Langsung ke konten utama

(hak buruh atas eksploitasi potensi dan harga diri mereka)


”Zaman dulu Belanda memberi pendidikan kepada rakyat supaya rayat bisa berkerja hanya untuk memperkaya penjajah, tak ada bedanya dengan sekarang rakyat kia belajar tetapi diplokoto untuk memperkaya orang asing juga”

HAK BURUH ATAS EKSPLOITASI POTENSI DAN HARGA DIRI MEREKA
Kalimat diatas adalah kalimat yang diutarakan Prof. Mansyur Dosen mata kuliyah Sejarah Pendidikan Islam pada perkuliahan yang saya ikuti di kampus STAIN Salatiga.
Sejauh itu saya jadi berfikir, kok iya ya. bangsa ini hanya menjadi mesin uang bagi negara lain..
Sedikit menengok, Semarang dan Kabupaten Semarang adalah daerah yang menjadi central industri di tanah jawa bagian tengah yang didalamnya terdapat ratusan pabrik, baik garment, tekstil dan lain sebagainya, yang mana sebagian besar dari pabrik-pabrik itu adalah milik orang asing, akan tetapi 100% buruhnya adalah putra dan putri bangsa ini, ya, ini wajar karena perusahaan tersebut berada di Indonesia dan tentunya juga untuk mengurangi angka pengangguran yang kian hari kian meningkat,
Setiap hari puluhan bahkan ratusan orang berdatangan menuju kawasan perindustrian ini untuk mengemis pekerjaan, mereka membawa lembaran lembaran yang sudah resmi sebagai syarat pendaftaran lowongan pekerjaan, dan sebagian mereka diterima sesuai dengan keahlianya baik mejahit, ngobras bahkan tukang sapu.
Wajah mereka nampak senang sekali ketika mendapatkan pekerjaan itu, tak ada pikiran lain dalam benak mereka kecuali ditanggal muda mereka mendapatkan uang gajian.
Sekilas wajar hal tersebut terjadi, karena kita melihat bagaimana kondisi perekonomian Indonesia saat ini. Yang mana setiap orang membutuhkan pekerjaan sebagai penunjang hidup sehari hari. Akan  tetapi ada hal yang luput dari pandangan kita, sadar atau tidak mereka bahkan kita telah merasakan yang sebenarnya terjadi.
            Eksploitasi Tenaga
Ini yang terjadi, kesewenang-wenangan para kapitalis dalam memperkerjakan mereka, penindasan dan penyekapan kebebasan hanya dengan iming iming gaji UMR tiap bulanya, baik masalah fasilitas, akomodasi gaji bahkan jam kerja.
Beberapa hari yang lalu saya menemukan koran usang dan sempat membaca berita tentang buruh, seorang buruh berbicara dengan wartawan menceritakan yang sebenarnya dari demo yang mereka lakukan. ”kami menuntut hak kami, dan memprotes kesewenang-wenangan paabrik, para buruh lembur sampai jam 10 tapi hanya dibayar sampai jam 6, bahkan kemarin suami suami kami protes kepabrik karna kami belum boleh pulang, dan kami juga menuntut kenaikan uang makan yang hanya 1000 rupiah per-hari, juga jamsostek yang kadang dibayar kadang tidak” ini adalah ungkapan perempuan buruh salah satu pabrik (PT) di Semarang.
Sebenarnya apa yang terjadi?  
Jam Kerja & Gaji
Para pekerja datang tepat waktu sesuai dengan kontrak kerja yang mereka terima yaitu 8 jam, mulai pukul 7 pagi,  tetapi saat pulang mereka harus menunggu beberapa jam dari jam seharusnya mereka pulang, kenyataanya yang seharusnya mereka kerja selama 8 jam mereka bisa kerja 15 bahkan 17 jam, dan yang paling parah kadang mereka harus menyeleseikan pekerjaan sampai jam 1 atau 2 dini hari dengan berbagai alasan dari perusahaan.
Tahukah anda semua? Gaji yang lebih dari 8 jam kerja tadi (lembur) kadang dibayar sedikit bahkan tidak dibayar sama sekali,
Sempat saya pada saat itu melewati sebuah pabrik garment yang berada di kawasan Bawen Kab. Semarang saat itu pukul 12 malam ada beberapa lelaki yang bahkan bapak bapak di depan pabrik X sekitar 20 orang sedang ngobrol bahkan ada yang tidur dimotor mereka seakan kelelahan menunggu seseorang, saya ikut nimbrung dengan mereka dan ketika saya tanyakan, ternyata mereka sedang menunggu istri dan keluarga mereka yang bekerja di pabrik tersebut, mereka mengatakan kalau istri dan keluarga mereka sedang lembur, lalu saya tanya kenapa sampai jam segini? Mereka menjawab bahwa katanya produk dari pabrik tersebut akan dikirim besok, sehingga para buruh harus menyelaseikan pekerjaan mereka.
Dan tahukah anda? yang terjadi adalah bapak bapak tadi pulang tanpa keluarga dan istri istri mereka karena mendapat informasi dari satpam yang bertugas bahwa mereka pulang jam 3 dini hari! Ngeri!!!!!

