Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2011

01.28

01.28 Aku menulis tiap kata dengan rapi. Tak tau apa yang aku tulis, sebenarnya hanya kata kata kosong tak berarti, namun beberapa kali goresan penaku berhenti, lama sekali.. lamunan panjang beberapa kali aku mulai, yang terahir aku terhenyak tentang keberadaanku yang tiada artinya dibumi ini, aku terkesan acuh dengan segala yang aku lakukan, sejenak berfikir tentang masa depan tapi terhenti dengan apa yang aku lakukan saat ini, berlanjut tentang kondisiku saat ini aku berfikir tentang apa yang aku telah lakuan dimasa lalu, hidupku tak berarti.. hidupku seakan hanyut oleh kemelut… Oh betapa bodohnya aku yang terhempas dalam jurang kemunduran, aku benar benar telah larut dalam angan yang sebatas lutut. sepi sekali hatiku, bukan karena tak ada orang yang mengisinya, hanya saja nurani ini kosong dari siraman, jadinya gersang, angkuh, kaku, keras seperti batu. Aku benar benar takluk, aku menyerah, akupun tersungkur dan tak ada lagi yang dapat aku lakukan kecuali kelembutan rayuan se...

Untukmu Bidadari

Untukmu Bidadari Malam ini aku tatap bulan bersinar indah Merasakan sentuhan lembut nocturno malam Sepoi membelai tiap pori kulit ini Cahaya temaram menuai nyaman walau berselimut gelap nan mencekam Tetap saja aku tatap wajahmu lewat pantulan cahaya bulan Wahai bidadari di ujung kesunyian Izinkan aku menggapaimu Membelai rambutmu Mengusap setiap peluh dan air ata diwajahmu Mengecup keningmu dengan kehangatan Dari hati.. Wahai bidadari yang sedih berteman sendiri Tetaplah langit malam ini, Telah aku sulap langit itu Hingga muncul bulan yang memantulkan cahayamu Merona memancarkan wajahmu Dan lihatlah, bintang-bintang berkedip menyapamu Binatang bersama bernyanyi inginkan bahagia di hatimu Mereka semua bersamaku ingin senyummu Lalu saat esok fajar datang mengganti malam Aku akan sampaikan pada ayam di ujung desa ini Untuk datang padamu Mengucapkan selamat pagi padamu Atau bahkan membangunkanmu, membuatmu terjaga dari mimpi burukmu Kemudian, Mentari pagi akan membelai wajahmu ...

Untukmu Bidadari

Untukmu Bidadari Malam ini aku tatap bulan bersinar indah Merasakan sentuhan lembut nocturno malam Sepoi membelai tiap pori kulit ini Cahaya temaram menuai nyaman walau berselimut gelap nan mencekam Tetap saja aku tatap wajahmu lewat pantulan cahaya bulan Wahai bidadari di ujung kesunyian Izinkan aku menggapaimu Membelai rambutmu Mengusap setiap peluh dan air ata diwajahmu Mengecup keningmu dengan kehangatan Dari hati.. Wahai bidadari yang sedih berteman sendiri Tetaplah langit malam ini, Telah aku sulap langit itu Hingga muncul bulan yang memantulkan cahayamu Merona memancarkan wajahmu Dan lihatlah, bintang-bintang berkedip menyapamu Binatang bersama bernyanyi inginkan bahagia di hatimu Mereka semua bersamaku ingin senyummu Lalu saat esok fajar datang mengganti malam Aku akan sampaikan pada ayam di ujung desa ini Untuk datang padamu Mengucapkan selamat pagi padamu Atau bahkan membangunkanmu, membuatmu terjaga dari mimpi burukmu Kemudian, Mentari pagi akan membelai wajahmu ...

Untukmu Bidadari

Untukmu Bidadari Malam ini aku tatap bulan bersinar indah Merasakan sentuhan lembut nocturno malam Sepoi membelai tiap pori kulit ini Cahaya temaram menuai nyaman walau berselimut gelap nan mencekam Tetap saja aku tatap wajahmu lewat pantulan cahaya bulan Wahai bidadari di ujung kesunyian Izinkan aku menggapaimu Membelai rambutmu Mengusap setiap peluh dan air ata diwajahmu Mengecup keningmu dengan kehangatan Dari hati.. Wahai bidadari yang sedih berteman sendiri Tetaplah langit malam ini, Telah aku sulap langit itu Hingga muncul bulan yang memantulkan cahayamu Merona memancarkan wajahmu Dan lihatlah, bintang-bintang berkedip menyapamu Binatang bersama bernyanyi inginkan bahagia di hatimu Mereka semua bersamaku ingin senyummu Lalu saat esok fajar datang mengganti malam Aku akan sampaikan pada ayam di ujung desa ini Untuk datang padamu Mengucapkan selamat pagi padamu Atau bahkan membangunkanmu, membuatmu terjaga dari mimpi burukmu Kemudian, Mentari pagi akan membelai wajahmu ...

