saat langit mulai cerah, taukah kau?
bahwa mendung diujung sana sangat tebal.
saat angin berhembus pelan, taukah kau?
bahwa ada badai dibalik bukit itu.
saat suasana diluar terlihat lengang, taukahkau?
bahwa ada senapan senapan yang mengincarmu...
bukan sebuah ketakutan yang ada padamu
melainkan keinginann untuk menentukan kehidupanmu sendiri,
melebarkan sayapmu lebih lebar daripada ketika kau disangkar pelukan ini
kau ta tahu?
dimanapun kau lebarkan sayapmu, itu tak akan lebih dari ketika kau disampingku
bukan karna kau ingin kebahagiaan
melainkan nafsu yang menggelutimu
ingin menikmati indahnya duniamu
jangan katakan aku inginkan sayap indahmu
justru aku ingin agar sayap itu semakin indah
bukan pula aku inginkan hargamu
justru aku ingin agar semua itu tetap suci dalam pelukanku
aku mencoba bersihkan setiap luka yang ada pada kaki dan sayapmu
namun kau katakan aku yang melukaimu
kau bahkan berteriak,
taukah engkau siapa yang menemukanmu ketika kau terluka?
yang melindungimu dari ular dan kucing yang mengincarmu?
kau katakan pada burung burung diujung dahan itu,
kau tersiksa karenaku.
taukah kau?
aku obati lukamu, buatmu bersandar dengan kedamaian yang tak pernah engkau akui
saat hempaskan tubuhmu didinding sangkar ini
kau patuk hingga benar benar rusak,
kau berceloteh aku melukaimu
namun bukankah aku yang kau lukai
sehingga dinding hati ini robek oleh patukanmu..
kemudian aku paksa pintuku untuk terbuka,
membiarkanmu terbang dengan ambisimu,
mengepakkan sayapmu menuju gagak dan rajawali diujung sana,
aku katakan padamu 'itu bukan bagian darimu'
kau katakan 'mereka lebih baik dariku'
tak apa, kau memilih..
aku katakan padamu 'kau terlalu jauh melangkah'
kau katakan 'aku yang tak mau terkekang karenamu'
tak apa, itu inginmu..
kau terbang, meninggalkanku dengan ucapan yang merusak tubuhku
'kau sangkar yang buruk, bukan emas yang bisa kau nikmati'
aku diam dalam penyesalan, ingin mengatakan pada Tuan yang menciptakanku
'kenapa aku hanya sangkar bambu tak berharga?'
tapi tak apa, Tuanku tau apa yang terbaik untukku.
aku memang bambu lusuh yang lemah,
namun aku lebih berharga dari mereka yang kau pilih,
yang hanya punya nafsu untuk menikmatimu
aku memang sangkar buruk,
namun aku pernah meindungi merepati cantik sepertimu,
merawatmu hingga sayapu kembali memutih seperti saat engkau terahir.
kini, kau telah terbang...
namun, taukah engkau? Tuhanku menyiapkan raga baru,
menggantikan diinding bambu ini, menjadi emas seperti yang kau inginkan,
menghiasinya dengan luasnya ruang dalam diriku..
saat kau menyadari mereka yang bersamamu hanya gagak yang bernafsu,
kemudian kau terhempas oleh badai dibalik gunung itu,
terluka karena senapan yang mengincarmu dan
perih ketika lukamu basah karena hujan yang tak kau sadari sebelumnya...
kau akan datang kembali tentunya...
sadar bahwa cinta ini hanya untukmu
yang akan melindungimu dengan segenap jiwa ragaku..
untuk kedamaianmu...
merpatiku...
[special to: laila anggraini]
jangan kau pergi tinggalkan aku