Beberapa hari yang lalu juga sempat saya bertanya kepada seorang perempuan muda yang menjadi buruh pada salah satu pabrik garment dikawasan Karangjati Kab. Semarang, saat itu dia pulang kerja pukul 9 malam, ”Wah mbak gajinya banyak dong lembur sampai jam segini?” Yang mengejutkan dari jawaban perempuan tadi adalah mereka hanya dibayar lembur 2 jam padahal mereka lembur selama 6 jam, lalu kemana yang 4 jam lainya? Katanya mereka di-strap (sangsi lembur tanpa gaji) karena target kerja tidak tercapai, dan yang lebih memprihatinkan lagi hal itu terjadi hampir setiap hari!
Saya sempat tertegun, kemudian saya tanyakan kenapa masih betah? Kenapa tidak demo atau protes? Jawaban dia adalah dari expresi rasa takut dan tertekan, mereka mengatatakan ”kalau protes kita dipecat, kalau keluar mau kerja dimana lagi?”
Hati saya menagis mendengar hal tersebut, setiap tahunya ratusan bahkan ribuan kader dan SDM Indonesia kehilangan potensi hancur sia sia hanya karena penindasan hak mereka sebagai buruh..
Akomodasi dan Transportasi
Mengingat sebagian besar pera buruh adalah orang yang datang dari luar daerah, kebanyakan mereka akan tinggal dikos atau kontrakan yang dimana mereka akan mengeluarkan uang setiap bulanya untuk membayar kos dan kontrakan, bahkan bila kos atau kontrakan mereka jauh mereka harus naik angkot.
Tak adakah kebijakan dari pabrik dan PT yang mereka tempati untuk memberikan kemudahan dalam transportasi dan bersinggah, coba kita bayangkan saat mereka harus pulang larut malam jalan kaki karena sudah tidak ada angkutan  apalagi mereka perempuan, jalan sendiri menuju kontrakan mereka, iya kalau aman, bagaimana kalau ada tindak kejahatan? (bahkan sudah sering terjadi) dimana letak tanggung jawab mereka yang mempunyai perusahaan tertsebut?
            Makan dan Kesehatan
            Hal ini juga menjadi polemik dalam lingkungan dimana mereka bekerja, ada beberapa perusahaan yang secara terang terangan tidak memberi makan bahkan uang makanpun tidak ada. (seperti yang terjadi disemarang, uang makan hanya 1000 rupiah) kalaupun ada mereka hanya diberi sedikit. Sehingga mereka harus mencari makan diwarung dengan uang gaji mereka yang pas pasan dengan waktu istirahat yang sedikit.(kalau telat masuk di hukum)
            Begitu juga dengan jaminan kesehatan kadang uang jamsostek tidak jelas keberadaanya bahkan tidak ada.
            Kalau saya boleh bicara malang benar nasib mereka

Kebebasan Beribadah
            Hal ini yang paling mengenaskan karena banyak dari buruh pabrik meninggalkan ibadah mereka terutama shalat bagi umat Islam, bagaimana tidak istirahat yang diberikan saat waktu sholat dzuhur sangat terbatas sehingga habis untuk makan dan minum. Kemudian waktu asyar yang kadang (saya pernah bertanya) mereka harus ngumpet ngumpet supaya bisa sholat karena kalau ketahuan mereka tidak bekerja, merekan akan mendapatkan hukuman, lalu bagaimana dengan Maghrib dan Isyak?

