Langsung ke konten utama

cerpen islami (kang jangan pergi)




Kang Jangan Pergi…

        Malam telah larut, suara dedaunan dan hewan malam seiring bertasbih dan berdzikir bermunajat kepada penciptanya, anginpun ikut bertasbih berdesis mengarungi angkasa mencari ridlo dariNya. Begitu juga dengan Ahmad, seorang santri senior disebuah pesantren kecil dipojok kota Klaten ini, duduk bersila, menunduk dan menggerak-gerakan jari-jarinya sebagai pengganti tasbih untuk menghitung jumlah dzikir yang ia panjatkan kepada Allah. Wajahnya khusyu’ dan teduh. Surau ditengah-tengah komplek al- barqi dan al-kahfi itu seakan bahagia karna tidak hanya digunakan untuk tidur santri tapi juga digunakan untuk bermunajat mengingat Allah. Sampai pada tengah malam, setelah doa ia panjatkan kemudian ia kembali kekamarnya, melihat santri-santri yang lain pulas Ahmadpun juga terayu oleh rasa kantuk yang ia rasakan.
        Setelah subuh seperti biasa Abah Yai mengaji dan mengkaji kitab tafsir jalalain, para santri berjajar dan merapat kepada beliau untuk sekedar ikut mendengar dan memaknai kitab yang mereka bawa walaupun banyak yang terlelap terkadang ada yang pura-pura sakit kemudian tidur dikamar. Begitu juga dengan Ahmad dengan telaten ia maknai kitab tafsir yang ia sudah katamkan beberapa kali itu, setelah mengaji saat para santri kembali kekamar masing masing Ahmad yang beranjak tiba-tiba berhenti karna Abah Yai memanggilnya.
        ”Ahmad, setelah ini sampean tak tunggu di ndalem, ada yang mau saya bicarakan” dawuh Abah Yai pada Ahmad.
        ”Insya Allah bah saya pasti datang” jawab Ahmad tawadhu’.
        Setelah mengembalikan kitabnya, Ahmad langsung ke ndalemnya Abah Yai yang berada di sebelah barat pondok pesantren, tak ada pikiran Ahmad yang macam-macam karna ia yakin bahwa Abah pasti akan membicarakan tentang niatnya untuk boyong, dan kembali kerumahnya di semarang.
        ”Assalamu’alaikum.” salam Ahmad ketika sudah didepan pintu ndalem.
        ” Wa’alikum salam, ayo masuk     mad ” begitu tahu ahmad mengucapkan salam abah langsung menyuruhnya masuk.
        Didalam Ahmad duduk bersila diruang tamu yang tanpa kursi hanya ada meja lebar, masih terngiang Ahmad bahwa Abah Yai tidak mau dibelikan kursi, dawuh beliau pada waktu itu ”nek ono kursine mengko tamune rak iso lungguh kabeh. trus rizqiku piye?” yah. begitulah alasan beliau, api bagi para santri Abah Yai adalah sosok sederhana yang selalu menjadi suri tauladan bagi mereka. Matanya meyapu seluruh ruangan “masih seperti dulu” batin Ahmad, yah 15 tahun silam saat ia daang untuk pertama kalinya sowan, saat itu Ahmad ingat dengan keluguan dan ketidak tahuanya keluar dari mulud mungilnya “kakek fakir ya..” dan jawaban dari abah yai pun “iya nak kakekmu ini fakir” Ahmad menitikan air mata kini Ahmad tahu ternyata fakir itu bukanlah fakir harta melainkan fakir dari rahmat Allah.
        “Ahmad” tiba-tiba Abah Yai sudah ada di hadapan Ahmad dan memulai pembicaraanya ” apakah kamu tahu kenapa kamu aku panggil kesini?”
        Ahmad mengangguk dan tetap tertundu ”inggih bah.. Insya Allah, soal niat kulo bade boyongan sangkeng pondok” jawab Ahmad halus.
        Abah Yai mendesah seakan melepas penat dan sesak didada beliau ”Iya mad, apakah niat kamu itu benar-benar sudah bulat?”
        ”Insya Allah.. apabila itu Abah meridloi”
        ”Abah ridlo mad.. asalkan kamu memberi alasan yang jelas atas keputusan kami itu.”
        Tuntutan abah supaya Ahmad mau menjelaskan sebab dan alasan dari niatnya untuk meninggalkan pondok, tampaknya ahmad sudah siap untuk menjelaskanya, terlihat sebelum menjelaskan si Ahmad sudah mengangguk angguk, menandakan dia sudah siap.
        ”Abah.. niat saya ini bukanlah dari nafsu tetapi semua ini saya sandarkan kepada kedua orang tua saya yang sudah menginginkan saya untuk meraih masa depan dan mengamalkan ilmu saya yang sudah lima belas tahun saya timba de pesantren bersama Abah. Demi Allah saya masih mencintai pesantren ini.”
        Abah Yai hanya mengangguk tanda bahwa beliau bisa memahami apa yang Ahmad jelaskan.
        ”Baiklah Ahmad, bila itu memang menjadi keputusan terbaik kamu, semoga Allah selalu menjaga langkahmu”
        ”Amin..” Ahmad mengamini apa yang beliau doakan.
        ”kapan kamu akan boyongan?”
        ”insyaAllah besok bah.”
