Langsung ke konten utama

Buah Ketawadlu'an [sepenggal kisah cinta pesantren]




"neng... ini pesanan neng lia"
"oh apaan tuh?"
"sate ayam neng, "
"kamu ini lupa apa memang tidak mendengar kang?"
"maaf neng.. tap.."
"aalah... ngomong kang kalau tidak tau, kan tadi saya bilang belikan sate kambing"
"ma.."
"ya sudah lah kang.. ..bikin bete aja"
 ahmad meninggalkan neng aulia, putri kiyai dimana ahmad nyantri sekarang. walaupun dibentak beberapa kalipun ahmad tetap sabar. mungkin karena ini adalah salah satu bentuk rasa ta'dzim ahmad kepada guru dan keluarganya.

****

malam hari di serambi aula.
"kamu kenapa murung mad?" tanya fahru yang selesai shalat malam melihat temannya melamun sedih
"ehh. oh.. nggak apa-apa dar.." jawab ahmad gugup, kaget. ternyata lamunannya menarik perhatian gaidar, panggilan akrab fahru.
"hahaha.. kamu ini aneh mad, sudah kelihatan di wajah murungmu kok masih saja ngelak, " tawa fahru, melihat kegugupan ahmad. "kenapa mad? kamu dimarahin neng aulia lagi ya?" lanjut fahru menebak.
"iya dar, mungkin neng aulia tidak suka aku nyantri di sini" jawab ahmad pesimis
"kamu ini ngomong apa? santri kok letoy gitu, khusnudzon ah mad, mungkin saja neng aulia lagi jengkel dengan sesuatu"
"tapi kenapa marahnya sama aku?"
"yang jelas karena wajah kamu itu pantas dimarahi hahahaha" tawa fahru memecah sunyinya pesantren darussalam dengan puluhan santri yang sedang terlelap.
"sudahlah mad, aku tidur dulu, jangan terlalu kamu pikirkan, harusnya kamu bersyukur, santri lain pasti akan bahagia kalau dimarahin sama neng aulia" lanjut fahru seraya meninggalkan ahmad dengan lamunan dan penyesalannya.

memang benar apa yang dikatakan fahru, neng aulia memang sangat cantik bahkan, semua santri putra sangat mengidolakan putri dari kiyai misbah tempat nyanti ahmad. tapi entah kenapa, hati ahmad selalu gundah bila sampai melihat neng aulia sedih apalagi kecewa.

bulan masih tetap bersinar sempurna, walau tanpa bintang disebelahnya.. entah mengapa bintang enggan untuk menemaninya. udara yang semilir menjamah setiap sudut ruangan di pesantren itu, tak terkecuali ahmad yang akhirnya menyerah dan terlelap dengan berselimutkan sarung lusuhnya. tetap di serambi aula.

****

setelah pengajian kita tafsir Jalalain yang langsung di ucal oleh pak kiyai Misbah, ahmad dipanggil oleh pak kiyai. entah ada apa, tapi ahmad merasa takut. takut karena semalam membuat neng aulia, putri semata wayang pak kiyai, marah. tapi ahmad yakin pak kiyai pasti lebih bijaksana dalam menyikapi kejadian tersebut.

di ndalem pak kiyai, ahmad duduk bersila, menunggu pak kiyai keluar dari dalam ruang keluarga. dada ahmad berdetak makin kencang, takut apabila neng aulia menceritakan yang tidak sebenarnya kepada sang ayah. tapi sesuai pesan fahru semalam, husnudzon, insyaAllah tidak akan terjadi apa-apa.

beberapa menit setelah ahmad menunggu ada suara tapak kaki yang keluar ruangan, tapak kai yang sedikit lebih cepat. ini bukan pak kiyai, batin ahmad. namun, ahmad tetap tak berani mendongakkan kepalanya untuk melihat, takut bu nyai atau gus wawan yang keluar. betapa kagetnya ahmad, langkah kaki itu mendekat padanya. kali ini ahmad tak sanggup untuk tidak mendongakkan kepalanya. dan...... 'DEG' jantung ahmad sempat berhenti beberapa mili second.
"hmm.. ngapain kamu kesini??" tanya neng aulia dengan nada lumayan tinggi.
"e... nganu neng.. nganu.."
"nganu ngapa? mau tak marahin lagi??" ancam neng lia melihat kegugupan ahmad.
"eh.. lia, kamu ini kenapa to  nduk? sama kang ahmad kok tidak sopan sama kang ahmad" hardik pak kiyai yang tiba-tiba muncul dari belakang.
"ini bah.. ahmad yang semalem..." belum sempat neng lia meneruskan aduannya kepada abahnya, pak kiyai buru-buru memberi isyarat, agar neng lia masuk dan membawa nampan berisi gelas kosong, bekas tamu semalam.
"huft...." ahmad melepas napas panjang, tanda lega neng lia tidak mengadukan kejadian semalam.