Penindasan dan pembatasan oleh mereka yang berkuasa pada bawahanya inilah yang seharusnya dari  pemerintah bisa melihat dan menyikapi secara lebih merakyat,
Mereka telat masuk kerja 5 menit saja  mendapat hukuman tapi ketika pulang mereka harus menunggu berjam-jam, mereka bekerja dengan tenaga tapi kebutuhan mereka sebagai manusia baik gaji, makan, jaminan kesehatan, akomodasi dan transportasi mereka dikesampingkan. Strap (hukuman), SP (surat peringatan) hingga pemecatan-pemecatan menjadi ancaman dalam bekerja bila mereka tidak patuh  dan berani melawan.
Saya berfikir dimana letak peri-kemanusiaan yang selama ini digembor gemborkan oleh pemerintah? Kenapa tidak ada tindakan yang dapat membantu para buruh-buruh tersebut?
            Sebagian besar dari mereka adalah perempuan yang seharusnya mendapatkan perhatian dan keistimewaan sesuai dengan kodrat mereka, bukan dikesampingakan begitu saja.
            Mereka memang butuh pekerjaan dan uang tetapi apakah mereka bisa seenaknya ditindas dan di isolir seperti itu?
Sejarah telah berbicara bagaimana kerja rodi dan romusa terjadi, apakah ini bukti bahwa Indonesia belum merdeka secara utuh?
Setiap tahunnya kader kader berpotensi diambil dan diserap oleh mereka yang berkuasa tetapi apa balasan yang diperoleh oleh kader kita?
Salam buat pemerintah, Tolong perhatikan nasib mereka!!
Salam buat para pemilik perusahaan, tolong hargai jerih payah mereka
salam buat para buruh di Indonesia
 selalulah bersemangat dalam berkerja dan mari kita perjuangkan hak kita!

Khoirul Walid
  • Mahasiswa semester VI Tarbiyah. Pendidikan Agama Islam STAIN Salatiga
Iba_iroel@yahoo.com
085742382397
Karangjati-Bergas-Kabupaten Semarang
Rt 11 Rw. I no:5 kode pos 50552







Postingan populer dari blog ini

(cerpen) maafkan aku yang pergi meninggalkanmu

oleh Jaka Tarub pada 29 November 2010 jam 18:40 reQuest dari Aziza Little Maganda Masih pagi sekali, udara masih sejuk kabut guung telomoyo an merbabu masih melekat menyusup setiap sudut kota salatiga, kota kecil nan alami, indah nan menyegarkan, matahari belum tampak, hanya saja sinar indahnya membuat kokok ayam terbangun subuh tadi, perlahan kabut mulai berganti menjadi embun yang menetes tiap daun tiap dahan juga rumput rumput dipinggiran jalan.. segar sekali langkah kaki pasti menyusuri jalan tentara pelajar penuh ksemangat untuk mencari cahaya masa depan, langkah kaki ang tak kunjung lelah, keringat masih tetap berselimut diantara baju usangnya, padahal waktu masih menunjukan pukul 06.00 tapi langkah kaki tak akan berhenti, semangat.. -- suasana kampus masih sepi, masjidpun sepi hanya beberapa satpam yang berpakaian apa adanya dan beberapa tukang kebun membersihkan sampah disekitar halaman, kampus mungil nan indah.. kampus yang menjajnjikan masa depan cerah, kampus y...

puisi (fitnah itu)

fitnah itu Aku memang bukan orang baik, Tapi tak seburuk itu kamu memperlakukanku Aku ini buaya Tapi aku ini tetap punya hati untuk mengukur kasih sayang Aku ini makhluq Allah Tapi bukan penyembah makhluk yang lain Andai aku salah Katakan padaku Jangan kau katakan pada orang yang tak tau menahu tetap saja perkataan itu tak baik untukku Coba ceritakan Dengan pelan dan penuh kebenaran Bukan tangisan yang seharusnya kau keluarkan Mraung raung, Sudahlah, aku sudah cukup untuk menerima semua ini, buatku semua Apa aku harus diam? Sabar dan hanya sabar? Atau aku harus berteriak mencoba meembenarkan Naifkah aku bila ku berkata benar Bodohkah aku bila aku tetap tersenyum? Huh. Aku kira aku akan melakukanya Berbuat yang benar Melakukan yang benar pula Agar aku tak disalahkan lagi, Menjadi kambing hitam dari semua kebohonganmu,

cerpen islami (ustadz muda itu..)

                ustadz muda itu...            Udara malam semilir menyapu dan menyapa mushola Al-Hidayah, mushola kecil dipinggiran kota Ungaran yang sudah 2 tahun lalu berdiri. Lampunya redup tapi cahaya alami dimushola itu seakan tak ada habisnya menerangi jalanan didepanya, bukan karena lampunya tetapi karena Allah yang selalu menerangi setiap baitN ya.             Mungkin inilah cahaya yang selalu Allah jajikan untuk setiap tempat dimana ada orang-orang yang mau bersujud kepadaNya.             Langit begitu cerahnya menyajikan jutaan bintang sebagai wujud keagungaNya, pelan suara syair Ilahi senada mengalun lirih dari seorang muda, sendiri.. beberapa saat keamudian dia beranjak, “Allah....huakbar Allah....huakbar..” suaranya melengking keras dengan speaker ...