Pernah mendengar tentang pantai yang terkenal diseantero dunia? pantai yang menyimpan sejuta mistis dan misteri tetapi juga menyuguhkan keindahan yang tiada tara . Pantai yang berada dipesisir selatan pulau jawa, tepatnya diderah istmewa Yogyakarta, ya, Parangtritis atau biasa kita sebut dengan paris memang menyuguhkan banyak hal yang menarik, pantai dengan pasir coklat kehitaman terltak disebelah bukit dan berada jauh dari kota besar,
Akan tetapi, tidak hanya itu saja, pantai ini juga menyimpan cerita, menjadi saksi bisu sejuta cinta muda mudi, termasuk aku yang hari ini benar benar berada dipantai yang konon katanya milik Nyai Roro Kidul ini, dipantai ini aku akan luapkan rasa rinduku pada sesorang yang seharusnya tak pantas aku ingat ingat lagi, pada gadis yang harusnya aku bisa melupakannya sejak setahun yang lalu..
aku ingin mengungkapkan apa yang menjadi bebanku selama ini,
Dua tahun yang lalu.
“ayankQ besok kejogja ya, aku ingin jalan jalan”
“iya, pasti ayankQ..”
“hmm.. enaknya kmana ya yank?”
“gag tau kan kamu yang faham kota jogja”
“ih.. ayank kok gitu..:-(”
“yaudah kita kepantai gmana?”
“iya yank kita lihan sunset”
“J”
aku besok akan kejogja menemui kekasihku,
ya, wanda seorang gadis cantik berasal dari keluarga yang kaya anak seorang pejabat di daerah magetan jawa timur, kuliah dijogja mengambil jurusan ilmu ksehatan masyarakat disalah satu perguruan tinggi ilmu kesehatan ternama dikota gudeg ini, dan dialah satu satunya gadis yang mau menerima aku apa adanya, aku yang hanya mahasiswa fakultas pendidikan di salatiga dan berasal dari keluarga pas pasan,
Tau bagaimana bahagianya aku, ketika dia menerima lamaranku untuk menjadi kekasihnya? aku sampi tidak tidur berhari hari, saking senangnya..
Hari itu pagi pagi sekali aku datang kerumahnya dikota jogja, sebuah rumah mewah yang hanyadia dan pembantunya yang tinggal, sepeda motorku aku parkirkan didepan gerbang rumahnya, saat aku ucapkansalam berkalikali tak ada jawaban dari penghuni rumah, sekuntum mawar telah aku siapkan untuk wanda kekasihku, aku masih berdiri untuk beberapa menit, setelah itu aku beranikan untuk masuk kedalam rumah, saat setelah aku masuk aku lihat sebuah motor keluaran terbaru sudah nongkrong di garasi rumah, aku tertegun..
“siapa ya..?”
batinku..
rasa penasaranku mulai menyeruak, dari samping rumah aku mengendap endap untuk melihat dari jendela siapa gerangan, toh andai ada yang melihat aku akan beralasan sudah berkali kali aku mengucapkan salam,
jendela samping terbuka, hanya tertutup korden tipis, samar samar aku mendengar suara kekasihku yang sedang bercanda mesra tapi tidak sendirian melainkan ada suara laki laki dan aku yakin itu bukan saudara ataupun keluarganya,
betapa terkejutnya aku ketika melihat gadis yang statusnya adalah kekasihku sedang bermesraan dengan seorang cowok yang aku tak mengenalnya sedikitpun, kakiku bergetar bibirku bergetar kaku tak bisa apa apa, batinku kacau dadaku sesak
“ya tuhan apa arti semua ini,, aku.. aku dibohongi”
spontan aku berlari menuju pintu depan dan masuk tanpa permisi
“braaakk,,!!”
“wanda?.. apa maksud semua ini?”
kedua insan didalam rumah itu terkejut, muka wanda memerah, sedangkan cowok itu berdiri dan memakiku
“hai!! siapa kamu, punya sopan nggak sih? masuk rumah orang tanpa permisi”
“DiAAMM!, ini bukan urusanmu, tanyakan sama perempuan disampingmu siapa aku”
emosiku tak terkontrol umpatan dan makian yang sebenarnya tak sepatutnya aku ucapkan keluar begitu saja dari mulutku..