"bagaimana kabar kamu mad?" tanya pak kiyai, saat ahmad mendekat dan bersalaman dengan mencium tangan pak kiyai.
"alhamdulilah pak yai.." jawab ahmad, kembali duduk bersila di hadapan pak kiyai misbah dengan jarak 2 meter.
"tahu kenapa aku memanggil kamu mad?"
"mboten pak yai.." jawab ahmad jujur
"hmm.. langsung saja mad, ini soal kejadian semalam.." "DEG DEG DEG" jantung ahmad kini tak hanya erdetak kencang, tapi seperti mau pecah saja. pikiran ahmad kacau yang ada dalam angannya adalah dia bakal dimarahin pak yai karena kemarahan neng aulia semalam.
"hahahha.. jangan tegang seperti itu mad, ini bukan masalah sate.." tawa pak kiyai melihat wajah ahmad yang mulai ketakutan. tapi ahmad lega karena bukan soal sate yang akan dibicarakan pak yai. tapi dari mana pak kiyai tahu tentang sate itu? ahmad tersenyum dalam hati melihat kejadian ini.
"lalu ada apapak kiyai memanggil saya?"
"ahmad, sebellum aku menjelaskan permasalahannya inti, aku akan bertanya kepadamu, dan aku harap kamu menjawab dengan jujur.."
"injih pak yai" jawab ahmad patuh
"ahmad, kamu nyantri di podok ini sudah lama, kamu juga yang selama ini membatuku dalam setiap permasalahan yang muncul di podok. baik santri yang mbeling atau bahkan menjadi badal  waktu aku ada acara."
ahmad hanya bisa mengangguk angguk tanda bahwa apa yang disampaikan pak kiyainya memang benar. selama ini memang ahmad yang menjadi tumpuan pak kiyai dalam setiap permasalahan di pondok, walaupun banyak juga santri yang seumuran dengan ahmad. namun, ahmad mempunyai kecerdasan dan kepandaian dalam banyak hal. selain ngajinya yang pintar, ahmad juga pandai dalam organisasi. sehingga ahmad mempunyai peran ganda dalam pesantren tersebut. menjadi pengganti pak kiyai dalam mengisi pengajian ketika pak kiyai ada halangan juga menjadi penasehat pondok pesantren.
"ahmad.. apa kamu sudah mempunyai calon pendamping?" pertanyaan pak kiyai kali ini membuat ahmad benar-benar mati kutu. bukan karena ahmad mempunyai calon atau tertangkap berhubungan dengan santri putri. namun karena ahmad tak pernah memikirkan hal seperti itu di umurnya yang beranjak 26 tahun.
"insyaAllah dereng pak kiyai" jawb ahmad lepas
"mad, kalau saya jodohkan kamu dengan wanita aku pilihkan, apakah kamu akan menerimanya?" ahmad semakin tertunduk dengan pertanyaan yang membuatnya mati rasa itu. tapi ahmad tetap saja santri beliau sehingga apapun yang menjadi pilihan beliau, ahmad akan menerimanya.
"kalau menurut pak kiyai, saya pantas untuk gadis itu dan menadapat ridlo dari pak kiyai. insyaAlah saya akan ikhlas menerimanya" ahmad masih saja merendah dan taat
"tapi mad hhh...." pak kiyai menghela nafas panjang, ahmad makin penasaran dengan apa yang akan dikatakan pak kiyai
"mad, gadis ini buta, tuli, dan bisu.. apakah kamu mau menerimanya?"
tangan dan tubuh ahmad bergetar, pikirannya berkecamuk dipenuhi dengan tanda tanya. bahkan ada keinginan untuk menolak dengan gadis yang akan dijodohkan oleh pak kiyai kepadanya. 'ya rabbi apa ini konsekwensi dari pengabdianku? kalau memang ini yang benar menurut ridloMu aki ihlas ya Allah' batin ahmad menangis. tapi ahmad harus menjawabnya
............
"insyaAllah saya menerimanya pak kiyai, ridlo pak Kiyai menjadi Ridlo kedua orang tua saya yang menitipak kepada pak Kiyai bahkan dan insyaAllah menjadi ridlo Allah" jawa ahmad kuat.
"alhamdulillah.. aku tidak salah memilihmu mad" senyum pak kiyai mengembang, tanda bangga kepada santri kebanggaannya.
walaupun gemuruh hati ahmad bergejolak namun ahmad tetap ikhlas.
"kalau boleh tahu siapa gerangan gadis itu pak kiyai?" tanya ahmad penasaran
tanpa menjawab sepatah kata pertanyaan ahmad, pak kiyai memanggil sebuah nama gadis yang berada di balik satir yang menghalangi ruang tamu dan ruang keluarga. nama yang sangat lekat dengan ingatannya, nama indah yang selama ini menjadi dambaan santri-santri. dia adalah 'aulia'... ahmad kebingungan dengan apa yang telah dilakukan pak kiyai terhadapnya.
bukankah neng aulia gadi cantik yang sangat normal? tanpa cacat sedikitpun? bahkan nyamukpun enggan untuk menyentuh gadis tersebut.
sesaat kemudian neng aulia keluar dengan paras yang teramat cantik, dengan senyum yang berbeda dari beberapa saat lalu, bahkan semalam.
"aulia mad, ini gadis yang sengaja aku jodohkan kepada kamu, anakku sendiri mad. dia memang buta mad, buta dari pandangan-pandangan maksiat yang dilarang oleh agama. dia tuli mad, karena selama ini aku selalu menjaganya untuk tidak mendengar suara-suara yang haram didengarnya. lalu dia bisu mad, bisu dari ucapan-ucapan yang haram dikeluarkan oleh mulutnya.. semoga kalian mmenjadi pasangan yang lahir batin mendapat ridlo dari Allah. sakinah, mawaddah wa rohmah.." pak kiyai menangis bahagia dan haru..sedangkan ahmad tak dapat menyembunyikan kebahagiaanya. air matanya keluar deras mengaliri sungai pipinya. air mata bahagia, rahmat dan balasan dari ketawadlu'annya selama ini kepada pak kiyai.

