Langsung ke konten utama

Hujan, Katakan Pada Sahabatku…





Salatiga kota hujan, itu mungkin yang menjadi asumsi orang-orang sekarang, bulan desember yang dingin tentunya, harapan untuk menikmati ahir tahun dengan cahaya matahari disiang harinya dan temaram bulan dimalam hari menjadi mimpi mimpi yang hampa.
Seperti sore ini, sore yang indah harusnya tapi sayang rahmat Tuhan bertaburan dalam bentuk yang berbeda, udara dingin disertai rintikan air hujan menghiasi atap rumah warga klaseman Salatiga, begitu juga aku yang dari tadi terdiam di beranda rumah kosku, siang tadi masih lumayan cerah, setelah pulang dari kuliah hujan langsung mengguyur, harusnya jam segini aku sudah berada dikampus, untuk mengikuti kuliah sore, tapi sayang rasa malas dan hujan ini mengurungku untuk tidak kekampus.
Rintik hujan berubah menjadi gerimis, kecil tapi terus. Aku pandangi setiap tetes demi tetes yang menghantam bumi, aku pandangi juga beberapa kendaraan bermotor melaju pelan, mungkin karena takut jalanan licin.
Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku, mengusir ingatan jangka pendek, mengorek kenangan masa lalu, entah apa.. aku mengernyitkan dahiku, lalu, muncul perlahan tapi kemudian nyata sekali dalam ingatanku, sesosok yang begitu aku kenal, dekat sekali, entah kenapa rintik hujan kali ini membaawaku menemuinya lagi, walau hanya dalam kenangan.
***

“Ayolah rul,  ini waktu yang tepat” pintanya
“tapi ini mendung tebal sekali” jawabku
“halah paling juga lewat, seaperti kemarin”
Siang hari gelap, mendung kota Ungaran mulai menampakkan taringnya, menyelimuti wajah bumi yang harusnya cerah.,
“hei, ayo buruan rul”
“nantilah jak, mendung tebal bgt”
“rul, aku ini sahabatmu yang akan menemanimu kapanpun dimanapun, mendung hujan dan panas buatku gak ada artinya,”
“tapi jak..”
“udahlah, hari ini adalah hari terahir kamu daftar kuliah, kamu tidak boleh telat”

Aku pasrah dengan permintaan sahabatku ini, satu satunya sahabat yang bisa mengerti aku dan menerima aku apa adanya, sahabat sejati begitu orang lain mengatakanya. Kami berdua bersahabat sejak kecil, sejak kami belum mengenal dunia, hingga kini kami benar-benar mengerti arti hidup, tidak ada hal yang dapat memisahkan kami, bahkan ketika aku harus mengikuti keinginan orang tua, kami tetap menjalin persahabatan ini dengan baik, aku yang harus meneruskan SMA di jepara sedangkan jaka harus tetap di Ungaran,  kami bisa melewati semuanya. Dan hari ini adalah hari dimana kami bertemu kembali setelah tiga tahun terpisah,

“jak, apa tak lebih baik kita rayakan dulu pertemuan kita ini?” saranku
“rul, kita bisa lakukan itu kapan aja, ingat tujuanmu KULIAH di Universitas itu hari ini kamu harus daftar kuliah, ini hari terahir”

Sama seperti 3 tahun lalu, sahabatku ini memang tak bisa diajak kompromi dalam hal masa depan, waktu aku harus ikut bapak pindah tugas ke jepara, jaka memaksaku untuk ikut, padahal aku sudah berusaha menolak ajakan bapakku, aku ingat kata jaka saat itu, “rul, kalau kau yakin persahabatan kita ini sejati, ruang dan waktu tak akan memmpengaruhi” yah dalam pikiran jaka, mengikuti orang tua adalah hal yang terbaik.
Begitu juga hari ini, hari pertama aku bertemu dengannya, dia masih saja memasaku untuk masa depanku, sedangkan jaka tak pernah memikirkan tentang dirinya yang tak bisa meneruskan ke perguruan tinggi, dia berencana bekerja, untuk masa depan keluarganya.

