Langsung ke konten utama

TOBAT

 TOBAT

Oleh: Khoirul Walid*

Suara adzan dzuhur membuatku menghentikan langkah panjang yang telah aku lakukan, suara adzan di Mushola kecil dipinggiran kota Semarang itu seakan mampu memanggilku, padahal tak seharusnya aku menghiraukanya, seperti beberapa tahun lalu, saat mata ini tertutup oleh kemilaunya harta dan kedudukan, rumah, mobil, jabatan, uang, dan semuanya.. huh!!!! aku kira semua itu sudah pernah aku rasakan, tapi… ah.. sudahlah aku bukan yang dulu..

Air wudlu membuatku lebih bertenaga lagi, Suhanallah seharusnya aku sadar dari dulu bahwa wudlu itu membuat semangat yang tak terbatas, membangkitkan gairah untuk tetap hidup dan membuatku bersemanagat lagi, tapi kenapa dulu? aku selalu limpahkan kekesalan dan kepenatanku di café, diskotik bahkan meja judi..

Beberapa orang dimushola itu berjajar rapi, seakan membuat barisan yang kokoh dan kuat lebih kuat dari sekedar tembok beton rumahku..

Allahuakbar.. mataku terpejam tapi hatiku terbuka.. malu pada diriku, malu pada Tuhanku.. ingatanku tertuju pada beberapa bulan yang lalu saat seorang karyawanku meminta izin untuk melakukan sholat jamaah dimasjid,

"Buat apa? Apakah dengan sholat kamu bisa menjadi kaya?” bentakku padanya

”tapi pak ini sebuah kewajiban yang harus kami lakukan” dia mencoba menyanggahku

”ooo.. sekarang sudah berani melawan ya.. baik langkahkan kakimu kemasjid kumuh yang katamu tempat dimana Tuhanmu berada, aku akan pecat kamu..”

”maaf pak.. tapi tolong izinkan kami un...”

”Kamu saya pecat!!!!” bentakku pada mereka

Aku tahu saat itu hanya ada uang dikepalaku, tak ada yang lain, bagiku waktu adalah uang, sedetik tanpa kerja hanyalah akan membuat miskin.Tapi kini aku tahu kenapa semua orang berbondong bondong menuju masjid dan mushola ketika adzan berkumandang..

Ketik aku angkat kedua tangan ini dan kuteriakakn takbir Allahuakbar.. tanda sebuah kebesaranNya, aku baru sadar ada ihsan yang aku rasakan, seakan ada dzat yang melihatku, melihat kekotoranku, yang membuat aku malu tertunduk dan.. menangis..

Sujud aku lakukan bersimpuh padaNya berteduh diantara rahamatya.. kenapa baru sekarang aku lakukan padahal dulu aku selalu menertawakan semua orang yang melakukan ini, ”ha ha ha apa yang kalian lakukan? Menyembah sesuatu yang kalian sendiri tidak pernah melihatnya..” yaa Tuhan ampunilah aku yang kotor ini, aku tidak tahu bahwa ini yang harus aku lakukan dalam hidupku.. aku tak tahu bahwa dengan ini aku bisa sadar bahwa untuk apa aku hidup..

Setelah Sholat aku masih duduk bersama jamaah yang lain, aku ikut dzikir dan berdoa bersama mereka, karena kau yakin sesuatu yang dilakukan bersama itu lebih berpeluang sukses dari pada sendiri, apalagi aku.. tak ada artinya, tapi aku yaqin Tuhan pasti tak akan berpaling dari hambanya..

kemudian langkahku keluar dari rumah Tuhan yang indah ini lebih indah daripada rumah ku.. yang pastinya kotor walaupun puluhan pembantuku selalu membersihkanya tapi mereka tak akan pernah dapat membersihkan dosa dari keharaman barang barang dirumahku.

Kakiku pelan melangkah, aku terkejut ketika mendapat sandal yang aku bawa telah hilang.. kemana gerangan? Hampir aku terperosok pada nafsuku untuk mengambil sandal yang lain tapi yang ada hanya aku menyadari.. mungkin ini yang seharusnya aku terima, kehilangan.. karna aku yaqin sebuah sandal tak akan pernah dapat menggantikan milyaran dan triliunan harta yang aku korupsi dari pegawaiku.. hanya sandal huh.. kenapa tidak nyawaku saja yang diambil oleh mereka kenapa tidak nyawaku...

