Langsung ke konten utama

(cerpen) maafkan aku yang pergi meninggalkanmu

oleh Jaka Tarub pada 29 November 2010 jam 18:40


reQuest dari Aziza Little Maganda


Masih pagi sekali, udara masih sejuk kabut guung telomoyo an merbabu masih melekat menyusup setiap sudut kota salatiga, kota kecil nan alami, indah nan menyegarkan, matahari belum tampak, hanya saja sinar indahnya membuat kokok ayam terbangun subuh tadi, perlahan kabut mulai berganti menjadi embun yang menetes tiap daun tiap dahan juga rumput rumput dipinggiran jalan.. segar sekali

langkah kaki pasti menyusuri jalan tentara pelajar penuh ksemangat untuk mencari cahaya masa depan, langkah kaki ang tak kunjung lelah, keringat masih tetap berselimut diantara baju usangnya, padahal waktu masih menunjukan pukul 06.00

tapi langkah kaki tak akan berhenti, semangat..

--

suasana kampus masih sepi, masjidpun sepi hanya beberapa satpam yang berpakaian apa adanya dan beberapa tukang kebun membersihkan sampah disekitar halaman, kampus mungil nan indah.. kampus yang menjajnjikan masa depan cerah, kampus yang mencetak sejuta pemimpin dengan sandangan keagamaan ini..

afri langsung menuju masjid, berjalan ketempat wudlu, beberapa satpam menatapnya mungkin "lugu" itu terjemahan dari sorot mata mereka, setelah mengambil air wudlu dia langsung duduk diserambi masjid, membuka buku dan foto copy materi yang dia dapatkan pada perkuliyahan minggu kemarin,

---

ruangan A1 masih aktif digunakan perkuliahan, afri sibuk mencatat setiap kalimat yang dosen sampaikan, beberapa mahasiswa yang lain sibuk dengan facebook celularnya, beberapa kali dosen sempat menegur mereka tapi namanya anak muda,

"baiklah, sampai disini ada yang bertanya?"

tanya prof faqih pengampu mata kuliyah ilmu jiwa umum itu

"cukup prof"

jawab beberapa mahasiswi yang takk sabar mengahiri perkuliyahan

"sebentar prof"

timpal afri sembari mengacungkan jari ingin mengajukan pertanyaan

"iya afri, silahkan"

"agak sedikit melenceng dari perkuliayahan prof"

"iya silahkan"

"bagaimana menurut profesor dengan fenomena jatuh cinta pada pandangan pertama bila dikaitkan dengan gejala psikologi seseorang?"

"bla bla bla"

Suasana perkuliyahan jadi semakin memanas penjelasan dosen yang membuka berbagai kemungkinan pertanyaan menjadi semakin seru,perdebatan antara mahasiswa dan mahasiswi kelas b angkatan 2007 itu memanas dengan koridor keilmuan..
Afri sibuk berargumen, sementara sesosok gadis cantik duduk paling belakang selalu memperhatikannya, gadis itu tertegun kagum dengan kecerdasan afri, dengan penampilan yang sederhana dengan gaya tenangnya...

---

Perkuliyahan berlalu,

"alhamdulillah... aku dapat ilmu hari ini"

gumannya berlalu

beberapalangkah tak jauh dari gerbang kampus seorang gadis memanggilnya, tak sempat mengernyitkan dahi, afri membuka mata lebar, ternyata dian teman sekelasnya

"salam kenal fri, dian"

sembari mengulurkan jabat tangan, afri sedikit kaku,tak terasa keringat diingin mengalir ditengkuk lehernya,

'ya Allah ampuni aku' batinnya

"eh, ih hh iya, sudah tau kok, gmna, ada yang bisa aku bantu?"

jawabnya gugup..

dian hanya tersenyum geli melihat cowok culun yang reliligius gugup dihadapannya,

"af, aku harap kita bisa berteman baik"

Pinta dian pada cowok culun yang paling punya pengaruh akademik itu. memang benar kepintaran dan keunggulan afri memang mencolok, mungkin karena dia memang rajin dan selalu mengikuti perkulaihan dengan sungguh sungguh..

---

Afri selesei mengerjakan sholat asyar, sebuah mushola kecil dipinggiran kota salatiga, tempat tinggalnya selama dia kuliyah.dia memutuskan untuk merawat mushola daripada harus kos yang itu membutuhkan biaya banyak, dimushola ini dia tumpahkan semangatnya.

Kemudian dia bersandar mengambil kitab suci Al-Qur'an dibacanya surat yusuf beberapa ayat, bayangannya melayang jauh menysuri setiap ayat yang ia baca terbesit bagaimana sang Yusuf di kejar oleh Zulaikha istri sang raja. belum sempat afri mengahiri bacaanya sesosok wajah cantik lewat di angannya membayanginya mengikat setiap syaraf ingatanya.