        ”mmm.. baiklah nanti sebelum kamu pulang, ada sesuatu yang akan saya berikan buat kamu, nah sekarang berpamitanlah kepada semua adek adek santrimu terutama Alan Dul dan Ihwan tiga setan kecil itu pasti akan berat kehilangan kamu.” pesan Abah Yai keapada Ahmad, Ahmadpun berlalu dengan perasaan lega. Dalam pikirnya dia menerawang apa yang terjadi keesokan harinya, tapi apapun itu Ahmad selalu memohon yang terbaik buat dunianya dan ahiranya.
        ”Kang, apakah sampean sudah yakin dengan keputusanya sampean?” tanya Kedul yang nama aslinya adalah Abdul itu kepada ketua kamarnya Ahmad yang akan meninggalkan pondok keesokan harinya. Ahmad tersenyum sambil melipat semua pakaianya, dipandangnya anak gendut yang sudah tiga tahun dirawatnya ini.
        ”Dul.. setiap ada pertemuan pasti perpisahan, pada saatnya nanti kamu juga akan mengalaminya” kata Ahmad menenangkan hati Abdul.
        ”Tapi kang, nanti yang bangunin saya kalau subuh siapa?”
        ”iya kang yang marahi dan nasehatin kami siapa?” sambung Alan yang juga menjadi anak bimbingan Ahmad, bukan hanya mereka berdua, ihwan yang baru dua bulanpun merasa kehilangan.
        ”Kang.. jangan pergi ya.. saya kan belum krasan disini kang” Ihwan memberanikan untuk mengungkapkan apa yang ia pendam dari tadi.
        ”Abdul, Ihwan, dan kamu Alan.. kalian tidak boleh bersedih seperti itu, karna semua pasti akan lebih baik dari sekarang, makanya kalian harus selalu kompak, saling mengingatkan, dan berusaha untuk menjadi orang yang mandiri.”
       Mereka semua tertunduk, terlihat raut muka mereka yang sedih karena bagi metreka kang Ahmad adalah senior yang bijaksana bagi mereka walaupun kadang mereka kena marah dari kang Ahmad tapi semua itu mereka mentadari demi kebaikan mereka sendiri.
         Malam harinya kang Ahmad mengunjungi semua kamar dipodok itu sambil mengucapkan salam perpisahan kepada segenap warga pondok, banyak yang keberatan tak terkecuali para pengurus pondok yang sangat berat, karena selain kang Ahmad sebagai tangan kanan Abah, dia juga penasehat bagi mereka. Bahkan tak segan segan kang Ahmad menangani langsung setiap kasus yang mungkin tidak bisa ditangani oleh pengurus.
        Dingin malam tak membuat Ahmad lalai akan kewajibanya.. setelah melakukan sholat tahajud dipanjatkan dzikir dan sembah pujinya kepada Allah yang telah menciptakanya. Seakan semua yang berada dimalam itu menjadi saksi awal perjuangan Ahmad untuk menggapai manfaat dari cita citnya selama ini. Dalam doanya ia ingat apa yang dikatakan orang tuanya.
            ” Ahmad anakku, setelah lama engkau menimba ilmu sudah saatnya engkau kembali dan berjuang di desamu desamu ini kering Ahmad, bapak dan ibumu sudah tidak mempunyai kekuatan untuk menyadarkan wargamu, kembalilah dan berjuanglah”
            Kata-kata orang tua Ahmad seakan selalu terngiang ditelinganya, dan itulah Ahmad mempersiapkan semua yang menjadi tuntutan masyarakat disana nanti.
            Kembali Ahmad terlelap seiring dzikir yang ia panjatkan kepada Allah.. dimushola pesantren diiringi semilir angin malam yang membuatnya sayu dan terlelap diatas sajadahnya, begitu juga rembulan dan jutaan bintang seakan memberi semangat kepada Ahmad atas apa yang ia niatkan.
Suara bus dan teriakan kernetnya memekakkan telinga Ahmad, dengan beberapa kardus dan tas besar yang dipangkunya Ahmad mencoba untuk tetap bersabar dari penasnya bus jurusan klaten semarang itu, keringatnya deras keluar, rasa kantuk yang ia rasakan tiba tiba hilang begitu saja saat teringtnya pada kejadian tadi pagi, saat pengajian ba’da subuh diliburkan hanya karena Abah yaiu nimbali dia dan tidak lain itu karena akan boyongnya Ahmad.
”Ahmad.. sebelum kamu pergi, ada beberapa hal yang akan abah amanatkan kepada kamu, apakah kamu sanggup untuk menerima amanat dariku ini?” Ahmad tertegun sejenak berfikir apa gerangan yang akan disampaikan oleh Abah Yai.
Di dalam bus Ahmad tersenyum sendiri, ada semangat baru yang muncul dari nasehat Abah Yai tadi pagi, Abah pasti tahu yang terbaik buat aku, guman Ahmad sambil meyakinkan hatinya.
Bukan hanya itu saja, Ahmad juga teringat akan surat yang ia tinggalkan untuk ketiga adik santrinya, ketriga adiknya pasti akan sadar dan ikhlas dengan kepergianya setelah membaca surat tersebut. Ahmad tersenyum dan terlelap dikerumunan orang yang ada dibus kota tersebut.
Sebaliknya, jauh dipesantren yang ditinggalkan Ahmad. Ketiga adiknya menagis setelah membaca selembar surat yang ia taruh diatas baju baju yang ia tinggalkan sebagai warisan buat adik-adiknya.

