Langsung ke konten utama

Biarkan DIA mengutus Malaikat sebagai pengganti diriku




Sepertinya aku hanya bisa mencintaimu melaui tulisan-tulisanku. Ah menyedihkannya diriku, bagaikan pungguk merindukan purnama. Ingin rasanya aku berputus asa, tapi aku terlalu lemah bila harus merasakan kehilanganmu. Salahkah bila aku memang benar-benar mencintaimu? Atau naifkah aku bila harus bertahan dengan perasaan yang tak terbalas ini. Cinta mungkin yang membuatku menjadi lemah, lebay bahkan mendayu-dayu seperti ini tapi cintaku padamu pulalah yang membuatku kuat untuk bertahan walau itu tanpa balasan darimu.

Di setiap tulisanku aku selalu sertakan memoriku akan dirimu. Tak pernah aku mengharapkan lebih dari senyummu untuk kata yang aku rangkai.

Aku memang bodoh, terlalu berharap lebih akan dirimu. Namun, akupun tak memungkiri bahwa hati ini mampu mewujudkan dirimu di setiap waktuku. Tahukah engkau hati ini hanya berpikir tentang siapa? Tahukah engkau bila semua yang aku lakukan hanya untuk siapa? Dan tahukah engkau bila ada namamu di setiap do'aku?  Ah, memikirkankupun itu suatu hal yang sangat mustahil.

Berharap untuk suatu yang sulit terjadi, tamanni itu namanya, tapi di dunia ini tak ada yang tak mungkin, walaupun itu kecil kemungkinannya. Namun, sekecil apapun itu pasti selalu berarti bagi yang menghargainya. Aku menghargai setiap gerakmu tentangku. Setiap sms yang engkau kirimkan padaku, setiap perbincanganmu yang selalu ada namaku disitu, akan menjadi suatu hal yang terindah buatku, walaupun itu hanya gurauan semata.

Kini, aku akan labuhkan harapanku pada DIA yang menciptamu. Aku serahkan padaNya banyak hal yang tak mungkin aku lakukan padamu. Perhatian, kasih sayang, pengertian dan mewujudkan keinginanmu. Biarkan DIA mengutus malaikatNya sebagai pengganti diriku, sehingga keberadaanku tak lagi merisaukan kehidupanmu. Namun, aku ingin sampaikan padamu kalau aku sangat mencintaimu


07 Juni 2012

Postingan populer dari blog ini

(cerpen) maafkan aku yang pergi meninggalkanmu

oleh Jaka Tarub pada 29 November 2010 jam 18:40 reQuest dari Aziza Little Maganda Masih pagi sekali, udara masih sejuk kabut guung telomoyo an merbabu masih melekat menyusup setiap sudut kota salatiga, kota kecil nan alami, indah nan menyegarkan, matahari belum tampak, hanya saja sinar indahnya membuat kokok ayam terbangun subuh tadi, perlahan kabut mulai berganti menjadi embun yang menetes tiap daun tiap dahan juga rumput rumput dipinggiran jalan.. segar sekali langkah kaki pasti menyusuri jalan tentara pelajar penuh ksemangat untuk mencari cahaya masa depan, langkah kaki ang tak kunjung lelah, keringat masih tetap berselimut diantara baju usangnya, padahal waktu masih menunjukan pukul 06.00 tapi langkah kaki tak akan berhenti, semangat.. -- suasana kampus masih sepi, masjidpun sepi hanya beberapa satpam yang berpakaian apa adanya dan beberapa tukang kebun membersihkan sampah disekitar halaman, kampus mungil nan indah.. kampus yang menjajnjikan masa depan cerah, kampus y...

puisi (fitnah itu)

fitnah itu Aku memang bukan orang baik, Tapi tak seburuk itu kamu memperlakukanku Aku ini buaya Tapi aku ini tetap punya hati untuk mengukur kasih sayang Aku ini makhluq Allah Tapi bukan penyembah makhluk yang lain Andai aku salah Katakan padaku Jangan kau katakan pada orang yang tak tau menahu tetap saja perkataan itu tak baik untukku Coba ceritakan Dengan pelan dan penuh kebenaran Bukan tangisan yang seharusnya kau keluarkan Mraung raung, Sudahlah, aku sudah cukup untuk menerima semua ini, buatku semua Apa aku harus diam? Sabar dan hanya sabar? Atau aku harus berteriak mencoba meembenarkan Naifkah aku bila ku berkata benar Bodohkah aku bila aku tetap tersenyum? Huh. Aku kira aku akan melakukanya Berbuat yang benar Melakukan yang benar pula Agar aku tak disalahkan lagi, Menjadi kambing hitam dari semua kebohonganmu,

cerpen islami (ustadz muda itu..)

                ustadz muda itu...            Udara malam semilir menyapu dan menyapa mushola Al-Hidayah, mushola kecil dipinggiran kota Ungaran yang sudah 2 tahun lalu berdiri. Lampunya redup tapi cahaya alami dimushola itu seakan tak ada habisnya menerangi jalanan didepanya, bukan karena lampunya tetapi karena Allah yang selalu menerangi setiap baitN ya.             Mungkin inilah cahaya yang selalu Allah jajikan untuk setiap tempat dimana ada orang-orang yang mau bersujud kepadaNya.             Langit begitu cerahnya menyajikan jutaan bintang sebagai wujud keagungaNya, pelan suara syair Ilahi senada mengalun lirih dari seorang muda, sendiri.. beberapa saat keamudian dia beranjak, “Allah....huakbar Allah....huakbar..” suaranya melengking keras dengan speaker ...