“buruan rul, ambil keperluan kamu”
“iya bentar” sambil menyiapkan keperluan.
“nah gitu dong, kan aku bangga punya sahabat anak kuliahan hehehe”
Candanya, senyum itu yang tak akan aku lupakan, senyum yang selalu menjadi sahabat dikala sepi, senyum penyemangat,
Perjalanan menuju kota Semarang memang tidak jauh, 40 menit sebenarnya, tapi kemacetan di weekend ini membuat perjalanan kami sedikit terhambat, jam tangan tepat menunjukan pukul 11.05  itu artinya 25 menit lagi akan ditutup pendaftaranya, sedangkan kami belum menempuh separuh dari perjalanan

“rul, jam berapa sekarang?” tanyanya disela kemacetan
“jam 11 jak,”
“artinya kalau kita tidak cepat, kita akan terlambat”
“….” Aku hanya diam menerima komentarnya
“kamu pegangan yang kencang ya..”
Belum sempat aku menjawab, gas motornya ditancapkan, meliuk-liuk ketika berada di kemacetan. Melaju kencang ketika jalan sedikit sepi, buatku dia memang pembalap hebat, dari SMP kami berdua memang sering melakukan perjalalan panjang, mencuri motor milik bapak, kemudian menikmati perjalanan malam, kenangan masa lalu yang hari ini terulang.

“jak pelan-pelan” teriakku
“hahaha, kamu ingat tidak rul 3 tahun lalu ulus SMP?”  suaranya bertarung dengan bising kendaraan dan angin yang begitu besar
“iya, kita pawai kelulusan, ditangkap polisi..”
“karena tidak bawa helm hahahaha” sahutnya meneruskan kalimatku

“rul, kau adalah ssahabat sejatiku” teriaknya melawan deru angina yang kami lewati
“aku akan melakukan apapun demi kamu rul, aku janji” lanjutnya
Aku hanya mengangguk dan mengencangkan peganganku,motor melaju kencang sekali.

Memasuki kota Semarang hujan menyambut kami deras sekali, tapi jaka tak menurunkan kecepatanya, aku percaya dengan dia, dia menyuruhku untuk menunduk berlindung dibelakang punggungnya, supaya air hujan tak terlalu banyak mengenaiku.

Sebentar lagi sampai, pikirku ketika memasuki kawasan tengah kota, tapi semua tidak sesuai rencana, motor yang kami kendarai oleng ketika menghindari penyebrang jalan, akibat jallan licin karena hujan aku dan jaka jatuh, jaka terpelanting dipinggi jalan, sedangkan aku terlentang ditengah jalan, walaupun kecelakaan tunggal tapi benturan aspal membuat kakiku tak bisa bergerak, patah mungkin, dalam keadaan yang setengah sadar aku melihat sebuah mobil berkecepatan tinggi melaju kearahku, ‘ya tuhan mati aku’ pikirku beberapa meter mobil itu dihadapanku, suara dencitan rem dan gesekan roda dengan aspal melengking keras ditelingaku, aku pasrah.. tiba tiba ada sosok yang mendorongku lebih tepatnya melemparku sampai dipinggir jalan, aku masih belum sadar betul, banyak orang yang berteriak keras sekali, sesosok tubuh yang mendorongku dihantam oleh laju mobil yang  tadinya akan menabrakku, hantaman begitu keras..  aku melihat jelas siapa orang yang mendorongku sehingga dia yang harus menggantikan posisiku, jaka………….. dengan tubuh terseret dan basah air hujan aku menghampiri tubuh sahabatku yang penuh dengan darah, dalam basah kuyup aku peluk dia, darah mengalir begitu deras dari luka dikepala, tangan bahkan pundaknya, aku menangis sekeras kerasnya, aku berteriak kepada semua orang yang ada, ‘tolong.. tolong.. panggil ambulan’ aku menangis membangunkan sahabatku
“jak.. bangun, jak… ayo bangun kita belum sampai..”
Darahnya mengalir bercampur dengan air hujan yang tadi tak berhenti, ku usap air hujan yang mengenai dahinya, tapi sahabatku  tidak jua bangun..
“jak.. bangun jak, ayo berteduh..”
Tak ada reaksi
“jak bangun..”
“……………”
“jaka, jangan tinggalkan aku..”
“rul…” jaka bangun, tersenyum sedikit kearahku,
“rul.. maafan aku yang tak bisa mengantarmu samapai tujuan” katanya terbata bata
“tidak jak, kita telah sampai, ayo bangu… kita pulang kita rayakan pertemuan
kita”
“rul, aku sudah menepati janjiku untuk melindungi nyawamu, kamu sahabat sejatiku,”
“iya jak.. kita adalah sahabat sejati”  jawabku pelan
“berjanjilah rul, kamu akan menjadi orang yang berhasil, demi aku, demi kita… ”
Aku mengangguk pelan, diiringi dengan kepergian sahabatku untuk selamanya, nafasnya berhenti, tapi senyum indahnya masih bertahan dibibirnya..
“jakaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa………….”

