Langsung ke konten utama

bolehkah aku jujur tentang Tuhan dan rencanaNya?



 
Aku datang padamu bukan membawa harta, tahta bahkan segudang rayuan hampa. Aku datang padamu hanya ingin menjadi bagian daripada hidupmu di masa datang. Menemanimu hingga salah satu nafas dari kita melemah termakan usia.

Akan aku jelaskan semua.

Masih ingatkah engkau tiga tahun yang lalu, saat aku pertama mengenalmu? Dengan rambut terurai lurus dan kacamata yang saat ini masih engkau pakai, atau bukan. Saat itu aku hanya bisa berpikir 'kau mungkin menarik' karena engkau bukanlah gadis cantik yang berkulit putih pada umumnya, tapi kau memang manis, dengan senyummu dan kerlingan matamu saja telah mampu membuat dadaku sedikit berdesir.

Tapi semua berlalu begitu saja, hingga telah banyak wanita yang singgah di hatiku, berlalu lalang menghabiskan waktuku. Kemudian, terlintas rautmu pada suatu malam, tak terlupakan sedikitpun setiap lekuk dari dirimu. Tak kusangka desiran di dadaku waktu itu mampu menyimpannya di memori otakku bahkan hatiku.

Pernahkah engkau berfikir bahwa saat kita memikirkan seseorang maka cepat atau lambat orang tersebut akan kau temui. Benar sekali, keesokan harinya aku bertemu denganmu, melihatmu dan masih sama seperti tiga tahun yang lalu, membuat dadaku berdesir. Aku tak berpikir 'kebetulan' karena Tuhan tak pernah menciptakan suatu keadaan yang kebetulan, semua pasti ada rencana bahkan tujuan darinya.

Boleh aku jujur padamu?

Mulai saat itu, sebuah rasa aku rasakan. rasa tentang dirimu yang hanya aku yang merasakan. Bukan kau bahkan orang lain. Tapi saat itu aku tak menyebutnya 'cinta' karena aku merasa itu terlalu cepat.

Waktu terus berjalan, hingga kuberanikan diriku untuk menyapamu lebih jauh, mengajakmu untuk sekedar menuangkan secangkir kopi. Tapi kau selalu menolak. Saat itu aku mengerti, aku bukan apa-apamu. Hanya saja, tanpa sadar hatiku telah menganggap dirimu bagian darinya.

Tuhan selalu punya rencana, dan aku menyadarinya saat kau putuskan untuk menemuiku di rumah singgahku. Masih ingat saat beberapa kali batal kau berkunjung ke tempatku? Mulai dari capek, hujan, sampai pada ban motormu yang pecah di tengah jalan. Hahaha.. Kau tau betapa bingungnya aku saat ban motormu pecah? Begitu khawatirnya aku. Tapi, ya sudahlah, toh pada akhirnya kau benar-benar ada di sampingku lebih dekat dari sejengkal jari-jari ini. Dadaku-pun berdesir, tapi lebih hebat daripada yang kemarin. Aku baru sadar itu adalah rasa yang datang dengan rencanaNya, bukan aku atau orang lain yang mengada-ada.

Sejak saat itu hanya bisa berpikir tentangmu lebih dalam di hatiku. Semakin hari semakin dalam dan makin menggerogoti sendi dan pembuluh darahku.

Sampai suatu hari kau katakan bahwa saat ini kau tak mungkin menerimaku, 'aku lebih nyaman menjadi sahabatmu' itu katamu. Taukah kau bagaimana aku menanggapinya? 'Ah bukankah Tuhan punya rencana lain?' sepertihalnya ketika hujan bahkan pecah banmu sehingga batal untuk bertemu denganku. Hingga ahirnya aku benar-benar disampingmu lebih dekat daripada jengkal jari-jari ini.

