Karangjati 26 oktober 2006
Kepadamu yang jauh disana
PARISTIN
Ibarat air tak akan selalu bersama sungai, ibarat daun tak akan selamanya di dahannya. Tapi suatu saat ketika rasa rindu makin menggebu, air akan melewati laut menjadi gumpalan mendung dan bertemu sungai melalui hujan, daun akan mengakar dan tumbuh kembali menjadi daun kecil yang selalu menemani pohonnya,
Apa kabar sayang..Bagaimana perjalanmu kali ini? Pasti sangat melelahkan.. namanya juga trans pulau, jawa dan Sumatra tentunya,
Sayang……… ketika kamu baca surat tulisan ini, pasti kamu sedang dalam tengah perjalanan, kalau aku boleh tebak, saat ini mungkin masih di tengah laut, lautnya pasti luas, hmmm.. tapi taukah engkau, bahwa luasnya laut itu tak seberapa luas bila dibandingkan cintaku padamu, aku kangen kamu sayang….
Duh kok aku jadi nangis, hmmm.. biar air mata ini menjadi penghapus sesak dada yang sejak kamu tinggalkan menyesakkanku. Jangan kamu tanya aku sedih atau tidak, saat aku lepas genggaman tanganmu kemarin, saat itu pula aku merasa kehilangan. tetap hubungi aku ya sayang…
Sayang……….. sesak banget dada ini ketika menyadari bahwa engkau tak lagi ada disampingku, aku sadar engkau tak lagi ada dipulau jawa ini. Tenang .. masih ada cinta kita yang selalu mengikat, yang selalu berdoa untuk pertemuan kita di masa mendatang, aku janji sayang bahwa aku akan selalu ada dengan cinta ini..
Sayang…….. kenapa ya kalau dipikir-pikir, aku kok yakin banget kita bakalan sampai pelaminan, padahal dulu itu ini hanya sahabat dekat. Tapi akhirnya kita benar-benar pacaran. Kata orang apa yang kita pikirkan dan kita bayangkan akan menjadi kenyataan, sebaliknya bila kita ragu maka semua itu hanya akan jadi mimpi yang tak pernah usai.
Kemarin waktu kita pisah sebentar saja rasanya udah gak karuan, apalagi ini, kita akan dipisahan tidak hanya oleh ruang tapi waktu yang sangat lama, hhmm.. namun bila ditanya tentang sabar atau tidak aku akan menjawab “sabar” karena saat ini kita baru saja diuji oleh Tuhan, semoga saja kita bias melewatinya, karena cinta dan kangen ini datangnya dariNya, anugrah yang sangat luar biasa indanya.
Aku bersyukur banget punya kekasih seperti kamu, cantik, pintar, dan punya senyum yang menawan dengan lesung pipi. aku janji dan bukan hanya janji bahwa cinta ini akan aku jaga.
Selamat jalan sayang semoga selamat sampai tujuan.
Irul,
Yang selalu merindukanmu
Aku tutup lembaran kusam yang masih aku simpan di antara barang-barang berharga yang aku miliki. Karena situs jejaring sosial tadi, sengaja aku mencari surat ini. Surat yang seharusnya ada ditangan dia beberapa tahun lalu.
Ingatanku menari ke masa lalu.
Kudus, 28 oktober 2006
“ayo tin, kamu harus ngomong, katakan untuk siapa hatimu ini”
“aku tak bisa jawab rul”
“aku mohon katakan, apakah kita akan menjalani hari-hari dengan penuh kebohongan seperti ini?”
“aku masih mencintai dia rul..”
“………………”
Itu kata-kata terakhir yang aku dapatkan dari kejujuran hatinya. Kisah cintaku berhenti diwaktu itu, waktu dimana aku menyadari bahwa hatinya memang sudah berpaling dariku dan kembali kepada mantan kekasihnya yang tidak lain adalah sahabat karibku.
“maafkan aku rul…” katanya dengan mata sayu penuh rasa bersalah
“tidak ada yang salah ris, itu lebih baik daripada kau bohongi hatimu” kataku mencoba tegar
“tapi hatimu?” tanyanya yang mengerti betapa hancurnya hatiku. Aku tahan air mataku, sekuat mungkin.
“hehehe, ulil adalah sahabatku, sahabat karibku, dan kau dulu juga sahabatku, tak ada salahnya kita kembali bersahabat” senyumku getir
Aku simpan kembali amplop surat yang harusnya aku berikan sebagai teman di saat dia pulang ke kampung halamannya, setelah beberapa tahun tinggal di asrama pelajar.
Pati 29 oktober 2006
“lil aku kembalikan paris padamu” kataku saat mempertemukan mereka berdua
“terimakasih rul, kamu sahabatku”
“pasti, kalian juga sahabat sejatiku, aku bangga dengan cinta kalian, kembali setelah lama terpisahkan”
“irul…” paristin ikut berbicara “maafkan aku rul, hatimu pasti sakit” katanya tertunduk
“hai tin, tak pernah ada kebahagiaan yang paling besar kecuali melihat orang-orang yang disayangi bahagia, aku yang salah menafsirkan kebersamaan kita, dan kini aku baru sadar sayang, cinta dan kerinduan itu hanyalah sebatas sahabat” jawabku kuat
Air mataku mengalir deras, aku tertunduk. Ada rasa hati ini remuk redam, ada rasa kehilangan yang teramat, namun ada juga kebahagiaan karena melihat kedua sahabatnya bertemu kembali.
“pesanku satu lil, tin…” aku menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapanku “jaga cinta ini, jaga kasih sayang ini, aku ingin kalian terus bersama, selamanya” lalu aku tinggalkan mereka, dengan senyumperih seraya menyatukan kedua tangan merekan, saling menggenggam.
Sejak saat itu aku tak pernah melihat dan mendengar kabar dari mereka, hingga suatu hari, ulil datang kerumahku.
“maafkan aku rul..”
“maaf untuk apa?”
“aku tak bisa menjaga amanatmu..”
“maksudmu lil?”
“aku pisah dengan paristin, dia dijodohkan dengan orang lain”
Saat itu betapa hancur hatiku, remuk dan kecewa.. namun aku sadar bahwa semua ini kehendak tuhan. Tuhan menyelamatkan hatiku sebelum benar2 terluka. Kecewa dan luka yang harusnya aku tanggung sendiri, aku rasakan berdua dengan sahabatku.
“kita pasti kuat lil”
“iya rul, pasti..”
“hahahahahaha” tawa kami berdua, mengubur semuanya kenangan masa-masa itu.
Selasa, 02 Agustus 2011
Beberapa kali aku keluar masuk dinding situs jejaring sosial Facebook milik kawan-kawanku satu asrama, satu sekolahan di masa SMA dulu. hingga “deg!” detak jantungku seakan berhenti untuk beberapa saat.
“Paris ” sebutku lirih, ada akun yang belum menjadi temanku di situs ini, tapi nama ini, nama yang begitu aku kenal, sangat dekat denganku. Oh tidakkah dia……………………
Special thanks to:
Ulil dan Paris ..
“kengan tak akan pernah hilang begitu saja, walaupun kita sendiri berusaha menghapusnya”