“aaa,alung??..”
“diam!! sudahlah wanda, sudah cukup semua ini, aku memang orang miskin tapi aku tetap saja punya hati yang itu bisa sakit bila dibohongi”
pelan aku lemparkan senyum sinisku, senyum sakit hati yang tak pernah aku rasakan sebelumnya..
kemudian sampailah aku dipantai ini setahun yang lalu,
aku ingat betul betapa aku menangis..tersedu sedu seperti anak kecil kehilangan mainan yang disayanginya, aku bersedih duduk termangu dihadapan gelombang pantai yang waktu itu kian membesar.. air mata yang mengalir bagai sungai kecil dilaut selatan ini, aku tak tau kenapa hati ini begitu sulit untuk menerima kenyataan bahwa dia memang tak mencintaiku..
hari ini, aku mencoba mengobati rindu ini, pada wanda seorang kekasih yang mampu membuatku merasa bahwa aku adalah laki laki sejati yang bisa dicintai, aku pernah menjadi sempurna karna orang secantik, dia benar benar pernah menjadikan aku kekasih, aku rindu dia wajah cantiknya tinggi badannya, senyum manisnya, tapi semua itu semakin membuatku sadar bahwa aku tak pentas buatnya, aku hanya laki laki biasa…
angin laut semakin besar udara semain dingin, matahari perlahan mulai terbenam, warna merah mega, begitu indah mengiring terlelapnya matahari, aku masih duduk sendiri mengaburkan segala yang aku pikirkan menjadi sebuah lamunan yang dalam, panjang dan tak berujung.
beberapa pedagang sepanjang pantai parang tritis ini mulai mengemasi dagangannya, berganti dengan lampu lampu losmen tempat menginap para wisatawan.
indah sekali, dan ini kedua kalinya aku menikmatinya tanpa siapa yang menemani beberapa tahun lalu, bahkan sekarang..
huft… melamun itu menjemukan, tapi tak apa, ini indah karena aku merasa pantai ini membawa harapan yang tak pernah hilang, pantai ini membawa kenangan yang tak pernah terhapus, kenangan seorang gadis yang entah dimana sekarang, kenangan bersama seorang kekasih yang mungkin sekarang bahagia, mungkin sudah menikmati indahnya kehidupann ini, wanda fahlefi,
sayup sayup suara orang bernyanyi diujung wetan pantai ini, suara riak air yang seakan mengaburkan gaung dan gema setiap orang yang berteriak, aku berdiri mencoba kuatkan hati ini, mencoba menerima kenyataan, bahwa dia memang bukan jodohku..
“rrrrrrrrrrrrrr….rrrr………rrrrrrrr.”
getaran handphoneku,
“huft…” aku tau ini siapa..
“halo bu?”
sapaku pada ibundaku yang berada jauh disemarang
“alung, kamu kemana aja? dicariin banyak orang tuh..”
suara ibu yang halus, lembut dan penuh kasih sayang membuatku tak bisa menolak apapun yang beliau minta, tak terkecuali ketika beliau melihatku murung diahir umur 25 ku dan beliau memintaku untuk menikah dengan gadis yang sebelumnya tak pernah aku kenal, hanya mungkin karena orang tua kami saling mengenal baik,
“iya bu alung segera pulang, bagaimana persiapan penikahan bu?”
“semua beres mbak dan masmu yang menyiapkanya, ayo jangan seperti anak kecil pulang dan raih masa depanmu”
“iya bu..”
aku mendesah panjang, mencoba membuang sesak yang ada dalam dadaku, hanya saja aku tak kusasa menahan perasaan ini bahwa aku masih mencintai wanda, entah dimana dia, entah dengan siapa dia, aku tetap aku yang mencintai dia, aku tak rela bila dia harus kehilangan tempat dihatiku.
Wanda aku kangen kamu……………..