Aku?

Sedikit rasa menjalar pada relung Mengisi sekejap dari kata rindu Sedikit asa mengumbar Menelaah dedaunan masa depan yang kian gugur Tak berarti lagi... Setiap samudra membawa pesan melalui ombaknya Setiap hembusan membawa kalam yang tak terbaca Diam tersungkur kaku Terlelap dari gemerlap Mati kutu tak menengadah Sunyi hati mengubur hasrat Ada kata bangkit yang terpatri Ada kalimat  jaya yang suram Aku Bukan aku yang ini Tapi aku Aku yang itu Memegang bara dari dedaunan kering, Mengukir kata dari karang Menata rumput yang tertiup badai Menengadah.. Menjemput 'jaya' dari suram Menata bangkit yang jauh poranda.. Itu aku yang sebenarnya [saat aku ingat siapa diriku]

seperti harapan bumi atas gumpalan mendung diangkasa

aku tau aku tak pantas lagi buatmu aku tau... hari ini... tapat sekali kau ada disampingku ada tatapan mata ada senyum ada sejuta bisik dalam benaku mengagumimu mengharapkan kau kembali disisiku aku tak bisa aku tak bisa itu pasti jawabanmu, kemudian menjauh, tenggelam dalam selimut kebencian aku merinding, ketika aku tahu kau memang bukan untukku nafasku berat melihatmu melaju bersama harapanmu meninggalkanku... dalam kesunyian hati yang dulu pernah kau ramaikan aku masih mencintaimu seperti harapan bumi atas gumpalan mendung diangkasa [apa harapan itu masih ada?] aku masih mencintaimu

Simponi Nada Tak bertuah

  (Untukmu Perempuan : Hari Perempuan sedunia) Melukiskan satu sajak kehidupan Terukir dari satu paha ke paha Menitikkan darah keikhlasan Peluh hangat terasa dingin ditengah terik siang Wahai wanita kehidupan Menjunjung tinggi kesabaran Meliuk ditengah geliat kepanasan Tabah menanti pawai cobaan Diamlah wahai keangkuhan Matilah engkau kemunafikan Hanya ada wanita Hanya ada keikhlasan Hanya ada tetesan air susu kehidupan Menuangkan sejuta ketabahan Hormatku padamu wahai perempuan

Hujan, Katakan Pada Sahabatku…

Salatiga kota hujan, itu mungkin yang menjadi asumsi orang-orang sekarang, bulan desember yang dingin tentunya, harapan untuk menikmati ahir tahun dengan cahaya matahari disiang harinya dan temaram bulan dimalam hari menjadi mimpi mimpi yang hampa. Seperti sore ini, sore yang indah harusnya tapi sayang rahmat Tuhan bertaburan dalam bentuk yang berbeda, udara dingin disertai rintikan air hujan menghiasi atap rumah warga klaseman Salatiga, begitu juga aku yang dari tadi terdiam di beranda rumah kosku, siang tadi masih lumayan cerah, setelah pulang dari kuliah hujan langsung mengguyur, harusnya jam segini aku sudah berada dikampus, untuk mengikuti kuliah sore, tapi sayang rasa malas dan hujan ini mengurungku untuk tidak kekampus. Rintik hujan berubah menjadi gerimis, kecil tapi terus. Aku pandangi setiap tetes demi tetes yang menghantam bumi, aku pandangi juga beberapa kendaraan bermotor melaju pelan, mungkin karena takut jalanan licin. Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku, mengu...

