Langsung ke konten utama

Janji Sang Mentari Senja (Parangtritis)



"tempat ini yang mempertemukan kita"
"iya, apa karena itu kamu ingin kita bertemu untuk yang terakhir kali di tempat ini?"
"mungkin..... maafkan aku ya.."
"tak ada yang perlu dimaafkan, kita punya jala yang berbeda bukan?"
"iya..."

ombak-ombak besar pantai laut selatan begitu menggebu ingin mencapai darata lebih jauh, saling berlomba bersama ombak kecil lain, dan terkadang sang ombak kecil harus mengalah menmbiarkan sang besar menacapai lebih dulu. angin sepoi pun menyapu wajahku, juga kerudungnya yang menghias cantik di kepalanya.

setapak demi setapak aku lalui bersamanya, berjalan pelan, mungkin untuk yang terahir kali hal ini kami lakukan. sesekali sisa-sisa deburan ombak menyapa kaki kami berdua dan menghapus bekas tapak kaki mungil kami. hilang seperti sedia kala, kembali menjadi susunan pasir baru,seperti kisah kami.

"semoga kamu bahagia dengan dia" ucapku lirih, berharap dia tak mendengarnya.
"kamu juga.." jawabnya lirih namun tetap saja kami bisa saling mendengar, karena hati kami.
"andai kamu tak menghianati cinta ini" lanjutnya masih dengan nada lirih,
"maafkan aku.." tak terasa air mataku berlinang, lalu terhempas tak melewati pipiku dan bersatu bersama percikan ombak pantai parangtritis.

kami berdua duduk bersading di sebuah batu, di ujung timur pantai. pandangan kami hilang ditelan luasnya pantai.

"andai waktu masih bisa kembali, aku ingin tetap menjaga cinta ini.."
"sayangnya semua itu hanya penyesalan yang terlambat""bukankah tak ada yang terlambat?" tegasku
"maksudmu?" tanyanya mencoba mencari jawaban dari kataku
"di kehidupanselanjutnya, aku ingin menemuimu, lalu membutakan mataku hingga aku tak tergoda dengan wanita lain" jelasku
"heehee, jangan berhayal" senyumya .

kami menyadari, bahwa takdir kami bukanlah bersatu, waktu 3 tahun tak menjamin untuk menjadi pasangan sehidup semati.

langit di ujung barat sedikit memerah, mataharipun hanya tampak separuh. menandakan perpisahan pada pantai, pada hari itu dan pada kami. tapi senja tetap memberi janji, esok dia akan datang lagi, menyulam senyum dan menabur kehangatan untuk dunia yang sama.

"rul, selamat tinggal" ucapnya seraya berjalan menjauhiku. aku hanya terdiam membisu, merasakan air mataku maengalir deras, bahkan sang anginpun tak dapat menerbangkan butiran air mataku. bukan hanya aku, tapi dia juga. air matanya ikut memantulkan cahaya senja yang memerah.

kami tahu, kami masih saling mencintai, hanya saja waktu dan keadaan yang memaksa kami untuk tak bersama dan itulah takdir kami. namun pesan sang matahari senja tak akan pernah kami lupakan. kembali lagi hari esok, dengan harapan baru namun masih dengan cinta yang sama.

Postingan populer dari blog ini

(cerpen) maafkan aku yang pergi meninggalkanmu

oleh Jaka Tarub pada 29 November 2010 jam 18:40 reQuest dari Aziza Little Maganda Masih pagi sekali, udara masih sejuk kabut guung telomoyo an merbabu masih melekat menyusup setiap sudut kota salatiga, kota kecil nan alami, indah nan menyegarkan, matahari belum tampak, hanya saja sinar indahnya membuat kokok ayam terbangun subuh tadi, perlahan kabut mulai berganti menjadi embun yang menetes tiap daun tiap dahan juga rumput rumput dipinggiran jalan.. segar sekali langkah kaki pasti menyusuri jalan tentara pelajar penuh ksemangat untuk mencari cahaya masa depan, langkah kaki ang tak kunjung lelah, keringat masih tetap berselimut diantara baju usangnya, padahal waktu masih menunjukan pukul 06.00 tapi langkah kaki tak akan berhenti, semangat.. -- suasana kampus masih sepi, masjidpun sepi hanya beberapa satpam yang berpakaian apa adanya dan beberapa tukang kebun membersihkan sampah disekitar halaman, kampus mungil nan indah.. kampus yang menjajnjikan masa depan cerah, kampus y...

puisi (fitnah itu)

fitnah itu Aku memang bukan orang baik, Tapi tak seburuk itu kamu memperlakukanku Aku ini buaya Tapi aku ini tetap punya hati untuk mengukur kasih sayang Aku ini makhluq Allah Tapi bukan penyembah makhluk yang lain Andai aku salah Katakan padaku Jangan kau katakan pada orang yang tak tau menahu tetap saja perkataan itu tak baik untukku Coba ceritakan Dengan pelan dan penuh kebenaran Bukan tangisan yang seharusnya kau keluarkan Mraung raung, Sudahlah, aku sudah cukup untuk menerima semua ini, buatku semua Apa aku harus diam? Sabar dan hanya sabar? Atau aku harus berteriak mencoba meembenarkan Naifkah aku bila ku berkata benar Bodohkah aku bila aku tetap tersenyum? Huh. Aku kira aku akan melakukanya Berbuat yang benar Melakukan yang benar pula Agar aku tak disalahkan lagi, Menjadi kambing hitam dari semua kebohonganmu,

cerpen islami (ustadz muda itu..)

                ustadz muda itu...            Udara malam semilir menyapu dan menyapa mushola Al-Hidayah, mushola kecil dipinggiran kota Ungaran yang sudah 2 tahun lalu berdiri. Lampunya redup tapi cahaya alami dimushola itu seakan tak ada habisnya menerangi jalanan didepanya, bukan karena lampunya tetapi karena Allah yang selalu menerangi setiap baitN ya.             Mungkin inilah cahaya yang selalu Allah jajikan untuk setiap tempat dimana ada orang-orang yang mau bersujud kepadaNya.             Langit begitu cerahnya menyajikan jutaan bintang sebagai wujud keagungaNya, pelan suara syair Ilahi senada mengalun lirih dari seorang muda, sendiri.. beberapa saat keamudian dia beranjak, “Allah....huakbar Allah....huakbar..” suaranya melengking keras dengan speaker ...