadaNya.             Langit begitu cerahnya menyajikan jutaan bintang sebagai wujud keagungaNya, pelan suara syair Ilahi senada mengalun lirih dari seorang muda, sendiri.. beberapa saat keamudian dia beranjak, “Allah....huakbar Allah....huakbar..” suaranya melengking keras dengan speaker ...