Kalaupun suatu saat nanti kau tetap menolakku, aku akan katakan pada Tuhan
Tuhan, aku siap dengan cobaanMu, seberapa lama dan berat jalan yang Engkau siapakan untukku,
aku harap ini adalah penantian yang indah.
Bukankah rencanaMu selalu indah pada akhirnya?

satu lagi sebelum aku akhiri tulisan ini. Masih ingat waktu aku bertanya padamu layaknya si raja gombal?
"tau gak bedaya kereta api sama kamu?"
"nggak, emang apa?"
"gak ada bedanya" hahahahaha sampai saat ini kalau aku ingat itu aku selalu tertawa sendiri, apalagi saat tau kau manyun mendengar jawabanku, perutku sampai sakit, hahaha

sampai saat ini, satu yang aku yakini
"rabbana maa khalaqta hadza baathilan"

Tuhan tak pernah mencipatakan sesuatu itu sia-sia

01 Juni 2012

Postingan populer dari blog ini

(cerpen) maafkan aku yang pergi meninggalkanmu

oleh Jaka Tarub pada 29 November 2010 jam 18:40 reQuest dari Aziza Little Maganda Masih pagi sekali, udara masih sejuk kabut guung telomoyo an merbabu masih melekat menyusup setiap sudut kota salatiga, kota kecil nan alami, indah nan menyegarkan, matahari belum tampak, hanya saja sinar indahnya membuat kokok ayam terbangun subuh tadi, perlahan kabut mulai berganti menjadi embun yang menetes tiap daun tiap dahan juga rumput rumput dipinggiran jalan.. segar sekali langkah kaki pasti menyusuri jalan tentara pelajar penuh ksemangat untuk mencari cahaya masa depan, langkah kaki ang tak kunjung lelah, keringat masih tetap berselimut diantara baju usangnya, padahal waktu masih menunjukan pukul 06.00 tapi langkah kaki tak akan berhenti, semangat.. -- suasana kampus masih sepi, masjidpun sepi hanya beberapa satpam yang berpakaian apa adanya dan beberapa tukang kebun membersihkan sampah disekitar halaman, kampus mungil nan indah.. kampus yang menjajnjikan masa depan cerah, kampus y...

puisi (fitnah itu)

fitnah itu Aku memang bukan orang baik, Tapi tak seburuk itu kamu memperlakukanku Aku ini buaya Tapi aku ini tetap punya hati untuk mengukur kasih sayang Aku ini makhluq Allah Tapi bukan penyembah makhluk yang lain Andai aku salah Katakan padaku Jangan kau katakan pada orang yang tak tau menahu tetap saja perkataan itu tak baik untukku Coba ceritakan Dengan pelan dan penuh kebenaran Bukan tangisan yang seharusnya kau keluarkan Mraung raung, Sudahlah, aku sudah cukup untuk menerima semua ini, buatku semua Apa aku harus diam? Sabar dan hanya sabar? Atau aku harus berteriak mencoba meembenarkan Naifkah aku bila ku berkata benar Bodohkah aku bila aku tetap tersenyum? Huh. Aku kira aku akan melakukanya Berbuat yang benar Melakukan yang benar pula Agar aku tak disalahkan lagi, Menjadi kambing hitam dari semua kebohonganmu,

cerpen islami (ustadz muda itu..)

                ustadz muda itu...            Udara malam semilir menyapu dan menyapa mushola Al-Hidayah, mushola kecil dipinggiran kota Ungaran yang sudah 2 tahun lalu berdiri. Lampunya redup tapi cahaya alami dimushola itu seakan tak ada habisnya menerangi jalanan didepanya, bukan karena lampunya tetapi karena Allah yang selalu menerangi setiap baitN ya.             Mungkin inilah cahaya yang selalu Allah jajikan untuk setiap tempat dimana ada orang-orang yang mau bersujud kepadaNya.             Langit begitu cerahnya menyajikan jutaan bintang sebagai wujud keagungaNya, pelan suara syair Ilahi senada mengalun lirih dari seorang muda, sendiri.. beberapa saat keamudian dia beranjak, “Allah....huakbar Allah....huakbar..” suaranya melengking keras dengan speaker ...