Kepada Alan, Dul dan Ihwan
Assalamu’alaikum..
Maafkan kang Ahmad ya dik, kang Ahmad tidak pamitan kepada kalian, bukan karna kang Ahmad tidak sayang kepada kalian tetapi tadi pagi kalian lelap tidurnya sehingga kang Ahmad tidak tega mengganggu kenikmatan kalian. Oh iya kang Ahmad sudah meninggalkan beberapa kenang-kenangan buat kalian bertiga. Mulai sekarang kalian tidak usah Ghoshob baju-baju dan kaus kang Ahmad karena kang Ahmad sudah meninggalkan buat kalian. Dilaci almari kang Ahmad ada beberapa barang yanmg selama ini kalian cari, rokok, kartu remi, dan gambar dewasa kalian, sekarang kalian bebas untuk menggunakanya, itukan yang kalian harapkan sejak dulu, untuk Dul, gak usah takut lagi dimarahi kang Ahmad karena mearokok sebab mulai sekarang kang Ahmad sudah tidak ada. Alan dan Ihwan kalian tidak usah sembunyi sembuni untuk main remi, kang Ahmad sudah tidak melarang kalian lagi. Tapi pesen kang Ahmad. Kalian sekarang sudah dewasa, belajarlah untuk lebih mandiri tanpa harus nunggu perintah, kang Ahmad tahu kalian pasti bisa menilai mana yang baik dan mana yang buruk. Kang Ahmad pergi dulu ya.. doakan kang Ahmad.
Semoga kalian sukses.
Wassalamu’alaikum...
Teman santri kalian
Ahmad Khariri

Mereka semua tertunduk berderai air mata setelah membaca surat itu, dalam benak mereka, mereka berjanji untuk merubah segala tingkah buruk mereka.

