Langsung ke konten utama

(cerpen) izinkan aku meminta maaf



Sepertinya lampu lampu telah padam, udara malam menyelimuti setiap keheningan yang mencekam, tatapan mata berayun menuju kesejukan di alam lain yang menyenangan, sejenak langkah-langkah mulai menata arah menuju surga dunia, setiap belaian nocturno menuntun nafas-nafas berganti uapan mulut tanda rasa kantuk yang amat menekan,
Suasana berbeda, sebuah tempat yang indah, singgasana setelah kehidupan dan ayunan nikmat senada dengan teriakan kecil yang tak terdengar dalam alam nyata, jasad- jasad bersemayam, menanti berbagai pertanyaan yang akan dia teriama sebagai ujian atas pelajaran yang diterimanya di dunia.
Kemudian saat beberapa sosok penanya datang sebagai utusan Sang Maestro, jasad-jasad tak berdaya itu bangkit, menyiapkan sejuta memori yang bertahun-tahun mereka rekam, ada surga yang tertata bagi siapa yang bekata,
Sangat indah..
----
Lalu, diujung jalan, ujung keheningan, dan dimalam yang tak terlelap, sesosok ruh, berdiam disana, melihat sekitarnya, mencoba mengukur seberapa jauh dia akan melangah lagi, kemudian dia berdiri berjalan entah kemana arahnya, hanya saja sebuah cahaya diujung utara menantinya menyelamatkanya dari malam yang tak kunjung padam,
nafasnya terhuyun, langkah nya cepat, beberapa tatapan kosong dari raga lain manandainya sebagai bingung, berhenti lalu bertanya pada jiwa disekitar
“dimanakah saya berada?”
Tanyanya kebingungan
“dialam lain, alam indah bagi orang yang berbuat baik”
Jawab orang itu, kemudian berjalan pelan kearah yang berlawanan
Datang lagi jiwa yang lain,
“saya harus kemana?”
“kenapa kamu baru bertanya sekarang?, bukankah itu sudah kau tentukan dalam kehidupan”
Jawab orang itu dengan muka garang dan kesepian
Semakin bingung dia, tak ada yang ia pikirkan kecuali dimana aku sekarang, kenapa semua orang menatapnya berbeda, kenapa malam tak kunjung hilang..
Dia berjalan lagi, tapi tidak secepat tadi, langahnya kian rapuh kian lemah, lalu terseok seok, beberapa kali harus jatuh, dia berfikir kenapa tak ada orang yang perhatian padanya, walaupun banyak orang yang memperhatikanya,
Semenit, atau bahkan sedetik kemudian cahaya itu semakin nyata,
“mungkin itu pagi yang sebenarnya,”
pikirnya
“bukan, itu hanya pintu biasa yang tiap jiwa disini memilikinya”
Celetuk orang lain, berjalan tanpa melihatnya
Dia tertunduk kaku,menelusuri setiap kebingungan yang dia alami, mencoba berfikir kembali kenapa dia bisa berada disini?
Dicarinya telephone genggam yang biasa dibawanya, tak ia temukan hanya sobekan sobekan usang baju yang dia pakai,
“kumuh sekali aku, dimana baju bagusku?”
“tak ada yang memakai baju bagus disini, kecuali dulu dia bagikan baju bagus kepada kebaikan”
Celetuk orang lain lagi mencaci dengan halus, berlalu lagi, tak menghiraukan,
“hei diam kau!!!”
Memuncak amarah, berteriak tanpa tentu arah, mungumpat menghujat tersungkur dengan kemelut kebingungan yang ia alami, dia menangis, tapiair mata tak keluar, hanya beberapa pori porinya mulai menanah,

“aku dimana? Bukankah tadi aku berkerja,dikantorku dengan puluhan file yang harus aku seleseikan, dimana aku? Bukankah aku hari ini ada tugas yang terbengkelai, ah sekretarisku pasti lebih pandai untuk membuat file baru untuk menggantikan tugasku, tapi aku ini dimana?”

Cahaya semakin dekat kali ini didalamnya ada pintu kecil yang terbuka sedikit, tangisnya reda walaupun kebingunganya msih ia alami.
“itu pintumu kawan, masuk lah kamu akan tau dimana kamu sekarang” beberapa orang dibelakangnya menunjuk cahaya itu,
“tak perlu bingung kawan” yang lain menimpali dengan halus
Ada juga yang berteriak berkali kali mengusirnya…
“katakana dulu aku dimana? Kenapa gelap sekali hari ini, seakanmalam tak kunjung berahir,” tanyanya pada orang yang kemudian berlalu tanpa jawaban sedikitpun, menjauh meninggalkan dengan kegalauan dari kekosongan jawaban tadi,
“anjing!!! Kalian memang berengsek” emosi itu meluap lagi, tapi tetap saja jiwa jiwa itu menyusur keheningan yang menjadi jalan mereka, meninggalkanya sendiri
“aku akan temukan jalan pulang, aku tak akan tersesat seperti ini”
---
Sesaat kemudian dia berjalan, menuju pintu penuh cahaya itu, agak cepat memang karena separuh dari tenaganya sudah kembali pulih, cahanya itu membuatnya silau, lalu dia masuk, perlahan, cahanya sangat kuat sehingga kelopak matanya spontan tertutup dan …
---
Bagai terbang diangkasa, diawang awang menyusuri tiap sudut alam nyata, terlihat beberapa anak kecil yang bermain, beberapa pembantu bekerja dengan serius, lalu istrinya memasak didapur, rumah megah yang biasa menjadi tempat tinggalnya, beberapa mobil mewah masih berada digarasi istananya,
Dia masih melayang, mulutnya terkunci, hatinya berontak, berteriak, ingin rasanya turun dan memeluk keluarganya meminta maaf pada istri yang sudah diselingkuhinya, pada anak yang tak pernah disayangnya, pada pembantu yang dimaki makinya padahal begitu rajinya dia berkerja, dia sadar kesendirian mengubah hidupnya,
Dia masih melayang jauh menyusur tiap sudut kota yang menjadi daerah kerajaan bisnisnya, menyusuri jalan setapak melihat kumuhnya perkampungan yang digusurnya untuk mendirikan pundit pundi terciptanya uang, menyusuri jalanan yang biasa dia lewati, anak anak yang selalu dimakinya saat menjual suara disamping jendela mobilnya, pengemis yang selalu diludahinya,