"dian.."
gumannya

"ya Allah, kenapa hanya wajah itu yang hadir dalam bayanganku, harusnya semua itu tak terjadi, hanya sekali aku bersalaman, tapi ingatan ini begitu mengikat"

Afri menghentikan bacaan alqur'annya, menutup dengan bacaan hamdalah, diciumnya kemudian melakukan aktivitas seperti biasa,menjadi ustadz muda, mengajari anak anak kecil membaca iqro'
---

Adzan subuh memecah keheningan, afri mengeraskan suaranya takbirnya menyeruak sampai langit, melumatkan mimpi hamba Tuhan yang beriman, membangunkan setiap jiwa yang bergelantungan dialam mimpi. Sholat subuh didirikan tapi hanya beberapa orang yang ikut jamaah dibelakang afri.. dalam sholatnya bayangan itu muncul, terpecah konsentrasi sholatnya,

“ya Allah…”
batinya mencoba tak bergeming

“assalamu’alaikum waroh matullah”
“assalamualaikum waroh matullah”

Dzikirnya lirih.. Kembali mengingat ingat tujuannya dari rumah, ada ibu dikampung yang selalu mendoakanya, ada bapaknya yang menjual daun dipasar untuk memenuhi kebutuhanya, ada adiknya yang menggembala kambing… rasa kangen itu kembali mengangkat semangatnya dan mengembalikan niatnya dari awal

“ya Allah.. jangan jadiakan aku orang yang lalai dan menjauh dari agamamu, tetap jaga aku dari kelamnya kehidupan ini, jadikan aku oarng yang selalu menjaga niatku, amin”
---
Indahnya pagi mendadak meluntur, sejuknya pagi menjadi dingin yang menguat, menusuk sampai rahang dan jari jari. Hujan rintik rintik sejak pukul 5.15 itu tak kunjung reda, afri berjalan pelan dari mushola tempatnya bernaung dikota salatiga ini menuju kampus tempatnya belajar, lumayan jauh hingga membuat jaket dan sepatunya basah, dari satu teduhan keteduhan yang lain, emper rumah sampai emper toko dia singgahi untuk menghindari gerimis yang kini menjadi hujan.

Berlari lari kecil menuju gerbang kampus
“ahirnya nyampai juga”
Batinnya dan beberapa teman yang tadi barengan dengan afri ikut tersenyum bernafas lega,

“kehujanan af?” sama seorang temannya  satu angkatan
“iya ni ar..” ari namanya satu kelas dengan afri
“ketinggalan gak ya?”
“insyaAllah nggak, kita masih punya waktu hehe” senyum simpula afri menenangkan temannya
“haha ayo fri”
“ayo”
Teman teman afri ikut berlarian menuju gedung A tempat mereka berkuliyah

Suasansa kelas sudah ramai tapi dosen pengampu perkuliyahan pagi ini belum datang, beberapa teman sekelas afri sibuk menyusun tugas yang belum kelar, afri masuk dengan gaya santainya, dengan pakaian apa adanya, dengan sepatu kunonya, baru beberapa langkah, ada gadis yang memanggilnya dari dalam ruangan, matanya menyisir setiap sudut ruangan mencari sumber suara, ada gadis yang sangat cantik berada dipojok ruangan memanggilnya penuh harap

“afri…”
panggilnya lagi
“iya, kamu manggil aku?” jawab afri
“iya.. bantuin aku mengerjaan tugas ini” rengek gadis itu, dian, gadis yang kemarin menyapanya digerbang kampus, gadis yang menyita konsentrasinya
“boleh”

Kedua insan ini terlibat pembicaraan panjang, saling memberi masukan, begitu cekatan afri membantu dian mengerjakan setiap lembar tugas perkuliyahannya, tanpa terasa hidup dalam relung hati dian perasaan kagum pada sosok sederhana dan cerdas pada diri afri, afri hanya diam waktu tatapan tajam dian ia rasakan, pura pura tak tau, walaupun keringat dingin membasahi punggung dan lehernya…
--

Sejak saat itu afri merasakan hal yang belum pernah dirasakanya, perasaan bahagia yang berkepanjangan, perasaan ingin selalu dekat dengan gadis itu, perasaan yang selalu bersemangat ketika kekampus, jatuh cinta…

“apa ini yang dinamakan jatuh cinta?”
Gumannya dalam sela sela lamunan sorenya,

“ya Allah, sudah waktunya adzan..”
Bergegas dia menuju kamar mandi, diambilnya wudlu, dibasuhnya kedua tangannya lalu dilanjutan urutan rukun wudlu, air yang sejuk mengusap penat seharian, menghapus dosa dosa kecil yang dia lakukan,

“Allahu’akbar”
Takbirnya jelas diiringi niat dari relung hati yang paling dalam, dalam setiap sujudnya dia memohon ketetapan iman dan islam dijauhan dari kemusykilan dan godaan syeitan..