Kulangkahkan kakiku bersama orang orang yang tadi berjamaah, beberapa orang bertanya kepadaku, beberapa yang lain memberi tahuku bahwa mungkin sandalku diambil pengemis, aku hanya diam dan mengatakan kepada mereka behwa itu adalah hak mereka..

Aku teruskan langkahku.. kemana? Akupun tak tahu, yang jelas aku harus berjalan, meninggalkan semua yang aku miliki karena semua itu adalah wujud dari nafsu duniawi..

Ingatanku melayang pada beberapa hari yang lalu, ketika aku mengalami tabrakan saat aku pulang dari meja judi, ada seorang anak kecil yang menolongku, membawa aku kerumahnya dan merawat aku sampai sembuh. Tiga hari dirumah yang hanya dia dan adik kecilnya sendiri, rumah kecil yang kotor tapi bagiku rumah itu lebih nyaman daripada istanaku. Rumah itu selalu sejuk dan damai, tiap 5 waktu sehari anak itu selalu sholat dengan adiknya, mengajari ngaji adiknya dan selebihnya dia gunakan untuk mencari sesuap nasi dengan gitar kecil miliknya..

Andai saat itu aku bisa bicara pasti akan aku tanya kenapa, apa dan mengapa mereka menolongku, padahal sedikitun mereka tidak mengenalku, tapi aku tahu apa yang mereka lakukan adalah ihlas karena Tuhan, tiga hari dirumah itu membuatku sadar.. bahwa ada yang lebih berharga dari sekedar uang.. yaitu keihlas dan syukur menerima semua yang diberi Tuhan.

Tadi pagi.. ketika kesehatanku sudah pulih kuberi dia uang selembar ratusan ribu, tapi dengan halus anak 12 tahun itu menolaknya.. ”maaf pak, bukanya saya tidak mau menerima, tapi tolong jangan rusak keihlasan saya denag selembar unag itu, saya takut denagn uang itu ridlo Allah yang seharusanya kami dapatkan hilang. Lebih baik unang itu bnapak gunakan untuk naik taksi”

Hatiku perih mendengar semua itu, betapa malunya aku, aku yang kaya, aku yang kuat, aku yang menguasai, tunduk dan takluk dengan seorang pengamen kecil, aku sadar.. anak kecil itu dengan sebuah gitar keci mampu menghidupi adiknya, bahkan akupun hidup selama tiga hari dari keringat anak itu. padahal seharusnya aku yang menghidupi mereka. Ya Allah... ampuni aku..

Matahari sore tak menciutkan niatku untuk tetap berjalan, kemana? Biarlah angin yang membawaku entah kemana, sampai aku menemukan ketenangan hatiku.. sampai aku menemukan titik kosong dalam hidupku, biarlah hartaku hilang, biarlah rumah dan semuanya hilang.. aku tak peduli, yang jelas tekatku sudah bulat, Allah akan mengatakan padaku bahwa aku akan diampuni..

Langkahkupun terus berlanjut, hanya sesekali berhenti ketika adzan memanggilku, ketika malam melelapkan anganku, aku tak tahu kapan ahir dari semua ini, yang aku tahu adalah hembusan angin yang selalu membawa arah dan tujuan untuk diriku, yang aku tahu ketika angin itu berhembus dia selalu membisikkan bahwa Allah itu maha bijaksana dan maha pengampun,

Sampai mataku sayu sampai kakiku berat sampai nyawaku melayang, aku akan selalu berjal;an mencari nikmat yang pernah dijanjikan Allah untuk hambanya yang bertaubat.


hikmah:
Hidup cuma sekali! pergunakan sebaik mungkin dan jangn pernah disia-siakan, ini adalah makna yang tersirat dakam cerpen singkat diatas. 

