Langsung ke konten utama

petruk di merapi


FENOMENA PETRUK DAN PERINGATAN UNTUK KITA

Fenomena munculnya awan panas berbentuk tokoh pewayangan petruk, memunculkan banyak komentar dan tafsiran, baik dari segi waktu munculnya sampai pada filosofi tokoh pewayangan tersebut, sedikit mengulas bahwa petruk adalah sala satu anggota dari punokawan, semar, gareng, petruk dan bagong.
Secara filosofi semar mengandung arti fasmir bittho’ah (selalulah melakukan ketaatan) begitu pula dengan petruk, yang secara filusuf mengandung arti “tinggalkan!” “fatruk” menfadi bentuk amar (perintah) berasal dari kata (arab) taroka (meninggalkan)-yatruku (sedang meninggalkan)-utruk (tinggalkanlah). Penambahan “fa” pada kalimat “utruk” mengandung makna “maka” artinya kita diperintahkan untuk meninggalkan sesuatu yang sudah kita lakukan setelah ada peringatan.
Menilik daripada itu, munculnya awan berbentuk petruk mengandung makna yang sangat jelas bagi kita warga sekitar merapi hususnya dan Indonesian pada umumnya. Kita yang telah lama melakukan kemaksiatan kemungkaran dan berbagai perusakan terhadapap alam, secara spontan meletusnya gunung merapi dan munculnya awan petruk tersebut menandai bahwa kita harus segera meninggalkan (kemungkarann dan kemaksiatan) dan melakukan perbaikan terhadap alam ini.
Ini adalah peringatan Tuhan yang disampaikan melalui meletusnya gunung merapi yang menjadi salah satu dari 7 gunung berapi teraktif dan terbahaya di dunia ini.
Sederhana sekali memang, tapi makna yang terkandung dalam setiap fenomena ini selalu luas untuk kita gali. Siapa yang sadar dan mau menyadari mungkin akan lebih memaknai semua ini sebagai nasehat yang berharga, tapi bagi yang menghirauan akan menganggap semua ini sebagi fenomena alam biasa.
Lebih daripada itu, sejak pertama meletus tanggal 25 oktober 2010 sampai detik ini tidak menampakkan meredanya aktivitas merapi bahkn semakin meningkat. Sebenarnya pesan apa lagi yang akan muncul?
Bertawakal dan bertaubat itu lebih baik..


  • Mahasiswa semester VII Tarbiyah. Pendidikan Agama Islam STAIN Salatiga
085742382397
Karangjati-Bergas-Kabupaten Semarang
Rt 11 Rw. I no:5 kode pos 50552








Postingan populer dari blog ini

(cerpen) maafkan aku yang pergi meninggalkanmu

oleh Jaka Tarub pada 29 November 2010 jam 18:40 reQuest dari Aziza Little Maganda Masih pagi sekali, udara masih sejuk kabut guung telomoyo an merbabu masih melekat menyusup setiap sudut kota salatiga, kota kecil nan alami, indah nan menyegarkan, matahari belum tampak, hanya saja sinar indahnya membuat kokok ayam terbangun subuh tadi, perlahan kabut mulai berganti menjadi embun yang menetes tiap daun tiap dahan juga rumput rumput dipinggiran jalan.. segar sekali langkah kaki pasti menyusuri jalan tentara pelajar penuh ksemangat untuk mencari cahaya masa depan, langkah kaki ang tak kunjung lelah, keringat masih tetap berselimut diantara baju usangnya, padahal waktu masih menunjukan pukul 06.00 tapi langkah kaki tak akan berhenti, semangat.. -- suasana kampus masih sepi, masjidpun sepi hanya beberapa satpam yang berpakaian apa adanya dan beberapa tukang kebun membersihkan sampah disekitar halaman, kampus mungil nan indah.. kampus yang menjajnjikan masa depan cerah, kampus y...

puisi (fitnah itu)

fitnah itu Aku memang bukan orang baik, Tapi tak seburuk itu kamu memperlakukanku Aku ini buaya Tapi aku ini tetap punya hati untuk mengukur kasih sayang Aku ini makhluq Allah Tapi bukan penyembah makhluk yang lain Andai aku salah Katakan padaku Jangan kau katakan pada orang yang tak tau menahu tetap saja perkataan itu tak baik untukku Coba ceritakan Dengan pelan dan penuh kebenaran Bukan tangisan yang seharusnya kau keluarkan Mraung raung, Sudahlah, aku sudah cukup untuk menerima semua ini, buatku semua Apa aku harus diam? Sabar dan hanya sabar? Atau aku harus berteriak mencoba meembenarkan Naifkah aku bila ku berkata benar Bodohkah aku bila aku tetap tersenyum? Huh. Aku kira aku akan melakukanya Berbuat yang benar Melakukan yang benar pula Agar aku tak disalahkan lagi, Menjadi kambing hitam dari semua kebohonganmu,

cerpen islami (ustadz muda itu..)

                ustadz muda itu...            Udara malam semilir menyapu dan menyapa mushola Al-Hidayah, mushola kecil dipinggiran kota Ungaran yang sudah 2 tahun lalu berdiri. Lampunya redup tapi cahaya alami dimushola itu seakan tak ada habisnya menerangi jalanan didepanya, bukan karena lampunya tetapi karena Allah yang selalu menerangi setiap baitN ya.             Mungkin inilah cahaya yang selalu Allah jajikan untuk setiap tempat dimana ada orang-orang yang mau bersujud kepadaNya.             Langit begitu cerahnya menyajikan jutaan bintang sebagai wujud keagungaNya, pelan suara syair Ilahi senada mengalun lirih dari seorang muda, sendiri.. beberapa saat keamudian dia beranjak, “Allah....huakbar Allah....huakbar..” suaranya melengking keras dengan speaker ...