****

"dinda... bolehkah dinda ceritakan kenapa malam itu dinda memarahi kanada karena sate ayam yang kanda belikan? bukankah saat itu dinda memang memintanya?"
"maafkan dinda ini kanda.. saat itu betapa bahagianya dinda mendengar apa yang dibicarakan abah, sebab menjodohkan dinda dengan kanda,"
"maksud dinda?"
"iya kanda, dinda meminta izin kepada abah untuk membuat kejutan kepada kanda"
aulia tersenyum manis, dengan disambut pelukan dari ahmad.. keduanya larut bersama sunyinya malam yang  bukan hanya bulan, namun ribuan bintang ikut menemani indahnya malam itu.

****
Jaka Tarub

special thanks to santri abadi di kulon banon
'kangen dengan suasana bersama mereka'

bah / abah = ayah
nduk = nak / panggilan akrab orang tua kepada anak perempuannya
nyatri = menjadi santri/murid
mbeling = nakal
badal = pengganti
injih = iya 
mboten = tidak 
husnudzon = berperasangka baik
dereng = belum

Postingan populer dari blog ini

(cerpen) maafkan aku yang pergi meninggalkanmu

oleh Jaka Tarub pada 29 November 2010 jam 18:40 reQuest dari Aziza Little Maganda Masih pagi sekali, udara masih sejuk kabut guung telomoyo an merbabu masih melekat menyusup setiap sudut kota salatiga, kota kecil nan alami, indah nan menyegarkan, matahari belum tampak, hanya saja sinar indahnya membuat kokok ayam terbangun subuh tadi, perlahan kabut mulai berganti menjadi embun yang menetes tiap daun tiap dahan juga rumput rumput dipinggiran jalan.. segar sekali langkah kaki pasti menyusuri jalan tentara pelajar penuh ksemangat untuk mencari cahaya masa depan, langkah kaki ang tak kunjung lelah, keringat masih tetap berselimut diantara baju usangnya, padahal waktu masih menunjukan pukul 06.00 tapi langkah kaki tak akan berhenti, semangat.. -- suasana kampus masih sepi, masjidpun sepi hanya beberapa satpam yang berpakaian apa adanya dan beberapa tukang kebun membersihkan sampah disekitar halaman, kampus mungil nan indah.. kampus yang menjajnjikan masa depan cerah, kampus y...

puisi (fitnah itu)

fitnah itu Aku memang bukan orang baik, Tapi tak seburuk itu kamu memperlakukanku Aku ini buaya Tapi aku ini tetap punya hati untuk mengukur kasih sayang Aku ini makhluq Allah Tapi bukan penyembah makhluk yang lain Andai aku salah Katakan padaku Jangan kau katakan pada orang yang tak tau menahu tetap saja perkataan itu tak baik untukku Coba ceritakan Dengan pelan dan penuh kebenaran Bukan tangisan yang seharusnya kau keluarkan Mraung raung, Sudahlah, aku sudah cukup untuk menerima semua ini, buatku semua Apa aku harus diam? Sabar dan hanya sabar? Atau aku harus berteriak mencoba meembenarkan Naifkah aku bila ku berkata benar Bodohkah aku bila aku tetap tersenyum? Huh. Aku kira aku akan melakukanya Berbuat yang benar Melakukan yang benar pula Agar aku tak disalahkan lagi, Menjadi kambing hitam dari semua kebohonganmu,

cerpen islami (ustadz muda itu..)

                ustadz muda itu...            Udara malam semilir menyapu dan menyapa mushola Al-Hidayah, mushola kecil dipinggiran kota Ungaran yang sudah 2 tahun lalu berdiri. Lampunya redup tapi cahaya alami dimushola itu seakan tak ada habisnya menerangi jalanan didepanya, bukan karena lampunya tetapi karena Allah yang selalu menerangi setiap baitN ya.             Mungkin inilah cahaya yang selalu Allah jajikan untuk setiap tempat dimana ada orang-orang yang mau bersujud kepadaNya.             Langit begitu cerahnya menyajikan jutaan bintang sebagai wujud keagungaNya, pelan suara syair Ilahi senada mengalun lirih dari seorang muda, sendiri.. beberapa saat keamudian dia beranjak, “Allah....huakbar Allah....huakbar..” suaranya melengking keras dengan speaker ...