”Kami janji kang kami akan berubah, terima kasih ya kang.. semoga kang Ahmad sukses”
mereka larut pada kerinduan mereka kepada senior yang serlalu membimbing mereka.

                                                            Karangjati 1 April 2009

Nama : Khoirul Walid
11107034
Tarbiyah PAI (A)

Postingan populer dari blog ini

(cerpen) maafkan aku yang pergi meninggalkanmu

oleh Jaka Tarub pada 29 November 2010 jam 18:40 reQuest dari Aziza Little Maganda Masih pagi sekali, udara masih sejuk kabut guung telomoyo an merbabu masih melekat menyusup setiap sudut kota salatiga, kota kecil nan alami, indah nan menyegarkan, matahari belum tampak, hanya saja sinar indahnya membuat kokok ayam terbangun subuh tadi, perlahan kabut mulai berganti menjadi embun yang menetes tiap daun tiap dahan juga rumput rumput dipinggiran jalan.. segar sekali langkah kaki pasti menyusuri jalan tentara pelajar penuh ksemangat untuk mencari cahaya masa depan, langkah kaki ang tak kunjung lelah, keringat masih tetap berselimut diantara baju usangnya, padahal waktu masih menunjukan pukul 06.00 tapi langkah kaki tak akan berhenti, semangat.. -- suasana kampus masih sepi, masjidpun sepi hanya beberapa satpam yang berpakaian apa adanya dan beberapa tukang kebun membersihkan sampah disekitar halaman, kampus mungil nan indah.. kampus yang menjajnjikan masa depan cerah, kampus y...

puisi (fitnah itu)

fitnah itu Aku memang bukan orang baik, Tapi tak seburuk itu kamu memperlakukanku Aku ini buaya Tapi aku ini tetap punya hati untuk mengukur kasih sayang Aku ini makhluq Allah Tapi bukan penyembah makhluk yang lain Andai aku salah Katakan padaku Jangan kau katakan pada orang yang tak tau menahu tetap saja perkataan itu tak baik untukku Coba ceritakan Dengan pelan dan penuh kebenaran Bukan tangisan yang seharusnya kau keluarkan Mraung raung, Sudahlah, aku sudah cukup untuk menerima semua ini, buatku semua Apa aku harus diam? Sabar dan hanya sabar? Atau aku harus berteriak mencoba meembenarkan Naifkah aku bila ku berkata benar Bodohkah aku bila aku tetap tersenyum? Huh. Aku kira aku akan melakukanya Berbuat yang benar Melakukan yang benar pula Agar aku tak disalahkan lagi, Menjadi kambing hitam dari semua kebohonganmu,

cerpen islami (ustadz muda itu..)

                ustadz muda itu...            Udara malam semilir menyapu dan menyapa mushola Al-Hidayah, mushola kecil dipinggiran kota Ungaran yang sudah 2 tahun lalu berdiri. Lampunya redup tapi cahaya alami dimushola itu seakan tak ada habisnya menerangi jalanan didepanya, bukan karena lampunya tetapi karena Allah yang selalu menerangi setiap baitN ya.             Mungkin inilah cahaya yang selalu Allah jajikan untuk setiap tempat dimana ada orang-orang yang mau bersujud kepadaNya.             Langit begitu cerahnya menyajikan jutaan bintang sebagai wujud keagungaNya, pelan suara syair Ilahi senada mengalun lirih dari seorang muda, sendiri.. beberapa saat keamudian dia beranjak, “Allah....huakbar Allah....huakbar..” suaranya melengking keras dengan speaker ...