Dia pergi diiringi hujan yang perlahan mereda, berganti dengan sorot mentari, seakan menyambut  kehadiran sahabat sejati di alamnya..

Selamat jalan sahabatku..
***

Hujan sore tiba tiba mereda, lamunanku berhenti, tak terasa air mata mengalir menyusuri pipiku, ada rasa sesak dalam hati tapi ada kokosongan yang luas, sesak karena kerinduan pada sahabatku, luas karena ruang itu seharusnya ditempati sahabatku..
‘jak, aku rindu padamu’
Sama seperti 3 tahun lalu, hujan berhenti berganti dengan sinar senja yang begitu indah membawa sahabatku ke nirwana, sedangkan hujan sore ini berlalu dengan membawa kenangan sahabatku,
‘hujan.. aku tau kepergianmu akan menemui sahabatku, tolong sampaikan salam rindu ini pada jaka, katakana padanya aku akan selalu berjuang untuk mimpinya, untuk harapannya, untuk persahabatan ini’
            “jak aku rindu padamu”

Postingan populer dari blog ini

(cerpen) maafkan aku yang pergi meninggalkanmu

oleh Jaka Tarub pada 29 November 2010 jam 18:40 reQuest dari Aziza Little Maganda Masih pagi sekali, udara masih sejuk kabut guung telomoyo an merbabu masih melekat menyusup setiap sudut kota salatiga, kota kecil nan alami, indah nan menyegarkan, matahari belum tampak, hanya saja sinar indahnya membuat kokok ayam terbangun subuh tadi, perlahan kabut mulai berganti menjadi embun yang menetes tiap daun tiap dahan juga rumput rumput dipinggiran jalan.. segar sekali langkah kaki pasti menyusuri jalan tentara pelajar penuh ksemangat untuk mencari cahaya masa depan, langkah kaki ang tak kunjung lelah, keringat masih tetap berselimut diantara baju usangnya, padahal waktu masih menunjukan pukul 06.00 tapi langkah kaki tak akan berhenti, semangat.. -- suasana kampus masih sepi, masjidpun sepi hanya beberapa satpam yang berpakaian apa adanya dan beberapa tukang kebun membersihkan sampah disekitar halaman, kampus mungil nan indah.. kampus yang menjajnjikan masa depan cerah, kampus y...

puisi (fitnah itu)

fitnah itu Aku memang bukan orang baik, Tapi tak seburuk itu kamu memperlakukanku Aku ini buaya Tapi aku ini tetap punya hati untuk mengukur kasih sayang Aku ini makhluq Allah Tapi bukan penyembah makhluk yang lain Andai aku salah Katakan padaku Jangan kau katakan pada orang yang tak tau menahu tetap saja perkataan itu tak baik untukku Coba ceritakan Dengan pelan dan penuh kebenaran Bukan tangisan yang seharusnya kau keluarkan Mraung raung, Sudahlah, aku sudah cukup untuk menerima semua ini, buatku semua Apa aku harus diam? Sabar dan hanya sabar? Atau aku harus berteriak mencoba meembenarkan Naifkah aku bila ku berkata benar Bodohkah aku bila aku tetap tersenyum? Huh. Aku kira aku akan melakukanya Berbuat yang benar Melakukan yang benar pula Agar aku tak disalahkan lagi, Menjadi kambing hitam dari semua kebohonganmu,

cerpen islami (ustadz muda itu..)

                ustadz muda itu...            Udara malam semilir menyapu dan menyapa mushola Al-Hidayah, mushola kecil dipinggiran kota Ungaran yang sudah 2 tahun lalu berdiri. Lampunya redup tapi cahaya alami dimushola itu seakan tak ada habisnya menerangi jalanan didepanya, bukan karena lampunya tetapi karena Allah yang selalu menerangi setiap baitN ya.             Mungkin inilah cahaya yang selalu Allah jajikan untuk setiap tempat dimana ada orang-orang yang mau bersujud kepadaNya.             Langit begitu cerahnya menyajikan jutaan bintang sebagai wujud keagungaNya, pelan suara syair Ilahi senada mengalun lirih dari seorang muda, sendiri.. beberapa saat keamudian dia beranjak, “Allah....huakbar Allah....huakbar..” suaranya melengking keras dengan speaker ...