"bunda kenapa rumah di bawah jembatan?" tanya si kecil kepada ibunya
"adek, tau artinya apa jembatan di atas kita ini?"
"tidak bunda"
"jembatan itu menandakan ikatan persahabatan"
"maksudnya?"
"tidak mungkin dua tempat yang terpisah ini bersatu tanpa adanya jembatan ini"
"berarti kita tali persahabatan ya bunda.."
"satu lagi yang adek harus tau, dimanapun rumah kita, itu adalah surga kita"
"iya bunda, rumaku surgaku"
sang ibu tersenyum manis, mengusap pipi gadis kecilnya kemudian menciumnya lama sekali
***
ingatannya masih kuat, tiga puluh tahun silam ketika pipinya dicium manja oleh seorang yang sangat ia cintai. mengikat sejuta kenangan manis yang tak akan ia lupakan selamanya.
matanya masih kuat menatap ruang ruang sempit dibawah jembatan, melihat anak-anak yang bermain dengan perahu yang dibuat dengan bekas botol air mineral yang sudah usang, dikaitkan dengan seutas tali sembari berteriak "kapalku menang.." "kapalku yang menang" sahut yang lain.
sama seperti tiga puluh tahun silam..
***
"bunda.. bunda.. buatkan aku kapal seperti teman-temanku." rengek gadis lincah itu kepada ibunya yang baru pulang mencari rongsokan
"iya, ni bunda sudah bawain untuk adek.." jawab perempuan setengah baya itu pada putri semata wayangnya
"terimakasih bunda"
"ups, tapi adek harus rajin belajar ya, kelas 2 nanti adek harus ringking satu lagi"
"iya bunda, sani janji.."
kecupan sayang mendarat di pipi halus gadis kecil itu
***
"bu, bu.." panggil seorang berseragam lengkap yang dari tadi mengikutinya
"eh...oh.." jawabnya gugup, lamunannya kabur begitu saja
"apakah kita bisa mulai eksekusi rumah kumuh di bawah jembatan ini?" tanya orang itu
"se...se... sebentar pak
"tapi bu, ini waktu yang tepat untuk mengusir mereka"
"tolong diam dulu pak, ada yang saya sedang pikirkan"
"apalagi bu?"
"sesuatu yang membuat saya bisa memimpin anda dan yang lain dari tempat ini"
"maksudnya...."
Wanita ini meninggalkan anak buahnya, dia berjalan pelan menuju tengah-tengah rumah kecil di bawah jembatan itu, dilihatnya seorang gadis kecil yang sedang bermain perahu dari botol air mineral, sama seperti tiga puluh tahun tahun silam
"adik manis, siapa namamu?" dihampirinya gadis kecil itu, dia berjongkok dan berada persis dihadapan sang gadis
"asna tante" dengan sangat polos gadis itu menjawab
"bunda kemana?"
"bunda? o.. emak.. emak sedang nyari rongsokan.."
kemudian anak kecil itu berlari menuju kepinggir tiang penyangga jembatan, dihampirinya teman teman yang lain dan melemparkannya perahu kecil hasil ciptaanya
***
"bunda... Bunda... bunda dimana?.."
teriak sani memanggil bundanya, dia menangis sesenggukan, gugup dan panik melihat orang orang disekitar rumahnya di kolong jembatan berhamburan. Dilihatnya banyak sekali orang-orang berseragam membawa senjata api laras panjang dan pentungan. Diusirnya orang-orang yang tinggal di kolong jembatan itu, dirusaknya rumah kecil terbuat dari papan dan triplek bekas.
"huuu hhuuu hhuuu hiks hiks bunda dimana, bundaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa"
sani menangis sekeras mungkin mencari bundanya yang dari tadi pagi belum pulang dari mencari rongsokan. sani tetap menangis ketika tangan-tangan kasar menariknya menuju truk bersama teman temanya yang lain, membawanya ke panti asuhan..
***
tiba-tiba kerinduan kepada ibundanya dirasakan, air matanya deras mengalir begitu saja, ditatapnya tempat itu tempat yang akan digusurnya, tempat yang kumuh, kotor dan menjijikan bagi sebagian orang, tapi tidak baginya. Tempat itu adalah surga yang terindah, tempat yang sangat nyaman dan penuh kasih sayang..
"pak polisi, apakah saya boleh mengajukan satu permintaan?"
tanyanya kepada seorang yang berseragam polisi yang sembari tadi mengikutinya
"silahkan bu" jawabnya patuh
"kita batalkan penggusuran ini, kita akan relokasikan penghuninya ditempat yang lebih layak"
"keputusan di tangan ibu wali kota, kami siap melaksanakan"
"trimakasih pak, trimaksih"
kepala polisi itu bingung dengan apa yang dilihatnya, seorang wali kota mengucapkan terimakasih seperti itu, kebingungannya ditambah dengan air mata yang dilihatnya di pipi pemimpinnya itu
***
"bu sani, bu sani, kenapa ibu membatalkan penggusuran rumah kolong jembatan yang kumuh itu" tanya puluhan wartawan yang sudah menunggunya di halaman kantor walikota tempatnya bekerja
"tempat itu adalah tempat yang indah, ada banyak generasi yang hebat di sana, sayang kalau mereka harus kehilangan tempat tinggal"
"lalu, apa yang akan anda lakukan?"
"akan saya pindahkan ke rumah susun yang sebentar lagi terealisasi"
sang walikota pun berlalu masuk ke dalam mobil dinasnya dengan senyum yang terindah, dalam benaknya masih jelas tersimpan kata ibundanya bahwa dimanapun tempat kita tinggal itu adalah surga bagi kita..
"bunda, sani kangen sama bunda.."
air matanya mengalir lagi antara kerinduan dan kebahagiaan
***
ya rabb...
bila tangan kami ini sanggup,
bila kaki ini kuat
bila pikir kami ini mantap
kami akan kuatkan jari-jari mereka,
kami akan angkat dagu mereka..
berbangga ketika harapan sempit yang ada
ya rabb...
demi nafas yang engkau anugerahkan
demi raga yang menjadi karunia
akan kami jaga mereka
dari sengatan mentari yang tak lagi bersahabat
dari dinginnya hujan yang mungkin akan membasahi mereka
ya rabb..
mereka yang lusuh selalu mengaduh
mereka yang kumuh terus mengeluh
izinkan kami yang kuat ini membagi sebagian isi piring kami
sebagian genting kami
bahkan sesobek baju kami
untuk mereka
ya rabb...
maafkan kami
yang mendzolimi diri kami
