Dulu aku berpikir bahwa cinta itu ya 'memiliki seutuhnya apa yang kita sukai dan apa yang kita anggap sebagai nomor 1'
tapi aku rasa semua itu salah sejak aku mengenalmu. Mencintaimu itu
berbeda, tak ada ambisi, tak ada keegoisan dan apa adanya. Walau kadang
ada rindu yang aneh, walau kadang membayangkan hal yang tak pernah kau
lakukan langsung di hadapanku. Aku tetap merasa nyaman.
Hanya aku dan tuhan mungkin yang tau tentang rasa ini. Dirimu-pun
tak akan kubiarkan tau. Bukan karena aku pelit hanya saja aku ingin kau
menilaiku dengan hatimu dengan nalurimu. Karena aku yakin, kalau Tuhan
menuliskan nama kita bersanding, maka kamu akan tau yang sebenarnya
ada di hatiku.
Tak perlu dipaksa pada saatnya sang mawar akan tetap mekar, sang kepongpongpun akan menjadi kupu-kupu yang cantik.
Terkadang geli aku memikirkannya.. Apa jadinya coba bila kita ini
bersama? Ah...terlalu jauh aku memikirkannya. Tuhan itu lebih
bijaksana dan tau mana yang terbaik buat kita.
Jadi...
Biarkan mengalir terbawa oleh lekukan tubuh sang sungai,
biarkan bersenandung bersama bebatuan yang keras dan
berbaur dengan pasir-pasir pinggiran..
Biarkan saja, karena semua ada masanya.