Lebih daripada itu hikmah tersurat yang terkandung didalamnya adalah kedudukan, harta, istri cantik bahkan semua yang ada didunia ini semata mata adalah ujian yang Tuhan berikan kepada kita, bagi mereka yang dengan semua itu semakin taat dan semakin rendah diri maka dia lolos dari ujian yang Tuhan berikan namun bagi mereka yang menjadi sombong dan angkuh karena semua yang Tuhan beriakan tadi maka dia adalah orang yang gagal dalam menjalani ujian hidup.

Hikmah lain yang terdapat didalamya adalah kepedulian yang seharusnya dimiliki oleh para penguasa kepada rakyat kecil dengan tidak memakan apa yang seharusanya menjadi hak rakyat. kesadaran yang harusnya dimiliki adalah kesadaran religius seperti yang sudah dijelaskan di paragraf jedua tadi.

Cerpen ini saya dedikasikan untuk para koruptor dan penguasa yang telah bertaubat, Semoga Tuhan memberi jalan terbaik untuk kita semua...................

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di BlogCamp

Postingan populer dari blog ini

(cerpen) maafkan aku yang pergi meninggalkanmu

oleh Jaka Tarub pada 29 November 2010 jam 18:40 reQuest dari Aziza Little Maganda Masih pagi sekali, udara masih sejuk kabut guung telomoyo an merbabu masih melekat menyusup setiap sudut kota salatiga, kota kecil nan alami, indah nan menyegarkan, matahari belum tampak, hanya saja sinar indahnya membuat kokok ayam terbangun subuh tadi, perlahan kabut mulai berganti menjadi embun yang menetes tiap daun tiap dahan juga rumput rumput dipinggiran jalan.. segar sekali langkah kaki pasti menyusuri jalan tentara pelajar penuh ksemangat untuk mencari cahaya masa depan, langkah kaki ang tak kunjung lelah, keringat masih tetap berselimut diantara baju usangnya, padahal waktu masih menunjukan pukul 06.00 tapi langkah kaki tak akan berhenti, semangat.. -- suasana kampus masih sepi, masjidpun sepi hanya beberapa satpam yang berpakaian apa adanya dan beberapa tukang kebun membersihkan sampah disekitar halaman, kampus mungil nan indah.. kampus yang menjajnjikan masa depan cerah, kampus y...

puisi (fitnah itu)

fitnah itu Aku memang bukan orang baik, Tapi tak seburuk itu kamu memperlakukanku Aku ini buaya Tapi aku ini tetap punya hati untuk mengukur kasih sayang Aku ini makhluq Allah Tapi bukan penyembah makhluk yang lain Andai aku salah Katakan padaku Jangan kau katakan pada orang yang tak tau menahu tetap saja perkataan itu tak baik untukku Coba ceritakan Dengan pelan dan penuh kebenaran Bukan tangisan yang seharusnya kau keluarkan Mraung raung, Sudahlah, aku sudah cukup untuk menerima semua ini, buatku semua Apa aku harus diam? Sabar dan hanya sabar? Atau aku harus berteriak mencoba meembenarkan Naifkah aku bila ku berkata benar Bodohkah aku bila aku tetap tersenyum? Huh. Aku kira aku akan melakukanya Berbuat yang benar Melakukan yang benar pula Agar aku tak disalahkan lagi, Menjadi kambing hitam dari semua kebohonganmu,

cerpen islami (ustadz muda itu..)

                ustadz muda itu...            Udara malam semilir menyapu dan menyapa mushola Al-Hidayah, mushola kecil dipinggiran kota Ungaran yang sudah 2 tahun lalu berdiri. Lampunya redup tapi cahaya alami dimushola itu seakan tak ada habisnya menerangi jalanan didepanya, bukan karena lampunya tetapi karena Allah yang selalu menerangi setiap baitN ya.             Mungkin inilah cahaya yang selalu Allah jajikan untuk setiap tempat dimana ada orang-orang yang mau bersujud kepadaNya.             Langit begitu cerahnya menyajikan jutaan bintang sebagai wujud keagungaNya, pelan suara syair Ilahi senada mengalun lirih dari seorang muda, sendiri.. beberapa saat keamudian dia beranjak, “Allah....huakbar Allah....huakbar..” suaranya melengking keras dengan speaker ...