Katamu lelah,
Tapi lenganmu tetap saja bergerak sepeti masih penuh tenagamu,
Katanya lapar,
Tapi selendang itu erat menggeluti perutmu.
Aku tak mengerti mbok,
Kalau aku tampung keringatmu mungkin sampai dua ember,
Matamu merkedip,
Menampik keringat yang mancur dari sela uban putihmu,
Mbok,
Nafasmu terengah kau tahan.
Mbok,
Dari setiap nafas itu,
Malaikat mengikutimu membuatkan gedung indah di Nirwana.
Mbok,
Misalkan Tuhan memberi sayembara pergantian nyawa,
Aku pasti jadi pemenangnya,
Sisa umurku aku berikan untukmu,
Aku ingin engkau menempati satu petak kabahagiaan yang Tuhan siapkan.
Mungkin agar lebih lama..