Hujan, Katakan Pada Sahabatku…

Salatiga kota hujan, itu mungkin yang menjadi asumsi orang-orang sekarang, bulan desember yang dingin tentunya, harapan untuk menikmati ahir tahun dengan cahaya matahari disiang harinya dan temaram bulan dimalam hari menjadi mimpi mimpi yang hampa. Seperti sore ini, sore yang indah harusnya tapi sayang rahmat Tuhan bertaburan dalam bentuk yang berbeda, udara dingin disertai rintikan air hujan menghiasi atap rumah warga klaseman Salatiga, begitu juga aku yang dari tadi terdiam di beranda rumah kosku, siang tadi masih lumayan cerah, setelah pulang dari kuliah hujan langsung mengguyur, harusnya jam segini aku sudah berada dikampus, untuk mengikuti kuliah sore, tapi sayang rasa malas dan hujan ini mengurungku untuk tidak kekampus. Rintik hujan berubah menjadi gerimis, kecil tapi terus. Aku pandangi setiap tetes demi tetes yang menghantam bumi, aku pandangi juga beberapa kendaraan bermotor melaju pelan, mungkin karena takut jalanan licin. Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku, mengu...

bila semua itu menjadi nyata, apa yg dapat dilakukan?

bila kaki tak bisa lagi berjalan tak ada lagi yang dilakukan enggan juga untuk merangkak apalagi menyapa sesama bila nafas ini tak lagi berhembus mungkin pandangan mata tak lagi ada artinya kata-kata hanya mengumbar dalam bisingan dada melayang memandang raga sendiri yang terkapar mati menikmati setiap jengkal lekukan tubuh kaku tak ber-ruh bila roda berubah menjadi kaki manusia mengusung detak yg telah berhenti hanya tangismengelilingi bila indahnya singgasana berubah menjadi tumpukan tanah berbau anyir rapinya gamis berubah menjadi putih intan permata tak ada artinya bila semua itu menjadi nyata, apa yg dapat dilakukan? renungan

aku rela tukar nyawaku

  Andai boleh ya robb ambil separuh sisa hidupku untuk menebus bahagianya yang masih engkau bawa andai boleh ya robb Dalam degupan jantung fajar, seiring sunyi yg menata ketenangan, kulit keriputnya bersentuhan dengan air, mukena putih menyandra raganya, sajadah kumal membelai dahinya, setiap hembusan angin saat itu menjadi saksi kalau kedua tangannya masih menengadah untukku.. Fajar.. Samapaikan salam hormat ini pada sosok ringkih di sana pada sosok renta di sana, ... Sampaikan salam rindu ini pada pelukanya pada belaiannya sampaikan salam maaf ini karna aku tak berguna aku tak bisa apa-apa fajar.. Saksikan sujudku ini, aku masih berusaha menjadi inginnya.. Galau hati tak berujung duka jiwa merana lama kecewa menyusur dalam asa tunduk dalam air mata lama menepi menahan lara aku akan berusaha, nebaruh sedikit bahagia dalam diri seorang bunda.. Maafkan ananda, bunda

Mbok’

Katamu lelah, Tapi lenganmu tetap saja bergerak sepeti masih penuh tenagamu, Katanya lapar, Tapi selendang itu erat menggeluti perutmu. Aku tak mengerti mbok, Kalau aku tampung keringatmu mungkin sampai dua ember, Matamu merkedip, Menampik keringat yang mancur dari sela uban putihmu, Mbok, Nafasmu terengah kau tahan. Mbok, Dari setiap nafas itu, Malaikat mengikutimu membuatkan gedung indah di Nirwana. Mbok, Misalkan Tuhan memberi sayembara pergantian nyawa, Aku pasti jadi pemenangnya, Sisa umurku aku berikan untukmu, Aku ingin engkau menempati satu petak kabahagiaan yang Tuhan siapkan. Mungkin agar lebih lama.. [untukmu Ibu, aku akan berjuang] ibu, aku rindu

Mbok’

Katamu lelah, Tapi lenganmu tetap saja bergerak sepeti masih penuh tenagamu, Katanya lapar, Tapi selendang itu erat menggeluti perutmu. Aku tak mengerti mbok, Kalau aku tampung keringatmu mungkin sampai dua ember, Matamu merkedip, Menampik keringat yang mancur dari sela uban putihmu, Mbok, Nafasmu terengah kau tahan. Mbok, Dari setiap nafas itu, Malaikat mengikutimu membuatkan gedung indah di Nirwana. Mbok, Misalkan Tuhan memberi sayembara pergantian nyawa, Aku pasti jadi pemenangnya, Sisa umurku aku berikan untukmu, Aku ingin engkau menempati satu petak kabahagiaan yang Tuhan siapkan. Mungkin agar lebih lama.. [untukmu Ibu, aku akan berjuang] ibu, aku rindu

Mbok’