“ya tuhan betapa bodohnya aku menghiraukann mereka,” batinya dengan kebingungan yang ia alami,
Keluhnya
Sampailah ia disebuah gedung megah berlantai belasan, masih melayang hingga kemudian turun dan berjalan, masuk. Rasa lega yang harusnya dia rasakan kerena bisa meminjakkan kaki dibumi, tak kunjung datang, sebab tak satupun orang dikantor itu menyapanya padahal biasanya mereka tunduk hormat, tak ada seorang pun yang menyambutnya, mereka semua berlari menuju lantai paling atas,
“bos kenapa?” Tanya seorang karyawan pada yang lainya
“ayo kita lihat sama sama” ajak karyawan yang lain..
Dia,. Mengernyitkan dahi,
“kenapa dengan aku? Bukankah aku ada disini, enapa mereka berlari menuju ruang kerjaku”
Ikut berlari bersama beberapa karyawan menuju ruang kerjanya, sekretarisnya,kepala bagian, bahkan satpam yang menyapanya tiap pagi mengerumuni mejanya, terkejut bercampur takut, badannya menggigil, tak ada keringat yang keluar hanya bayangan kosong..
Jasad nya terkapar kaku, tak ada nafas hanya beberapa butir pil haram dan beberapa gelas minuman keras tersusun acak dimeja dan lantainya…..
“apa ini??? aku belum mau mati, aku ingin tetap hidup, aku ingin tetap bersama keluargaku”

Tiba tiba dia menjauh…. Jauh.. dan ahirnya menghilang bersama kegalauan di dadanya…

reQuest dari “mas Bambang” sang inspirator
>> maaf mas, masih perlu banyak bimbingan <<

Postingan populer dari blog ini

(cerpen) maafkan aku yang pergi meninggalkanmu

oleh Jaka Tarub pada 29 November 2010 jam 18:40 reQuest dari Aziza Little Maganda Masih pagi sekali, udara masih sejuk kabut guung telomoyo an merbabu masih melekat menyusup setiap sudut kota salatiga, kota kecil nan alami, indah nan menyegarkan, matahari belum tampak, hanya saja sinar indahnya membuat kokok ayam terbangun subuh tadi, perlahan kabut mulai berganti menjadi embun yang menetes tiap daun tiap dahan juga rumput rumput dipinggiran jalan.. segar sekali langkah kaki pasti menyusuri jalan tentara pelajar penuh ksemangat untuk mencari cahaya masa depan, langkah kaki ang tak kunjung lelah, keringat masih tetap berselimut diantara baju usangnya, padahal waktu masih menunjukan pukul 06.00 tapi langkah kaki tak akan berhenti, semangat.. -- suasana kampus masih sepi, masjidpun sepi hanya beberapa satpam yang berpakaian apa adanya dan beberapa tukang kebun membersihkan sampah disekitar halaman, kampus mungil nan indah.. kampus yang menjajnjikan masa depan cerah, kampus y...

puisi (fitnah itu)

fitnah itu Aku memang bukan orang baik, Tapi tak seburuk itu kamu memperlakukanku Aku ini buaya Tapi aku ini tetap punya hati untuk mengukur kasih sayang Aku ini makhluq Allah Tapi bukan penyembah makhluk yang lain Andai aku salah Katakan padaku Jangan kau katakan pada orang yang tak tau menahu tetap saja perkataan itu tak baik untukku Coba ceritakan Dengan pelan dan penuh kebenaran Bukan tangisan yang seharusnya kau keluarkan Mraung raung, Sudahlah, aku sudah cukup untuk menerima semua ini, buatku semua Apa aku harus diam? Sabar dan hanya sabar? Atau aku harus berteriak mencoba meembenarkan Naifkah aku bila ku berkata benar Bodohkah aku bila aku tetap tersenyum? Huh. Aku kira aku akan melakukanya Berbuat yang benar Melakukan yang benar pula Agar aku tak disalahkan lagi, Menjadi kambing hitam dari semua kebohonganmu,

cerpen islami (ustadz muda itu..)

                ustadz muda itu...            Udara malam semilir menyapu dan menyapa mushola Al-Hidayah, mushola kecil dipinggiran kota Ungaran yang sudah 2 tahun lalu berdiri. Lampunya redup tapi cahaya alami dimushola itu seakan tak ada habisnya menerangi jalanan didepanya, bukan karena lampunya tetapi karena Allah yang selalu menerangi setiap baitN ya.             Mungkin inilah cahaya yang selalu Allah jajikan untuk setiap tempat dimana ada orang-orang yang mau bersujud kepadaNya.             Langit begitu cerahnya menyajikan jutaan bintang sebagai wujud keagungaNya, pelan suara syair Ilahi senada mengalun lirih dari seorang muda, sendiri.. beberapa saat keamudian dia beranjak, “Allah....huakbar Allah....huakbar..” suaranya melengking keras dengan speaker ...