Selesei sholat ditengadahkan kedua tangannya dia meminta kepada Allah atas apa yang ia alami,
“ya Allah, ampuni hambaMu ini, perasaan yang sudah mengubah sedikit niatku, ya Allah, berilah hamba petunjuk dari setiap langkah dan daya yang Engkau taburkan”
---

Siang itu, ketika perkuliyahan berlangsung, handpone afri berbunyi walaupun hanya getar tapi membuat afri gugup karena panggilan dari pamannya, beberapa temannya menyarankan afri untuk izin mengangkat telfn, dian memandang kegugupan afripun ikut hawatir dengan apa yang terjadi

sesaat kemudian afri diluar untuk mengangkat panggilan,
“assalamu’alaikum pak lik, pripun?”
“afri, paklikmu minta supaya kamu pulang sekarang ada hal penting yang perlu emak dan bapakmu bicarakan” pinta pak lik, adik kandung ibunya itu yang biasanya mengirimkan kabar padanya tentang keadaan dirumah
“ada apa pak lik…..”
“Tuuut tuut tuut”
Suaranya hilang terputus, buru buru afri masuk kruangan berbisik pada doseng yang saat itu mengampu, kemudian mengambil tas dan pulang tanpa menghiraukan kawan kawanya, dian gelisah melihat pujaan hatinya pergi begitu saja, semua teman sekelasnya mulai bertanya Tanya, afri tak pernah segugup ini ada apa gerangan?
---

Afri tergesa gesa menyusuri pematang sawah perkampunganya, perasaan yang tak karuan mnyusup relung hatinya, gelisah takut dan sebagainya, keringatnya bercucuran tak ia hiraukan, beberapakali kakinya terperosok didalam lumpur sawah,

“apa yang terjadi dengan bapak, ibu, dan adiknya?” hanya itu yang ada dalam pikirannya, hanya itu yang menusuk rasa penasarannya,

sampai di gang masuk rumahnya, banyak orang berada disekitar rumahnya, banyak orang memakai peci dan memakai jilbab, ada bendera hitam kuning…

“bapak…”

Dia berlari kehawatirnya berlanjut menjadi ketakutan yang luar biasa, langkahnya terhenti di depan rumah berdinding bambu dan beratapan welit, kakinya terpaku, kerigatnya bercucuran, nafasnya tersengal detak jantungnya tak menentu…

Keranda tepat berada dihalaman rumanya, ibu dan adiknya menangis berlari memeluknya, saudara saudaranya menghampirinya, bacaan surat yasin terdengar sayu dari dalam rumahnya….

“ya Allah… ”inna lillahi wa innna ilai roji’un”
……………………………………….
---


Suasana perkuliahan kelas B 2007 sepi sekali, tak banyak mahasiswa yang mengajukan pertanyaan tak ada yang berdebat, pasif sesekali dosen mencari cari sosok pemuda yang selalu aktif bertanya, tapi nihil, dian pun diam penanya mlaju tak tentu arah menulisakan kata katan yang terarah, beberapakali tatapan matanya menuju pintu, berharap pemuda yang mengagumkan itu muncul dengan wajah teduhnya, dengan gaya santunnya dengan penampilan culunnya.. tapi  nihil…

Dia pergi dan tak kembali…..
---


reQuest dari Aziza Little Maganda
maaf, masih jauh dari harapan........

Postingan populer dari blog ini

puisi (fitnah itu)

fitnah itu Aku memang bukan orang baik, Tapi tak seburuk itu kamu memperlakukanku Aku ini buaya Tapi aku ini tetap punya hati untuk mengukur kasih sayang Aku ini makhluq Allah Tapi bukan penyembah makhluk yang lain Andai aku salah Katakan padaku Jangan kau katakan pada orang yang tak tau menahu tetap saja perkataan itu tak baik untukku Coba ceritakan Dengan pelan dan penuh kebenaran Bukan tangisan yang seharusnya kau keluarkan Mraung raung, Sudahlah, aku sudah cukup untuk menerima semua ini, buatku semua Apa aku harus diam? Sabar dan hanya sabar? Atau aku harus berteriak mencoba meembenarkan Naifkah aku bila ku berkata benar Bodohkah aku bila aku tetap tersenyum? Huh. Aku kira aku akan melakukanya Berbuat yang benar Melakukan yang benar pula Agar aku tak disalahkan lagi, Menjadi kambing hitam dari semua kebohonganmu,

cerpen islami (ustadz muda itu..)

                ustadz muda itu...            Udara malam semilir menyapu dan menyapa mushola Al-Hidayah, mushola kecil dipinggiran kota Ungaran yang sudah 2 tahun lalu berdiri. Lampunya redup tapi cahaya alami dimushola itu seakan tak ada habisnya menerangi jalanan didepanya, bukan karena lampunya tetapi karena Allah yang selalu menerangi setiap baitN ya.             Mungkin inilah cahaya yang selalu Allah jajikan untuk setiap tempat dimana ada orang-orang yang mau bersujud kepadaNya.             Langit begitu cerahnya menyajikan jutaan bintang sebagai wujud keagungaNya, pelan suara syair Ilahi senada mengalun lirih dari seorang muda, sendiri.. beberapa saat keamudian dia beranjak, “Allah....huakbar Allah....huakbar..” suaranya melengking keras dengan speaker ...