Katamu lelah, Tapi lenganmu tetap saja bergerak sepeti masih penuh tenagamu, Katanya lapar, Tapi selendang itu erat menggeluti perutmu. Aku tak mengerti mbok, Kalau aku tampung keringatmu mungkin sampai dua ember, Matamu merkedip, Menampik keringat yang mancur dari sela uban putihmu, Mbok, Nafasmu terengah kau tahan. Mbok, Dari setiap nafas itu, Malaikat mengikutimu membuatkan gedung indah di Nirwana. Mbok, Misalkan Tuhan memberi sayembara pergantian nyawa, Aku pasti jadi pemenangnya, Sisa umurku aku berikan untukmu, Aku ingin engkau menempati satu petak kabahagiaan yang Tuhan siapkan. Mungkin agar lebih lama.. [untukmu Ibu, aku akan berjuang] ibu, aku rindu

aku tutup lembaranku

aku tutup lembarankudi sisa detikan umurku dengan senyum yang dipaksa, aku hanya berkata selamat tinggal masa laluku, selamat datang masa depan.. aku tutup lembaranku karena ini bukan resolusi, ini bukan lagi rencana, namun hanya sekedar ratapan atas luka di sisa ahir umurku yang harusnya aku bahagia. aku tutup lembaranku luka, yang tumbuh dari secuil kecewa..kemudian membesar dari ratapan tiada tara, aku menangis.. bukankah seharusnya aku tertawa menuangkan segelas shoft drink untuk semua kawan-kawanku? menata kue tar untuk keluarga dan sahabatku, kemudian bernyanyi dalam ucapan nada indah yang membawa makna bahagia. aku tutup lembaranku dengan mengubur luka yang penuh darah kegelisahan, menyumbat aliranya dengan tangis keras tanpa suara, kemudian aku obati dengan sujud padaNya. karena ini sakit, sakit yang terlalu kuat untuk aku rasakan. aku tutup lembaranku tanpa nyanyian 'selmat ulang tahun' dari bibir indahnya, tanpa kecupan manis yang sehari sabelumnya telah ...

detik ini, aku akan bunuh hatiku yang telah salah mencintaimu!!

mungkin pernah engkau menatap, bintang bintang yang bersinar redup bahkan kadang hanya sendiri, menemani bulan ditengah dinginnya malam. mungkin engkau pernah melihat gerimis disore hari, menyapa mentari, menghadiahkan pelangi yang begitu indahnya, pada matahari. lalu pada kunang kunang yang menerangi malam, membungkus kepekatan dengan sinar kecilnya, semua itu aku, yang mengunci hati, menata mimpi merangkai harapan mempersembahkannya hanya untukmu. aku biarakan dinginya malam menusuk tulangku, aku biarkan cacian orang mengusik gerimisku, aku lawan ketakutan gelap menghantuiku, hanya untukmu, untuk rembulan, untuk matahari dan untuk kesendirian yang terangkum oleh gelap. ku kira cukup, namun, kesetiaan bintang tak ada artinya pelangi senja tak lagi indah cahaya kunang tak kau hiraukan, semua sia sia.... hari ini, tak ada gunanya aku menemanimu tak ada artinya aku hadiahkan pelangi untukmu tak ada.. tak...

aku ikhlaskan kau seperti merpati yang terbang menuju kebebasan

saat langit mulai cerah, taukah kau? bahwa mendung diujung sana sangat tebal. saat angin berhembus pelan, taukah kau? bahwa ada badai dibalik bukit itu. saat suasana diluar terlihat lengang, taukahkau? bahwa ada senapan senapan yang mengincarmu... bukan sebuah ketakutan yang ada padamu melainkan keinginann untuk menentukan kehidupanmu sendiri, melebarkan sayapmu lebih lebar daripada ketika kau disangkar pelukan ini kau ta tahu? dimanapun kau lebarkan sayapmu, itu tak akan lebih dari ketika kau disampingku bukan karna kau ingin kebahagiaan melainkan nafsu yang menggelutimu ingin menikmati indahnya duniamu jangan katakan aku inginkan sayap indahmu justru aku ingin agar sayap itu semakin indah bukan pula aku inginkan hargamu justru aku ingin agar semua itu tetap suci dalam pelukanku aku mencoba bersihkan setiap luka yang ada pada kaki dan sayapmu namun kau katakan aku yang melukaimu kau bahkan berteriak, taukah engkau siapa yang menemukanmu ketika kau terluka? yang melindungimu dari ...